Daerah  

Dugaan Perbuatan Tipikor Memenuhi Unsur, Anang GNPK Sebut Itu Korupsi

TROL, Sumenep – Dugaan tindak pidana korupsi memenuhi unsur, maka kelebihan transfer senilai puluhan juta oleh Dinas Kesehatan Sumenep ke pihak Hotel, membuat Hotel kaget. Namun saat pihak Dinkes meminta kembali cashback, pihak hotel menolak mencairkan dana transfer pembayaran ke rekening hotel tersebut lantaran pihak hotel khawatir akan terjadi masalah kemudian hari.

Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK) Sumenep Anang Endro Prasetyo mengkritik keras dugaan penyimpangan pembayaran ke pihak hotel.. sebab itu bukan lagi soal ada unsur mens rea (niat jahat) mau korupsi. Tapi sudah masuk actus reus (perbuatan melawan hukum), sudah ada unsur dugaan korupsinya, Senin (8/8).

“Karena korupsi itu kan Ekstra Ordinary Crime, Sebuah kejahatan luar biasa yang harus dilawan dengan cara yang luar biasa. Tapi ingat unsur-unsurnya harus terpenuhi. Diantara unsurnya ada orangnya, ada perbuatan melawan hukum, memperkaya diri dan ada kerugian Negaranya,”

Jadi, kata Anang, dengan Dinkes melakukan dugaan kelebihan transfer uang melalui transaksi non tunai. Sebab transfer itu tidak bisa ujuk-ujuk dilakukan. Transfer itu ada dua proses pencairan uang digunakan untuk apa, itu sudah ada.

“Jika dia mengeluarkan dana tidak sesuai peruntukannya, jelas-jelas melakukan tindakan yang janggal. Ada unsur perbuatan melawan hukum. Kalau pun sekarang uang ini masih ada, ya karena kebetulan penerimanya (hotel) tidak mau. Itu tidak bisa langsung diambil lagi,” pungkasnya.

“Seperti orang mau ngambil sapi atau sepeda motor terus ketangkap massa. Kan otomatis kendaraan tidak jadi dicuri berarti gagal mencuri. Apa itu tidak patut dihukum? Mestinya harus dihukum orang ini. Pidananya sudah ada. Tapi maaf ini bukan kewenangan saya,” cetus Anang.

Kata Anang, hal ini harus dibicarakan kepada pihak berwenang. Baik itu inspektorat maupun penegak hukum sudah bisa melakukan langkah proses penyelidikan. Setidaknya mereka sudah ada batu loncatan untuk mengusut, kenapa Dinkes melakukan dugaan pelanggaran itu.

“Ini sudah jadi bukti petunjuk awal yang harus ditindaklanjuti. Ini bagian pelajaran bagi yang lainnya untuk berhati-hati didalam bekerja. Ini menunjukkan di dalam institusi Dinas Kesehatan terjadi dismanajemen,” katanya.

Menurut pria yang vokal ini, manajemen Dinkes itu amburadul. Kenapa? Pada saat ingin mentransfer pembayaran ke hotel, kenapa tidak koordinasi dengan KPA nya dulu? Ini disana sudah ada langkah-langkah individual. “Kalau orang pintar, dia bilang dulu ke pihak hotelnya. Nanti saya transfer, SPJ-nya jadi,, baru garap,” bebernya.
.
Masalahnya, kata dia, pihak Dinkes Sumenep mau mengakali. Seolah-olah dia keliru transfer lalu mau minta cashback. Wajar pihak hotel tidak mau. “Kalau ada cashback, SPJ-nya bagaimana? Kalau gak mau cashback, kenapa cashback itu mau diambil lagi. Dugaannya kan berupaya memalsukan SPj-nya. Tapi uang transfer itu tetap,” kata Anang.

Transfer itu, lanjut Anang, harus dibuktikan ada kode rekening. Transfer itu nanti kalau mau diambil harus ada juga berita acara penghapusan atas transfer tadi.

“Itu tidak bisa bilang transfer keliru, tapi SPj gimana? Ini nanti menjadi warning bahwa ASN lainnya juga bisa ikut-ikutan nyontoh perilaku melanggar. Kan tinggal dicek, bukti transferan itu kan ada di SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana), pencairan atau uang ditransfer itu untuk apa??” tandasnya.

Sebagaimana dilansir sebelumnya, Kadinkes Sumenep Agus Mulyono hanya memberikan pertimbangan. Pihaknya menunggu hasil audit BPK. “Jika itu dianggap sebuah kesalahan harus dituntaskan. Dan jika petunjuknya harus mengembalikan uang ke Kasda, silahkan dikembalikan,” kata Agus pada awak media. (hartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *