foto: jembatan ampera/unsplash
TROL,- Jembatan Ampera menjadi ikon Kota Palembang, Sumatra Selatan. Jembatan ini merupakan sarana untuk mobilitas warga antara kedua wilayah yang terpisah oleh Sungai Musi.
Keberadaan jembatan Ampera menandai berkembangnya pembangunan di Kota Palembang yang mulai terjadi setelah Indonesia merdeka.
Kronologi Pembangunan Jembatan Ampera
Ide membangun Jembatan Ampera sudah mencuat sejak tahun 1906. Saat itu, ide tersebut berkisar dalam membangun jembatan yang menghubungkan kedua wilayah terpisah, yakni di Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Memasuki 1924, gagasan untuk membangun jembatan ini baru ditindaklanjuti pada 1924. Hal ini dikemukakan oleh walikota Palembang, Le Cocq de Ville. Akan tetapi, sampai Le Cocq de Ville selesai menjabat, pembangunan jembatan baru ini tak kunjung terealisasi. Ide itu pun menguap saat Belanda sudah hengkang dari Indonesia.
Di masa pemerintahan Indonesia, sebuah rapat diadakan untuk merencanakan pembangunan jembatan di sungai Musi, Palembang. Rapat tersebut digelar pada 29 Oktober 1956.
Pembentukan panitia lantas terjadi pada 1957. Mereka dipimpin oleh Direktorat Perang Kodim IV/Sriwijaya Harun Sohar dan Gubernur Sumatera Selatan HA Bastari, serta didampingi juga oleh Walikota Palembang M. Ali Amin dan Indra Caya.
Masa Pembangunan Jembatan Ampera
Presiden Soekarno lantas mengizinkan pembangunan Jembatan Ampera yang terletak di bendungan 16 Ilir Palembang terus melintasi sungai Musi ke kawasan Ulu Terminal 7. Ini merupakan opsi pertama dari total tiga opsi calon lokasi jembatan.
Libatkan Pakar Dari Jepang
Akhirnya, sekitar April 1962, pembangunan Jembatan Ampera mulai dilakukan dengan panjang 1.171 meter dan lebar 10 meter. Jembatan Ampera pun terhitung sebagai jembatan terpanjang di masa itu.
Jembatan ini juga memiliki menara setinggi 45 meter. Kedua menara tersebut dapat diturun-naikkan, terutama untuk memberi ruang bagi lalu lintas kapal di sungai Musi.
Akhirnya, pada 10 November 1965, Jembatan Ampera diresmikan. Kala itu, Bung Karno tidak hadir langsung, tetapi diwakili oleh Jazid Bustomi yang jadi Gubernur Sumatra Selatan.
Memasuki tahun 1970, menara Jembatan Ampera yang sebelumnya bisa dinaikkan untuk memberi akses kapal sudah tidak berfungsi lagi hingga saat ini.
Refrensi:
– kompas.com
-Nike Aryanti, dkk, (2022), “Sejarah Jembatan Ampera sebagai Ikon Kota Palembang”, -Historia Madania, Volume 6(2), 139-146. Melisa, (2012), “Ampera dan Perubahan Orientasi Ruang Perdagangan Kota Palembang 1920an-1970an”, Lembar Sejarah, Lembaran Sejarah 9(1): 52–68











