foto: sungai way sekampung/kementerian PUPR
TROL, Tulungagung – Sungai Sekampung atau biasa disebut sebagai Way Sekampung adalah sungai terpanjang di Provinsi Lampung.
Sungai Sekampung memiliki hulu di kaki gunung Ridingan, Tanggamus dan bermuara di pesisir laut Jawa, Lampung Selatan. Panjang sungai ini mencapai 265 km dan luas daerah aliran sungai ini mencapai 5.675 km². Untuk memanfaatkan derasnya aliran sungai ini, pemerintah Indonesia membangun tiga bendungan di sepanjang aliran sungai ini, yakni Bendungan Batu Tegi, Bendungan Way Sekampung, dan Bendungan Margatiga.
Sungai ini mengalir di wilayah tenggara pulau Sumatra yang beriklim hutan hujan tropis. Suhu rata-rata setahun sekitar 26 °C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 28 °C, and terdingin Maret, sekitar 25 °C.
Legenda
Cerita rakyat Lampung, Sultan Domas adalah cerita yang mengisahkan tentang terciptanya sungai di daerah Lampung bernama Way Sekampung.
Diceritakan dahulu ada kota bernama Sukadana di daerah Lampung. Di sana tinggal seorang pemuda yang hidupnya serba kekurangan. Namanya adalah Domas.
Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Domas hidup dalam kemiskinan hingga sering dihina oleh penduduk desa sekitar. Karena itu dia jarang keluar dari gubug reyot tempat peninggalan bekas orang tuanya.
Untuk memenuhi kebutuhannya Domas mencari ikan di sungai tak jauh dari tempat dia tinggal. Ia tidur dibawah pohon dekat bekas gubugnya yang telah dibakar orang saat ia mencari kayu bakar.
Dalam mimpinya seorang kakek berkata padanya pergi ke arah selatan untuk menemukan sungai besar yang dikelilingi banyak pohon besar. Di sana dia bisa menetap dengan membuka ladang dan menanam sayur – sayuran.
Tak lama kemudian, Domas terbangun dan segera bergerak untuk mengikuti nasihat dari kakek yang ada dalam mimpinya tersebut. Dengan tekad bulat, di pagi hari ia pergi meninggalkan desanya melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju ke arah selatan.
Dia memutuskan untuk bermukim dan membuat gubug kecil. Lalu dia membuat ladang untuk ditanami sayur – sayuran. Di dalam persemediannya ia mendengarkan bisikan ghaib. Ia pun diberi kesaktian berupa pedang dan tongkat kayu berbentuk ular. Akhirnya ia dijuluki Sultan Domas.
Waktu pun berlalu, semakin lama banyak orang yang berkunjung dan bertemu dengan Sultan Domas. Mereka.Meskipun tetap ada saja orang yang iri dengannya dan berniat berbuat jahat.
Suatu hari datang lima orang laki-laki tidak dikenal masuk kedalam pondoknya, mereka hendak mencuri dua pusaka milik Sultan Domas. Di saat mereka sudah berhasil membawa dua pusaka itu tiba-tiba di depan pintu pondok muncul seekor ular raksasa yang menyemburkan api.
Karena mereka takut akhirnya mereka mencoba kabur lewat jendela akan tetapi dihadang oleh buaya raksasa. Saking takutnya mereka hanya bisa berdiam di dalam pondok Sultan Domas
Sampai akhirnya Sultan Domas kembali dan ia justru malah menjamu kelima orang tersebut layaknya seorang tamu. Mulut mereka terkunci tidak bisa berkata apa apa sampai akhirnya Sultan Domas mengucapkan salam kepada mereka. Barulah mereka dapat berbicara lagi.
Mendengar cerita tersebut banyak orang yang ingin bermukim di tempat Sultan Domas mendirikan pondok hingga menjadi sebuah pemukiman yang sekarang dikenal sebagai Way Sekampung. (*)











