Narsistik Bukan Sekadar Suka Diri

foto: ilustrasi/i-stock

 

TROL,- Banyak yang mengira narsistik itu percaya diri berlebihan, padahal ini bisa jadi gangguan kepribadian yang serius.

Istilah narsistik kini sering digunakan secara sembarangan di media sosial maupun percakapan sehari-hari. Orang yang rajin selfie, senang tampil, atau suka dipuji sering disebut “narsis” tanpa melihat konteks psikologis yang lebih dalam. Padahal, narsistik sebagai istilah psikologi merujuk pada sesuatu yang jauh lebih kompleks, bahkan bisa masuk kategori gangguan mental serius bernama Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Menurut data yang dirilis Rumah Sakit Ernaldi Bahar, NPD bukanlah tentang rasa percaya diri yang tinggi semata. Ini adalah gangguan kepribadian di mana seseorang memiliki rasa penting yang berlebihan, butuh kekaguman terus-menerus, dan kurang memiliki empati terhadap orang lain. Gangguan ini memengaruhi cara individu berpikir, merasakan, dan berperilaku, serta berdampak serius dalam hubungan sosial maupun kehidupan profesional.

Salah satu ciri utama dari penderita NPD adalah kebiasaan mendominasi pembicaraan. Mereka selalu mengarahkan obrolan ke topik tentang diri sendiri, dan merasa bahwa apa pun yang mereka alami lebih penting dari pengalaman orang lain. Ini bukan hanya tanda keegoisan biasa, melainkan pola yang terus berulang dan sulit dikendalikan.

Fenomena narsistik juga sering kali tertukar dengan rasa percaya diri. Padahal, seseorang yang percaya diri sehat akan tetap terbuka terhadap kritik dan tidak selalu merasa superior. Sebaliknya, orang dengan NPD sering kali tidak bisa menerima kritik sekecil apa pun. Mereka akan bereaksi defensif, marah, atau bahkan menyerang balik secara verbal jika merasa harga dirinya “terluka”.

Lebih dari itu, mereka bisa memiliki kecenderungan konsumtif yang tidak proporsional. Membeli barang-barang mewah yang tidak dibutuhkan bisa menjadi cara mereka menunjukkan status atau menarik perhatian. Dalam banyak kasus, mereka juga menggunakan relasi sosial hanya untuk kepentingan pribadi, tanpa rasa bersalah. Eksploitasi hubungan ini bisa berujung pada keretakan sosial yang lebih luas.

Dalam dunia psikologi, NPD diklasifikasikan dalam Cluster B Personality Disorders bersama dengan Borderline, Antisocial, dan Histrionic Personality Disorder. Diagnosa resmi hanya bisa ditegakkan oleh tenaga profesional, melalui asesmen klinis yang mendalam. Namun, masyarakat umum perlu memahami gejala-gejala dasarnya untuk mencegah stigmatisasi ataupun kesalahpahaman.

Sayangnya, dunia digital hari ini justru memperkuat perilaku narsistik. Platform seperti Instagram dan TikTok, dengan sistem validasi berbasis “like” dan komentar, bisa menjadi lahan subur bagi perilaku narsistik berkembang. Menurut studi dari American Psychological Association, pengguna media sosial yang aktif menunjukkan kecenderungan narsistik lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang terlibat di dunia maya.

Namun, tidak semua yang aktif di media sosial adalah penderita NPD. Ada garis halus yang membedakan antara seseorang yang hanya senang berbagi pencapaian dan mereka yang memiliki gangguan narsistik. Perbedaannya terletak pada motif dan dampaknya terhadap relasi sosial.

Dampak dari NPD tidak hanya dirasakan oleh penderitanya, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam hubungan romantis, misalnya, individu dengan gangguan ini sering kali memanipulasi pasangan, membalikkan fakta, atau menciptakan ilusi bahwa hanya mereka yang paling benar. Dalam lingkungan kerja, mereka bisa menyingkirkan rekan secara halus hanya demi tampil unggul.

Dari sisi ekonomi dan sosial, fenomena narsistik juga bisa merembet ke perilaku konsumtif yang berdampak besar. Di era kapitalisme modern, konsumsi barang mewah bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk mendapatkan pengakuan sosial. Hal ini diperparah oleh sistem pemasaran digital yang mempromosikan gaya hidup glamor sebagai standar keberhasilan.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang dengan gejala NPD tidak sadar bahwa mereka mengalami gangguan. Ini karena narsistik sering kali dilindungi oleh lapisan pembenaran diri yang sangat tebal. Mereka percaya bahwa mereka memang layak dipuja, bahwa kegagalan adalah kesalahan orang lain, dan bahwa kritik adalah serangan pribadi.

Penting bagi masyarakat untuk tidak serta-merta melabeli orang lain sebagai “narsis” hanya karena gaya bicara atau cara berpakaian mereka. Ini bukan hanya tidak adil, tapi juga mengaburkan pemahaman publik tentang gangguan mental yang sebenarnya. Alih-alih menyudutkan, pendekatan yang tepat adalah dengan edukasi dan dukungan kesehatan mental.

Tenaga medis seperti psikolog dan psikiater memiliki peran penting dalam membantu individu yang mengalami gangguan ini. Terapi kognitif-perilaku (Cognitive Behavioral Therapy), misalnya, bisa membantu penderita mengelola rasa harga diri yang rapuh dan memperbaiki pola pikir yang tidak realistis.

Namun, upaya penanganan juga harus didukung oleh kebijakan publik. Literasi kesehatan mental harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, kampanye digital, hingga layanan konsultasi gratis di puskesmas atau rumah sakit pemerintah. Masyarakat juga perlu diajak memahami bahwa gangguan kepribadian bukanlah kutukan, melainkan kondisi medis yang bisa ditangani jika dikenali sejak dini.

Sebagai penutup, kita perlu menyadari bahwa Narcissistic Personality Disorder bukan soal foto selfie atau orang yang suka tampil di depan umum. Ini adalah kondisi psikologis serius yang berdampak pada banyak aspek kehidupan seseorang. Stigmatisasi hanya akan membuat penderita semakin menjauh dari bantuan yang mereka butuhkan.(penulis – astri nurfianti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *