foto: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I.
TROL, – Rentang sepuluh tahun terakhir, lanskap sosial dan teknologi telah mengalami perubahan yang telah mengubah cara manusia berinteraksi, belajar, dan membangun makna. Dengan internet berkecepatan tinggi, media sosial, AI, dan perangkat mobile, generasi baru memiliki fitur yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Anak-anak yang lahir sekitar tahun 2010 ke atas dan tumbuh dalam ekosistem digital sejak usia dini, menjadikan layar sebagai medium utama untuk memperoleh informasi, hiburan, dan pembentukan identitas diri. Generasi ini dikenal sebagai Generasi Alpha.
Pendekatan konvensional semata tidak dapat lagi bertahan dalam pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Guru tidak hanya harus menyampaikan materi di kelas nyata; mereka juga harus menjadi penganjur, motivator, dan content creator pendidikan. Mereka harus dapat menggunakan platform digital secara inovatif untuk membuat dan menyebarkan materi pembelajaran. Nilai-nilai pendidikan, terutama nilai-nilai Islam, harus dipertahankan relevan dan dapat diterima oleh Generasi Alpha. Transformasi ini lebih dari sekedar kebutuhan teknis.
Generasi Alpha dikenal sangat visual, menyukai interaksi, cepat bosan dengan teks panjang, dan terbiasa dengan informasi instan. Mereka belajar melalui video pendek, permainan interaktif, simulasi, dan konten multimedia yang menarik. Platform seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan aplikasi pembelajaran digital telah berubah menjadi tempat belajar informal yang lebih sering diakses daripada buku teks atau ceramah yang panjang. Dengan rentang perhatian (attention span) yang relatif pendek, Generasi Alpha memiliki kemampuan psikologis untuk memproses banyak data sekaligus. Mereka terbiasa dengan algoritma yang menyesuaikan minat pengguna dan menyesuaikan konten. Ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi guru karena pendekatan pembelajaran lama dapat ditinggalkan, dan kesempatan karena guru dapat memanfaatkan platform yang sama untuk memasukkan konten pendidikan yang bermakna. Pendekatan dakwah dan tarbiyah yang adaptif diperlukan untuk karakter Alpha. Metode satu arah untuk menyampaikan nilai fikih, akhlak, dan tauhid tidak lagi efektif. Agar pesan keislaman hadir dalam format yang dekat dengan kehidupan sehari-hari orang, diperlukan kreativitas pedagogis.
Istilah content creator lebih sering dikaitkan dengan influencer, selebritas media sosial, dan pelaku industri kreatif. Namun, sejak lama, guru telah menjadi pembuat konten dalam pendidikan, membuat materi ajar, modul, LKS, dan media pembelajaran. Perbedaannya sekarang adalah konten harus diubah menjadi format digital dan didistribusikan melalui platform online. Dengan menjadi content creator pendidikan, guru memiliki kemampuan untuk membuat konten pembelajaran yang informatif, edukatif, inspiratif, dan relevan dengan kebutuhan siswa. Konten dapat berupa video pembelajaran singkat, podcast, infografis, animasi, kuis interaktif, atau narasi reflektif yang diposting di media sosial atau sistem manajemen pembelajaran (LMS). Peran ini sejalan dengan konsep tabligh dan ta’lim, yang berarti menyampaikan ilmu dengan cara yang paling efektif dan dengan hikmah. Al-Qur’an sendiri menegaskan betapa pentingnya menyampaikan ajaran dengan cara yang bijaksana dan sesuai dengan konteks orang yang dituju.
Oleh karena itu, memiliki akses ke platform digital merupakan upaya pedagogis untuk mempertahankan misi keilmuan dan keislaman daripada melakukan komersialisasi pendidikan.
Secara nyata, banyak pendidik di Indonesia yang telah menggunakan platform ini. Guru-guru madrasah membuat video singkat tentang tajwid, kisah nabi, atau adab sehari-hari dengan gaya yang ringan dan visual yang menarik. Sekolah pendidikan Islam menggunakan Instagram Live dan podcast untuk membahas masalah keislaman modern seperti moderasi beragama, etika digital, dan fiqh media sosial. Penggunaan YouTube sebagai alat pembelajaran selama pandemi COVID-19 adalah contoh bukti tambahan. Banyak guru Pendidikan Agama Islam (PAI) membuat situs web pribadi di mana ceramah, diskusi, dan evaluasi pembelajaran dapat diunggah. Praktik ini menunjukkan bahwa, meskipun pada awalnya bersifat mendesak, guru memiliki kapasitas yang luar biasa sebagai produsen konten edukatif jika mereka diberdayakan dan dibantu.
Tujuan utama pendidikan Islam adalah untuk menghasilkan insan kamil, yaitu orang yang memiliki kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang seimbang serta kesadaran spiritual yang kuat. Bagaimana tujuan besar ini diterjemahkan ke dalam konten yang singkat, visual, dan algoritmik tanpa kehilangan banyak nilai adalah masalah di era digital. Untuk membuat konten PAI, guru harus memiliki literasi digital dan literasi keislaman yang seimbang. Tidak hanya konten yang dibuat benar secara teknis, tetapi juga benar secara akademis dan moral. Di sinilah integritas guru sangat penting. Kemudahan peserta didik lebih penting daripada popularitas. Ulama dan pendidik Islam selalu menggunakan media yang relevan dengan masanya. Halaqah dan kitab menjadi media utama pada masa klasik, sementara buku cetak dan jurnal ilmiah mendominasi di era modern. Dengan demikian, media sosial dan platform online sekarang menjadi cara baru yang legal dan strategis untuk mengajarkan pendidikan Islam.
Peran guru sebagai pembuat konten selalu menantang. Pertama, ada kemungkinan bahwa materi akan disederhanakan terlalu banyak. Jika tidak dirancang dengan cermat, konten pendek dapat menghilangkan kedalaman konsep. Kedua, masalah etika di dunia digital. Agar tetap mencerminkan nilai-nilai Islam dan profesionalisme pendidik, guru harus mempertahankan adab, bahasa, dan teknik visual yang mereka gunakan. Ketiga, masalah dengan komersialisasi dan algoritma. Mungkin bertentangan dengan nilai edukatif karena platform digital sering mendorong konten visual untuk keterlibatan. Etika menjadi dasar pendidikan Islam. Dalam peran mereka sebagai pencipta konten, guru harus menanamkan niat yang murni (niyyah), menjadikan pendidikan dan dakwah sebagai tujuan, dan menghindari konten yang menyesatkan atau memecah belah umat.
Strategi penguatan kompetensi yang sistematis diperlukan agar guru dapat berfungsi dengan baik sebagai pencipta konten pendidikan. Pertama, pelatihan literasi digital yang berbasis pedagogi dan bukan hanya penggunaan aplikasi teknis. Kedua, dukungan kelembagaan dari sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Islam melalui kebijakan, fasilitas, dan penghargaan. Ketiga, kerja sama guru-siswa dan lintas disiplin. Guru PAI dapat bekerja sama dengan guru TIK atau desain grafis untuk membuat konten berkualitas tinggi. Keempat, memadukan kurikulum dengan pembelajaran berbasis proyek digital sehingga siswa tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga produsen konten akademik.
Mengubah guru menjadi pembuat konten pendidikan adalah kebutuhan strategis untuk menghadapi Generasi Alpha. Platform digital adalah medan pendidikan dan dakwah baru yang tidak boleh ditinggalkan. Transformasi ini harus dilakukan dalam pendidikan Islam dengan mempertahankan nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan spiritualitas. Guru yang bijak dalam menggunakan platform digital akan menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan realitas generasi masa depan. Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak hanya bertahan, tetapi juga berdaya saing, relevan, dan membantu membentuk generasi Alpha yang cerdas, berakhlak, dan beriman di era digitalisasi global. (*)
Opini Oleh: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I., M.A,Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe











