TROL, Tulungagung – Weton berasal dari sistem penanggalan Jawa kuno, yang merupakan hasil perpaduan beberapa budaya besar yaitu, Budaya Jawa asli (animisme–dinamisme), Hindu–Buddha dari India, dan Islam (terutama pada masa Kesultanan Mataram).
Kata weton berasal dari kata Jawa “wetu” atau “metu” yang berarti keluar/lahir, sehingga weton dimaknai sebagai hari kelahiran seseorang.
Perkembangan Penanggalan Jawa
Pada awalnya, masyarakat Jawa memakai kalender Saka (Hindu–India). Pada tahun 1633 M, Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram melakukan pembaruan besar: Menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah, Tetap mempertahankan sistem hari dan pasaran, dan Lahir kalender Jawa-Islam yang dipakai hingga sekarang.
Sejak saat itu, weton menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Jawa.
Sistem Hari dan Pasaran
Weton terdiri dari: 7 hari (Senin–Minggu) dan 5 pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon
Sistem 5 pasaran ini sudah ada sebelum masuknya Hindu–Buddha, dan dipercaya berkaitan dengan: Arah mata angin, Unsur alam, Energi kosmis. Perputaran 7×5 menghasilkan 35 weton.
Weton dalam Primbon Jawa
Pengetahuan tentang weton terdokumentasi dalam Primbon Jawa, yaitu kumpulan naskah kuno yang berisi: Watak manusia, Rezeki dan nasib, Kecocokan jodoh, Hari baik dan hari pantangan, serta Pertanian, perdagangan, hingga kepemimpinan.
Primbon tidak dianggap sebagai ramalan mutlak, tetapi sebagai panduan hidup tradisional.
Fungsi Weton dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Sejak dahulu hingga kini, weton digunakan untuk: Menentukan hari pernikahan, Mencari kecocokan jodoh, Menentukan hari pindah rumah, Menentukan hari membuka usaha, Selamatan weton (peringatan hari lahir setiap 35 hari).
Weton dan Spiritualitas
Dalam kepercayaan Jawa setiap weton memiliki energi dan karakter. Ada hubungan antara manusia, alam, dan waktu. Weton sering dikaitkan dengan laku spiritual seperti tirakat dan doa.
Hal ini mencerminkan filosofi Jawa: “Manunggaling kawula lan Gusti”
(keselarasan manusia dengan Tuhan dan alam).
Weton di Era Modern
Saat ini weton lebih banyak digunakan sebagai warisan budaya. Dipelajari sebagai bagian dari identitas Jawa. Dipadukan dengan agama dan logika modern. Tidak lagi dianggap menentukan takdir secara mutlak.
Filosofi dan Karakter
Setiap pasaran memiliki makna spiritual, psikologis, dan sosial. Pasaran ini bukan hanya penanda hari, tetapi juga panduan hidup dan karakter manusia.
1. Legi (Neptu 5)
Makna harfiah: Manis, lembut, menyenangkan.
Filosofi dan simbolisme: Melambangkan kelembutan hati dan keseimbangan emosi. Dihubungkan dengan sifat harmonis, ramah, dan penyabar.
Orang yang lahir pada pasaran Legi dianggap mudah beradaptasi, disukai orang banyak, dan memiliki rezeki yang stabil.
Pesan hidup Legi: “Hidup dengan kelembutan hati akan membawa kebahagiaan dan hubungan yang harmonis.”
Ciri watak: Sabar, pengertian, lembut, komunikatif. Cocok menjadi mediator atau penengah konflik.
2. Pahing (Neptu 9)
Makna harfiah: Pahit, keras, tegas.
Filosofi dan simbolisme: Melambangkan kekuatan, keteguhan, dan tantangan hidup.
Orang Pahing memiliki karakter berani menghadapi kesulitan dan tegas dalam mengambil keputusan. Rezeki biasanya diperoleh melalui kerja keras dan keberanian mengambil risiko.
Pesan hidup Pahing: “Hidup itu tidak selalu manis; kesulitan menguatkan karakter dan membentuk keberanian.”
Ciri watak: Tegas, ambisius, pemberani, kadang keras kepala. Potensi menjadi pemimpin yang berani dan visioner.
3. Pon (Neptu 7)
Makna harfiah: Keseimbangan, stabil, cermat.
Filosofi dan simbolisme: Pon melambangkan kestabilan dan kebijaksanaan.
Orang Pon dikenal tenang, berpikir matang, dan dapat dipercaya. Rezeki dan keberhasilan diperoleh melalui perhitungan yang cermat dan konsistensi.
Pesan hidup Pon: “Ketenangan pikiran dan kehati-hatian membawa keberhasilan yang berkelanjutan.”
Ciri watak: Bijaksana, setia, pemikir. Cocok menjadi penasehat, guru, atau pekerja yang membutuhkan ketelitian.
4. Wage (Neptu 4)
Makna harfiah: Netral, sederhana, pendiam.
Filosofi dan simbolisme: Melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan ketekunan.
Orang Wage cenderung pendiam, setia, dan telaten, sering sukses lewat kerja konsisten. Rezeki datang pelan tetapi stabil.
Pesan hidup Wage: “Kesederhanaan dan ketekunan adalah kunci hidup yang harmonis dan bebas konflik.”
Ciri watak: Sabar, jujur, tekun. Cocok untuk pekerjaan rutin, usaha yang stabil, atau kegiatan sosial.
5. Kliwon (Neptu 8)
Makna harfiah: Misterius, spiritual, kuat.
Filosofi dan simbolisme: Kliwon identik dengan aura spiritual, intuisi tinggi, dan pengaruh mistis.
Orang Kliwon sering memiliki wibawa, karisma, dan kemampuan melihat hal-hal yang tidak tampak.
Rezeki dan kesuksesan terkadang datang melalui keberuntungan atau intuisi, bukan semata kerja keras.
Pesan hidup Kliwon: “Hargai intuisi dan kekuatan spiritual; dengan kesadaran batin, hidup menjadi penuh makna.”
Ciri watak: Berwibawa, intuitif, sering menjadi pusat perhatian. Cocok untuk bidang spiritual, kepemimpinan, atau seni.
Makna Keseluruhan
Legi: Kelembutan dan harmoni
Pahing: Keteguhan dan keberanian
Pon: Kestabilan dan kebijaksanaan
Wage: Kesederhanaan dan ketekunan
Kliwon: Intuisi dan spiritualitas
Jika dihubungkan, pasaran mengajarkan keseimbangan hidup lembut tapi tegas, bijak tapi sederhana, dan spiritual tapi realistis. (*)
#dari berbagai sumber











