TROL, Kreung Geukuh – Sebuah peti kemas berwarna kusam terparkir tenang di Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara, Sabtu siang. Di balik dinding besinya, beras, mi instan, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lain tersusun rapi—menunggu perjalanan panjang menuju pegunungan yang hingga kini masih sunyi dari kepastian pulang. Minggu (28/12)
Logistik itu merupakan bantuan dari PT Kencana Hijau Bina Lestari untuk warga terdampak banjir di Bener Meriah dan Takengon, dua wilayah yang paling lama terisolasi pascabencana hidrometeorologi. Bantuan diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), diwakili Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBA, Abdul Aziz S.H.,M.S.i
Namun, di balik prosesi serah terima yang singkat, terselip kisah yang lebih panjang—tentang warga yang belum meninggalkan tenda, jalan yang belum sepenuhnya terbuka, dan kehidupan yang belum benar-benar kembali normal.
Mayjen (Purn) TNI Sunarko, yang menyerahkan bantuan mewakili pimpinan perusahaan, menyebut perjalanan dari Banda Aceh menuju Lhokseumawe masih menyisakan kegelisahan. Sepanjang jalan, ia melihat tenda-tenda pengungsian berdiri di pinggir ruas jalan, anak-anak bermain di tanah lembap, serta ibu-ibu memasak dengan peralatan seadanya.
“Masih banyak warga yang bertahan di tenda. Ini pertanda bahwa kepedulian belum boleh berhenti,” kata Sunarko.
Menurut dia, banjir kali ini bukan sekadar peristiwa alam. Di sejumlah daerah, terutama Aceh Tamiang, air tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga menghapus sumber penghidupan. Kebun sawit, ladang, dan peralatan kerja hilang tersapu arus.
“Yang selamat pun kehilangan segalanya. Setelah banjir surut, mereka masih harus hidup,” ujarnya.
Bantuan yang Harus Menanjak
Bagi warga di Bener Meriah dan Takengon, bantuan tidak cukup hanya tiba di pelabuhan. Logistik harus menanjak menembus pegunungan, melewati jalan yang longsor dan terputus. Jalur darat, di sejumlah titik, hanya bisa dilalui sepeda motor dan kendaraan khusus dengan risiko tinggi.
Helikopter menjadi salah satu pilihan utama untuk menjangkau desa-desa yang masih terisolasi. Namun keterbatasan armada dan tingginya biaya membuat distribusi bantuan tak selalu secepat harapan warga di pengungsian.
“Helikopter memang ada. Tapi jalan darat tetap harus dibuka. Kalau tidak, warga akan terlalu lama menunggu,” kata Sunarko.
Ia berharap, alat berat segera dikerahkan untuk membuka akses, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga dengan dukungan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Aceh. Jalan yang terbuka, kata dia, bukan semata jalur logistik, melainkan jalan pulang bagi ribuan warga.
Dibalik Angka dan Dus
Bantuan yang disalurkan hari itu tercatat rapi: beras, mi instan, minyak goreng, gula, makanan kaleng, popok balita, hingga pembalut wanita. Namun di pengungsian, bantuan sering kali berubah menjadi cerita sederhana—sepiring nasi untuk dibagi bersama, mi instan untuk menahan lapar, atau popok yang membuat seorang ibu bisa bernapas sedikit lega.
Sunarko mengingatkan, perhitungan kebutuhan tak bisa dilakukan dari kejauhan. Bupati, camat, hingga kepala desa adalah pihak yang paling mengetahui berapa lama warga harus bertahan dan apa yang paling mereka butuhkan—hari ini, minggu depan, atau bahkan bulan depan.
Menunggu Diantara Gunung
Bagi warga di pegunungan Aceh Tengah dan Bener Meriah, waktu berjalan lebih lambat. Jalan belum sepenuhnya terbuka, rumah belum bisa ditempati, dan hidup masih bergantung pada bantuan yang datang bertahap.
Peti kemas di pelabuhan mungkin terlihat penuh. Namun bagi mereka yang menunggu di balik gunung, harapan baru benar-benar tiba saat bantuan sampai di tangan—dan jalan pulang akhirnya terbuka. (Yusrizal)











