Jembatan Kaliketek(foto:istimewa)
Oleh : Adi – wartawan Trans Indonesia
TROL, Jembatan Kaliketek Bojonegoro menyimpan sejarah panjang tentang rekam jejak peninggalan Belanda. Jembatan itu menjadi salah satu penghubung dimasa lalu antara Tuban yang merupakan daerah pelabuhan dengan daerah-daerah di selatan yang masih berupa hutan belantara.
Aksesnya yang membelah Bengawan Solo menjadikan Belanda memikirkan cara bagaimana memobilisasi kekayaan alam dari Bojonegoro dan sekitarnya ke pelabuhan di Tuban.
Pemerhati sejarah Bojonegoro Djony Susanto mengungkapkan, berdasarkan catatan sejarah yang ada jembatan Kaliketek itu dibangun selama tiga tahun pada 1916 hingga 1919.
“Kemudian ketika Jepang masuk Bojonegoro dirusak sendiri oleh Belanda,tujuanya agar Jepang tidak bisa leluasa masuk Bojonegoro. Belanda mencoba merusak jembatan sisi selatan, itu ada bagian jembatan yang berbeda,” ucap Djony.seperti diberitakan celebrity.id
Nama Kaliketek sendiri diambil dari sebuah nama sungai kecil sesuai peta era masa kolonial Belanda. Sungai ini bermuara ke sungai Bengawan Solo dan berada di timur jembatan Kaliketek yang ada saat ini.
Bahkan demi menjaga keamanan sekitar area sungai bengawan Solo, Jepang membangun semacam benteng kecil di kiri dan kanan jalan jembatan Kaliketek.
Memiliki 2 lajur,masing-masing lajur memiliki kurang lebih lebar 6 meter, dengan total lebar lajur sekitar 12 meter. Sementara panjang jembatan baru sisi barat diperkirakan sekitar panjang 800 meter.
Jembatan peninggalan Belanda memiliki lebar lebih sempit. Kurang lebih lebarnya sekitar 6 meter, itu pun di tengah lajur jembatan dulunya terdapat rel kereta api yang menghubungkan antara Bojonegoro dengan Tuban.
Kendati sudah ada jembatan baru, suasana mistis dan menyeramkan masih terlihat di lokasi. Apalagi saat malam tiba, dengan suasana gelap dan penerangan sekitar jembatan kurang. Belum lagi tiupan angin dan suara arus sungai bengawan Solo yang ada di bawah jembatan membuat bulu gidik merinding.
Perasaan menakutkan kian terasa saat kendaraan besar seperti truk dan bus besar melintas, yang membuat jembatan bergetar karena getaran beban kendaraan yang melintas.
Konon makhluk tak kasat mata memang menghuni lokasi sekitar jembatan. Banyaknya tanaman liar yang tumbuh kian membuat jembatan ini tampak mistis di malam hari.
Apalagi residu energi jembatan di masa penjajahan Belanda kian terasa. Pengamatan tak kasat mata, sejumlah teriakan dan suara rintihan yang menjadi residual energi di masa lalu, masih terasa.
Konon di masa lalu Jembatan Kaliketek memakan tumbal akibat pembangunan di masa Belanda.
Jembatan Kaliketek ini konon juga menjadi saksi bisu sejumlah pembantaian saat peperangan antara pasukan Belanda dengan masyarakat Bojonegoro yang dikomandoi Lettu Suyitno di masa Agresi Militer usai kemerdekaan. Saat masa revolusi tragedi pembantaian orang – orang yang diduga ikut PKI di tahun 1965 lantas dibuang di sungai bengawan Solo, konon juga menjadi bagian dari residual energi yang kuat.
Sosok yang melegenda tentu saja siluman buaya putih yang konon kerap kali menarik manusia untuk masuk ke sungai bengawan Solo. Sosok ini kerap kali muncul di sungai yang konon beberapa kali sempat terlihat oleh warga setempat.
Selain itu, sosok perempuan berpakaian putih kerap kali menampakkan diri di Jembatan Kaliketek sisi timur. Tak jarang makhluk tak kasat mata ini juga kerap kali mengaburkan pandangan pengendara jalan sehingga membuat kecelakaan.
Sosok siluman makhluk tak kasat mata juga terlihat di atas jembatan yang membuat energi jembatan kian kuat. Tak jarang suara sosok ini terdengar seperti suara eraman yang membuat bulu gidik merinding. Sosok ini menjadi penguasa dan yang mendominasi di sekitar area jembatan.
Pemerhati sejarah Bojonegoro R. Ngastasio Kertonegoro mengakui banyaknya residu energi dari makhluk tak kasat mata yang ada di area jembatan Kaliketek. Dimana sosok yang muncul salah satunya buaya putih yang berada di bawah jembatan Kaliketek sisi timur.
“Diatas jembatan seperti kayak jin wujudnya binatang bermain di atas jembatan. Sungainya lebih banyak aktivitas bangsa jin dari jembatan yang sebelah timur, terus ada sudut sebelah barat di dekat sirkuit dulu,” kata Ngastasio.
Residu kuat juga terasa di sisi utara bagian barat, tepat di bekas lokasi yang pernah digunakan sebagai sirkuit motorcross yang kini dimanfaatkan menjadi tempat pemakaman umum.
“Aktivitas bangsa jin, di bawah jembatan peristiwa masa lampau, bumi mengandung suatu energi. Ketika beraktivitas diserap oleh bumi sehingga timbul energi metafisik,” ujar dia.
Hal ini yang diduga kuat menjadi ‘daya tarik’ seseorang memilih bunuh diri di jembatan Kaliketek. Tercatat memang di sepanjang 2022 saja sudah ada tiga upaya bunuh diri yang terjadi di Jembatan Kaliketek.
Pertama saat Jumat 4 Februari 2022 dimana seorang ibu yang menggendong bayi berupaya melompat dari jembatan Kaliketek di sisi selatan. Kedua pada Minggu sore 13 Februari 2022 dimana seorang bocah sekolah dasar (SD) yang berupaya melompat ke arah sungai bengawan Solo. Beruntung keduanya berhasil digagalkan pengendara jalan yang melintas yang langsung menariknya dari sisi jalan di jembatan.
Terakhir pada 30 April 2022 lalu dimana ada seorang bidan perempuan yang nekat melompat ke sungai bengawan Solo dari jembatan Kaliketek. Wanita yang tengah hamil 8 bulan ini sempat terseret derasnya arus Sungai Bengawan Solo, namun aksi cepat penambang pasir yang ada di sekitar jembatan membuat nyawanya selamat kendati akhirnya harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo.
Tetapi Ngastasio menegaskan, selama melintasi jembatan dengan berhati-hati dan berdoa. Hal ini mampu mencegah adanya kecelakaan dan kejadian yang tidak diinginkan.
“Memang sangat banyak aktivitas dari bangsa jin kita harus berhati-hati, pada diri sendiri dan jangan lupa berdoa untuk diri kita dan orang-orang yang meninggal di sekitaran Jembatan Kaliketek,” tukasnya.
Belum lagi, jika melihat terdapat sebuah pemakaman umum di utara jembatan tepat di sisi timur samping jalan, sebelum jembatan semakin menambah horor jembatan.
Namun, sejak beberapa tahun ini, jembatan yang baru ini memang sudah dilengkapi dengan pencahayaan lampu yang warna-warni pada malam hari, tentu pencahayaan malam ini untuk menghilangkan kesan mistis.











