foto: tim bpbd sragen/radarsolo/admad khairudin
TROL, Sragen – Kabupaten Sragen Jawa-Tengah seperti daerah lainya trus lakukan mitigasi bencana untuk mengurangi resiko. Hingga 2024 catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah bencana alam didominasi tanang longsor, angin dan banjir.
Mengutip esposin, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sragen, berdasarkan komplikasi data rekapitulasi kejadian bencana BPBD Sragen menunjukkan ada tiga bencana yang sering terjadi di Sragen, yaitu banjir, angin kencang atau puting beliung, dan longsor, kata Giyanto Sabtu (4/10).
Dari data tujuh tahun tahun terakhir, Giyanto menyebut ada 377 kejadian bencana, yang terdiri atas 151 bencana longsor, 156 bencana cuaca ekstrem berupa angin kencang atau puting beliung, dan 70 kejadian banjir, sebut dia.
Potensi bencana yang tinggi, lanjut Giyanto, Pemkab Sragen dituntut memiliki perencanaan penanggulangan bencana yang baik dan penanganan yang terarah dan terpadu. Upaya BPBD Sragen untuk merespons banyaknya potensi bencana tersebut, salah satunya dengan kajian risiko bencana.
“Potensi bencana di Sragen dipengaruhi kondisi geografis, topografi, geologi, hidrologi, iklim dan jenis tanahnya. Banjir merupakan salah satu bencana pada aspek kondisi hidrologi. Terjadinya banjir dipengaruhi besarnya debit curah hujan dan durasi hujan. Kejadian banjir juga ditentukan kemampuan sistem daerah aliran sungai (DAS) dalam menampung besaran debit curah hujan,” jelas Giyanto.
Dia mengatakan wilayah rawan banjir merupakan wilayah dengan topografi dataran rendah dan diikuti dengan curah hujan tinggi. Wilayah yang dimaksud Giyanto meliputi wilayah Masaran, Sidoharjo, Sragen Kota, Plupuh, Tanon, Gesi, Tangen, Jenar, Sukodono, Sambungmacan, dan Ngrampal.
Curah hujan yang tinggi tidak hanya mengakibatkan banjir tetapi juga berpotensi terjadi longsor di daerah-daerah dengan topografi pegunungan. Permukiman di dekat lereng-lereng pegunungan dan tebing bukit, kata Giyanto, menjadi daerah rawan longsor.
Bencana Hidrometeorologi
Giyanto berpendapat BPBD membutuhkan informasi jenis dan karakteristik tanah sebagai aspek penting dalam analisis longsor dan penanganannya. Dia mengatakan tanah yang mudah mengembang berpotensi terjadi rekahan pada musim kemarau.
“Saat musim hujan rekahan yang berada pada lahan berlereng akan menjadi pintu masuk aliran air sehingga menambah massa tanah yang kemudian mengakibatkan rawan longsor. Daerah rawan longsor berada di wilayah kawasan rawan gerakan tanah di antaranya Jenar, Tangen, Gesi, Sukodono, Mondokan, Sumberlawang, Miri, Sambirejo, Gemolong, Tanon, Masaran, dan Kalijambe,” jelas dia.
Bencana hidrometeorologi lain di kabupaten Sragen, lanjut Giyanto, berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat dan angin kencang atau disebut dengan bencana cuaca ekstrem.
Daerah rawan angin kencang terjadi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Sragen. Berdasarkan inventarisasi sejarah kejadian bencana dan potensi kejadian bencana, Giyanto mengungkapkan Sragen memiliki enam potensi bencana dengan indeks risiko tinggi dan sedang.
Giyanto menjelaskan hasil analisis Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) menunjukkan Sragen memiliki risiko tinggi untuk bencana banjir, sementara bencana cuaca ekstrem dan tanah longsor memiliki kelas risiko yang sedang. Analisis risiko yang dilakukan IRBI, Giyanto menyatakan Sragen masuk dalam kategori sedang dengan skor risiko 128,16.
Potensi Bencana dengan skor di Kabupaten Sragen
Kebakaran hutan dan lahan 27,51, Banjir 26,59 Tinggi, Kekeringan 18,34 Tinggi,Gempa bumi 16,51 Tinggi. Sementara, Cuaca ekstrem dan Tanah longsor 9,17 dengan skor sedang.
(Sumber: Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI), 2022. (trh)
Kejadian Bencana di Kabupaten Sragen 2024
BPBD mencatat sepanjang 2024, di kabupaten Sragen terjadi bencana angin kencang 43 kejadian, tanah longsor 21 kejadian, banjir 9 kali, rumah roboh 10 kajadian, Karhutla14 kejadian, Kekeringan 110 .
Dari peristiwa itu sebanyak 35.518 jiwa dengan kerugian material mencapai 2,35 miliar. (*)
(sumber : BPBD Sragen)











