TROL, Lhokseumawe – Sirene ambulance kini menjadi suara yang akrab di halaman rumah sakit di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Kota Langsa. Sejak banjir besar melanda wilayah ini, rumah sakit berubah menjadi ruang bertahan terakhir bagi warga—tempat harapan dan kecemasan bertemu.
Di RSU Cut Meutia Buket Rata, Lhokseumawe, Sabtu (27/12), instalasi gawat darurat nyaris tak pernah sepi. Warga dari berbagai kecamatan datang silih berganti, sebagian masih mengenakan pakaian pengungsian. Bau lumpur bercampur obat-obatan memenuhi ruangan, sementara tenaga medis bekerja tanpa jeda.
Keluhan pasien didominasi batuk, sesak napas, gatal-gatal, diare, serta luka akibat puing banjir. Lansia mendominasi ruang tunggu, duduk lemas ditemani keluarga. Jumlah anak-anak juga perlahan meningkat seiring lamanya masa pengungsian.
Kondisi diperparah dengan lumpuhnya sejumlah puskesmas di Langkahan, Blang Glumpang, Baktiya, dan Pante Bidari. Banyak fasilitas rusak dan obat hanyut terbawa banjir. Akibatnya, rumah sakit menjadi tumpuan utama layanan kesehatan.
Di RSU Cut Meutia Langsa, pengungsi dari Aceh Tamiang memenuhi lorong rumah sakit. Pada hari-hari awal pascabanjir, pasien datang tanpa henti, bahkan sebagian dirawat di tenda darurat karena keterbatasan ruang.
Kepala RS PT PN IV Cut Meutia Langsa, dr. Hanafi, mengaku khawatir dengan kondisi anak-anak di pengungsian.
“Kalau sebulan anak-anak hanya makan mi instan, ini bukan soal hari ini, tapi masa depan mereka,” ujarnya.
Saat puncak banjir, rumah sakit dengan kapasitas 144 tempat tidur itu harus menangani lebih dari 600 pasien. Para perawat bekerja dua kali lipat, meski sebagian dari mereka juga terdampak banjir.
“Tidak boleh ada pasien ditolak,” kata Hanafi.
Kisah lebih pilu datang dari RS Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak, Aceh Timur. Direktur rumah sakit, dr. Rita Rosti, menyebut hampir seluruh ruangan terendam banjir setinggi dada orang dewasa.
“Alat rusak, listrik mati, air bersih tidak ada,” katanya.
Ruang operasi, ICU, hingga instalasi oksigen lumpuh. Kini rumah sakit itu hanya mampu melayani sekitar 100 pasien rawat inap secara terbatas, dengan ratusan pasien rawat jalan datang setiap hari. Bantuan obat-obatan menjadi penopang utama.
“Kami juga manusia. Banyak tenaga medis kehilangan rumah dan harta,” ujar Rita. “Kami berharap ada perhatian untuk pemulihan trauma,” imbuhnya.
Sementara itu, RSU Cut Meutia Buket Rata Lhokseumawe tetap menjadi rujukan utama bagi pasien dari Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, hingga Bener Meriah.
Kabag Humas rumah sakit, dr. Hary Laksamana, mengatakan pada hari-hari tertentu jumlah pasien korban banjir nyaris mencapai ratusan orang.
Di balik kelelahan para tenaga medis, rumah sakit-rumah sakit di Aceh hari ini menjadi saksi perjuangan sunyi warga—berjuang pulih dari luka fisik, sekaligus trauma akibat bencana yang belum sepenuhnya usai. (Yusrizal)











