foto: gunung krakatau
TROL,Tulungagung – Dalam cerita legenda itu, disebut gunung Krakatau terbentuk dari guci yang ditinggalkan seorang raja di tengah-tengah pulau Jawa dan Sumatera.
Cerita legenda itu bermula ketika sang raja hendak membagi wilayah kekuasaan untuk anak-anaknya, tapi malah berakhir dengan tragedi.
Gunung Krakatau yang meletus pada 1883 dikenal sebagai gunung dengan letusan terkuat sepanjang sejarah.Suara letusanya terdengar hingga Australia Tengah yang berjarak 3.300 kilometer dari titik ledakan dan Pulau Rodriguez, kepulauan di Samudera Hindia yang berjarak 4.500 kilometer.
Letusan Gunung Krakatau itu pun menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling mematikan yang pernah terjadi.
Melansir Britannica, peristiwa itu memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 36 ribu orang.
Letusan tahun itu menyebabkan abu gunung Krakatau terlempar setinggi 50 mil (80 kilometer) ke udara.
Debit material letusan dari Krakatau begitu besar sehingga abu jatuh di area seluas sekitar 300 ribu mil persegi (atau sekitar 800 ribu kilometer persegi).
Sementara itu, pada 1927 letusan baru dimulai di bawah laut di kaldera Krakatau, sebuah kerucut naik ke permukaan laut pada tahun 1928, hingga pada tahun 1930 terbentuk pulau kecil yang disebut Anak Krakatau.
Legenda Munculnya Gunung Krakatau dan Selat Sunda
Konon, dahulu ada kerajaan yang dipimpin raja bernama Prabu Rakata. Saat itu, pulau Jawa dan Sumatera masih menjadi satu berupa daratan.
Prabu Rakata akan membagi wilayahnya secara adil kepada 2 anaknya.Yaitu bagian timur merupakan daerah kekuasaan Raden Sundana, sedangkan di bagian barat merupakan wilayah kekuasaan Raden Tapabaruna.
Kaputusan Prabu Rakata itu pun disepakati oleh kedua puteranya, kemudian sang raja pergi menyepi dengan membawa guci kesayangannya. Namun, sebelum Prabu Rakata kembali dari menyepi, justru perang telah terjadi di antara anak-anaknya.
Peperangan itu terjadi karena Raden Sundana menyerang kerajaan milik Raden Tapabaruna untuk merebut dan menguasai wilayah.Prabu Rakata pun segera kembali ke kerajaan, mengakhiri pertapaannya.
Marah dengan perbuatan anak-anaknya, Prabu Rakata memanggil keduanya. Lalu, ia meminta mereka untuk berdiri di kekuasaan wilayah masing-masing dengan pasukan di belakangnya.
Setelah itu, Prabu Rakata menyiram air dalam guci yang telah diisi air laut ke permukaan bumi, tepat di tengah-tengah kedua puteranya.
Sementara itu, guci kesayangan Prabu Rakata itu diletakkan di tengah-tengah. Dengan guci itu, cerita legenda ini menggambarkan daratan terbelah.
Bumi pun bergetar dengan hebat hingga membentuk celah jurang. Kemudian semakin bergetar yang rekahannya merambat ke arah utara dan selatan sampai keduanya bertemu di ujung laut utara dan selatan.
Sebuah selat pun terbentuk yang kemudian dinamakan Selat Sunda. Konon selat ini sebagai peringatan atas perbuatan putranya Raden Sundana.
Sementara itu, guci yang ditinggalkan oleh Prabu Rakata berubah menjadi gunung yang diberi nama Rakata atau yang dikenal Krakatau.(*)











