foto: lokasi terdampak banjir dari pantauan udara/trol/yusrizal
TROL, Banda Aceh — Hamparan genangan air bercampur lumpur ,sampah , kayu gelondongan, dan puing-puing bangunan menutup hampir seluruh permukiman warga,di wilayah Aceh Utara. Pemandangan memilukan itu terlihat jelas saat wartawan mengikuti pantauan langsung menggunakan helikopter bersama TNI Angkatan Udara dalam misi menyalurkan bantuan Selasa (16/12)
Dari ketinggian,Gampong, jalan penghubung, hingga pekarangan rumah tak lagi dapat dikenali. Kawasan yang sebelumnya padat hunian kini berubah menjadi lautan lumpur.
Pantauan udara menunjukkan sejumlah kawasan masih dalam kondisi terisolasi. Akses darat tertutup genangan air, lumpur tebal, dan timbunan material banjir, sehingga distribusi bantuan darat hampir mustahil dilakukan. Dalam kondisi ini, evakuasi dan penyaluran logistik hanya dapat dilakukan melalui jalur udara.
Banjir tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga melenyapkan seluruh harta benda. Bahkan, sejumlah warga mengaku tidak lagi mengetahui posisi rumah mereka karena seluruh area tertutup lumpur dan material kayu berukuran besar yang terbawa arus deras.
Nurmansyah,seorang wartawan melaporkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bahwa bencana banjir di Aceh layak dan mendesak untuk ditetapkan sebagai bencana berstatus nasional. Penetapan status nasional dinilai krusial karena dampak banjir sangat luas, melampaui kemampuan pemerintah kabupaten dan provinsi, serta membutuhkan kendali, anggaran, dan intervensi langsung dari pemerintah pusat.
Status nasional menjadi penting mengingat wilayah terdampak sangat luas, infrastruktur lumpuh total, ribuan warga terisolasi, dan risiko krisis kesehatan semakin meningkat, termasuk potensi jenazah yang belum tertangani akibat sulitnya akses evakuasi. Selain itu, roda ekonomi masyarakat berhenti total, memperparah beban sosial dan kemanusiaan.
Secara kemanusiaan, penetapan status bencana nasional dinilai sangat layak dipertimbangkan. Tanpa status nasional, penanganan dan bantuan berpotensi berjalan lambat dan tidak maksimal. Negara diharapkan hadir secara penuh, cepat, dan terkoordinasi untuk menyelamatkan warga serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Laporan ini disusun berdasarkan pengamatan langsung dari udara sebagai upaya menyampaikan kondisi nyata di lapangan kepada publik dan para pengambil kebijakan. Harapannya, respons negara dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan menyeluruh demi keselamatan serta pemulihan kehidupan masyarakat Aceh Utara dan wilayah terdampak lainnya di provinsi Aceh.(yusrizal)











