TROL, Tulungagung – Suasana tak biasa terjadi di ruas jalan Ngantru utara, kawasan jembatan Ngujang satu Tulungagung, pada Senin dini hari (5/10). Deretan sepeda motor dan mobil memadati sisi jalan, sementara puluhan hingga ratusan pemuda tampak berkumpul menantikan sebuah aksi yang disebut-sebut sebagai balap liar. Balap liar ini antara salah satu tim yang menamakan diri tim Tulungagung dan tim yang disebut asal Jawa Tengah.
Kondisi tersebut menjadi sorotan sebab tidak jauh dari Polsek Ngantru.
Seperti diketahui ruas jalan sebelah utara jembatan Ngujang satu sebagai ruas jalan beraspal yang tidak saja rata namun lebar yaitu ruas empat lajur
Sejumlah pemuda yang berada di lokasi kepada media ini mengaku datang bukan hanya dari Tulungagung, tetapi juga dari luar daerah. Mereka menunggu pelaksanaan balapan dengan lintasan sekitar satu kilometer.
Salah seorang yang mengaku bagian dari tim di Tulungagung menyebut balapan tersebut bukan kali pertama digelar. Menurut keterangannya, kegiatan itu merupakan balapan ulang dan sudah memasuki pelaksanaan ketiga.
Yang lebih mengejutkan, informasi yang dihimpun menyebut taruhan dalam balapan tersebut mencapai angka fantastis.
“Taruhannya sekitar 150 juta. Itu belum termasuk taruhan di luar yang sudah terkumpul sekitar 200 juta,” ujar sumber di lokasi kepada media ini.
Jika informasi tersebut benar, maka persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran lalu lintas atau kenakalan remaja. Aktivitas tersebut berpotensi menjadi persoalan serius karena melibatkan kerumunan massa, aksi balap di jalan umum, serta dugaan perjudian melalui taruhan dalam jumlah besar.
Dekat Polsek, Mengapa Baru Dibubarkan Dini Hari?
Pertanyaan publik semakin mengemuka karena lokasi kerumunan disebut berada tidak jauh dari Polsek Ngantru.
Bahkan, menurut keterangan sejumlah orang yang berada di lokasi, sempat terlihat kendaraan patroli melintas ketika massa masih berkumpul. Namun, mereka mempertanyakan mengapa aktivitas tersebut tidak segera dihentikan sejak awal.
Lebih serius lagi, seorang pemuda yang mengaku sebagai bagian dari kru sebuah bengkel balap di wilayah selatan Tulungagung justru menyampaikan pernyataan yang perlu mendapat klarifikasi aparat.
“Aman kok, Mas. Kita sudah dua kali balapan di sini dan kita sudah izin Polsek setempat, sudah kita kasih uang keamanan,” ujarnya.
Klaim tersebut tentu tidak bisa serta-merta dianggap sebagai fakta. Namun, pernyataan itu menjadi penting untuk diklarifikasi secara terbuka oleh pihak kepolisian.
Apalagi, sumber tersebut menyebut nominal “uang keamanan” mencapai dua digit.
Pertanyaannya sederhana: apakah benar ada pemberian uang kepada pihak tertentu untuk menjamin keamanan kegiatan balap tersebut? Jika benar, kepada siapa uang itu diberikan dan untuk kepentingan apa?
Sebaliknya, jika pernyataan tersebut tidak benar, maka aparat juga memiliki kepentingan untuk memberikan penjelasan agar tidak muncul persepsi bahwa kegiatan balap liar dapat berlangsung karena adanya pembiaran atau perlindungan dari oknum tertentu.
Jangan Sampai Pembiaran Menjadi Kebiasaan
Balap liar di jalan umum bukan sekadar tontonan. Ada pengguna jalan lain yang tidak pernah meminta terlibat dalam risiko tersebut.
Apalagi jika benar terdapat taruhan hingga ratusan juta rupiah. Besarnya uang yang dipertaruhkan berpotensi membuat peserta semakin nekat dan mengabaikan keselamatan diri maupun pengguna jalan lainnya.
Publik tentu berhak mempertanyakan bagaimana kegiatan dengan jumlah massa cukup besar dapat berlangsung di jalur utama, bahkan disebut sudah beberapa kali terjadi, tanpa penindakan sejak awal.
Jangan sampai masyarakat kemudian memiliki kesan bahwa hukum hanya bergerak setelah persoalan menjadi viral atau setelah kegiatan berlangsung berjam-jam.
Akhirnya Dibubarkan Tim Gabungan
Aksi balap tersebut akhirnya tidak berjalan sebagaimana rencana. Sekitar pukul 3.30 WIB, kegiatan dan kerumunan dibubarkan oleh personel Polres Tulungagung bersama tim gabungan.
Langkah pembubaran tersebut patut diapresiasi sebagai upaya mencegah risiko kecelakaan dan gangguan keamanan. Namun, pembubaran pada dini hari sekaligus menyisakan pertanyaan lain:
Mengapa massa dan kendaraan yang disebut sudah berkumpul sejak malam hari baru dibubarkan sekitar pukul 3.30 WIB?
Dan yang paling penting, siapa yang bertanggung jawab apabila benar terdapat pihak yang memberikan fasilitas, izin, atau bahkan menerima uang keamanan sebagaimana diklaim sejumlah pemuda di lokasi?
Media ini menegaskan bahwa seluruh informasi mengenai dugaan pemberian uang keamanan dan besaran taruhan tersebut masih berupa keterangan dari pihak yang berada di lokasi dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
Karena itu, Polsek Ngantru maupun Polres Tulungagung perlu memberikan klarifikasi agar informasi yang berkembang tidak menjadi bola liar di tengah masyarakat.
Jika tidak benar, bantahan dan penjelasan resmi tentu akan menjadi hak aparat.
Namun jika benar ditemukan adanya oknum yang membekingi atau menerima imbalan dari aktivitas balap liar, persoalannya jauh lebih serius. Sebab, bukan hanya keselamatan pengguna jalan yang dipertaruhkan, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.(oky)











