TROL, Tulungagung – Program bongkar ratoon tanaman tebu di Kabupaten Tulungagung mulai menunjukkan hasil. Pemkab Tulungagung bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menggelar panen perdana tebu hasil Program Bongkar Ratoon Tahun 2025 di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Rabu (7/10).
Panen perdana yang mengusung tema “Menuju Swasembada Gula Nasional” tersebut sekaligus digelar dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2026.
Lahan tebu yang dipanen memiliki luas 4,553 hektare. Tanaman tersebut ditanam pada Oktober 2025 dan kini telah berusia sekitar 12 bulan. Hasil panen diproyeksikan mencapai sekitar 90 ton tebu per hektare dan selanjutnya dikirim ke PG Modjopanggoong.
GM PG Modjopanggoong, Agus Budi Juwono, mengatakan program bongkar ratoon menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku bagi pabrik gula.
“Panen perdana yang kita laksanakan di Kebun Bolorejo ini seluas 4,553 hektare. Tanam pada Oktober 2025, sehingga kurang lebih sudah 12 bulan. Untuk taksasi produksinya sekitar 90 ton per hektare dan insyaallah hasilnya nanti akan dikirim ke PG Modjopanggoong,” ucapnya.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan tanaman tebu memiliki posisi strategis, bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai salah satu penopang perekonomian daerah.
Ia menyampaikan apresiasi kepada petani, penyuluh pertanian, kelompok tani, SGN/PG Modjopanggoong, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program bongkar ratoon.
“Para petani adalah pahlawan pangan yang telah bekerja keras menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas ekonomi di daerah kita,” kata Ahmad.
Menurutnya, salah satu persoalan dalam pengembangan tebu adalah masih adanya tanaman ratoon yang telah berumur tua sehingga produktivitasnya menurun. Karena itu, peremajaan melalui program bongkar ratoon diperlukan untuk memperbaiki kondisi tanaman sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
“Oleh karena itu program bongkar ratoon menjadi salah satu langkah penting untuk memperbarui tanaman sekaligus meningkatkan produktivitas lahan,” ungkapnya.
Ahmad menambahkan, keberadaan PG Modjopanggoong juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja di Tulungagung. Tidak hanya pekerja pabrik, tetapi juga sopir angkutan, tenaga penebang, dan pekerja di sektor pertanian.
“Kita bersyukur di Tulungagung ada pabrik gula. Penyerapan tenaga kerja bukan hanya di pabrik, tetapi juga sopir maupun tenaga kerja di sawah. Ini membantu meningkatkan perekonomian di Kabupaten Tulungagung,” imbuhnya.
Agus Budi Juwono menjelaskan, PG Modjopanggoong yang berdiri sejak 1852 kini telah berusia sekitar 174 tahun. Keberadaan pabrik gula tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi gula, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan ribuan tenaga kerja.
Selama musim giling 2026, PG Modjopanggoong mempekerjakan sekitar 650 karyawan. Operasional pabrik juga didukung sekitar 400 armada truk dan sekitar 3.000 tenaga penebang dari sejumlah daerah, termasuk Tulungagung, Blitar, dan Malang.
“Kalau kita menggiling sekitar 3.000 ton per hari, kebutuhan tenaga penebang bisa mencapai sekitar 3.000 orang. Jadi ekosistemnya cukup luas, tidak hanya karyawan pabrik, tetapi juga sopir, tenaga angkutan dan tenaga penebang,” jelas Agus.
Musim giling PG Modjopanggoong tahun ini berlangsung mulai 3 Juni hingga 25 Oktober 2026 atau sekitar 148 hari.
Agus berharap keberadaan PG Modjopanggoong dapat terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja dan aktivitas usaha yang berkaitan dengan industri gula.
“Semoga PG Modjopanggoong terus memberikan kontribusi terhadap masyarakat, khususnya dalam membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tulungagung,” harapnya.
Ketua Kelompok Tani Tani Unggul Desa Bolorejo, Dra. Endang Suwarti, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Dinas Pertanian, penyuluh, SGN/PG Modjopanggoong, Gapoktan, serta pihak lainnya sejak proses budidaya hingga panen.
“Atas nama panitia dan perwakilan petani, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dinas Pertanian, penyuluh pertanian, SGN dalam hal ini Pabrik Gula Mojopanggung, Gapoktan, serta seluruh unsur pendukung yang telah bekerja keras mengelola dan mendampingi kami dalam budidaya tebu,” tuturnya.
Endang menilai keberhasilan panen menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara petani, pemerintah, pabrik gula, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan komoditas tebu.
“Keberhasilan panen ini membuktikan bahwa kerja sama, gotong royong dan pendampingan yang baik mampu meningkatkan hasil dan produktivitas petani,” tandasnya.
Ia berharap program peremajaan tanaman tebu melalui bongkar ratoon maupun CPCL dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani.
“Dengan adanya program CPCL ini, mari kita manfaatkan dan gunakan semaksimal mungkin sehingga kita bisa mendapatkan produktivitas yang bagus,” pungkasnya.
Panen perdana tersebut menjadi bagian dari sinergi Pemkab Tulungagung, petani, penyuluh pertanian, kelompok tani, SGN/PG Modjopanggoong, APTI, APTRI, KTNA, dan berbagai unsur pendukung lainnya.
Program bongkar ratoon diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman, memperkuat pasokan bahan baku pabrik gula, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dalam mendukung target swasembada gula nasional. (jk)











