Opini  

Bupati Sumenep Raja PHP

foto Hartono pimpinan TransIndonesia.online Sumenep

Bupati Sumenep raja PHP

Oleh: Hartono

(Pimpinan TransIndonesia Sumenep)

TROL, – Belakangan ini ramai pemberitan di media elektronik maupun media cetak bupati Sumenep Ach Fauzi mendorong reaktivasi jalur kereta api di pulau Madura .

Sebagian orang menanggapi biasa saja sebab proyek ini sudah tercantum dalam Perpres Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kawasan Bromo Tengger Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

Bahkan Ketua Badan Anggaran DPR MH Said Abdullah yang asli Sumenep menyatakan sudah ada investor Jepang yang menyatakan minat untuk membiayai proyek reaktivasi rel kereta api di Madura.

“Insyaallah akan ada investor dari Jepang untuk rel kereta api di Madura dalam satu dua tahun ini. Percayalah,” kata Said yang mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kunjungannya di Sumenep melansir dari detikJatim.

Tetapi sebagian besar rakyat bisa saja itu hanya “promo diri bupati” jelang akhir masa jabatanya, untuk supaya mudah terpilih bupati lagi atau sekurangnya masuk bursa calon gubernur jatim mendatang.

Bahwa itu Promo Diri soal reaktivasi KA indikasinya belum mendapat sambutan hangat dari 3 bupati lain di pulau Madura.

Jika jalur KA sebagai jalur kemakmuran untuk rakyatnya bupati Sumenep bisa optimalkan dana PI dari 8 blok Migas yang hingga kini banyak warga butuh tahu alokasinya, di samping mengoptimalkan keuntungan dari deretan BUMD.

Dulu Kereta Api di Madura diutamakan pengangkutan barang utamanya garam dan komoditas lain, jika pun digunakan untuk mobilisasi dan pengangkutan penumpang/ orang itu pun tidak banyak.

Saat ini cobalah cek di jalan – jalan belum ada kemacetan mobil pengangkut barang baik arah jembatan Suramadu maupun pelabuhan Kamal di kabupaten Bangkalan.

Coba cek di terminal bus Sumenep sebagai terminal keberangkatan adakah tumpukan penumpang tak terangkut, adakah kemacetan di jalan – jalan akibat banyak bus berburu angkut penumpang.

Penumpang bus dari terminal Sumenep tak lebih 10 orang pada hari – hari biasa, yang paling sering 3 atau 4 saja penumpangnya.

Lalu dimana mendesaknya Kereta Api?
Inilah yang mungkin ada di pikiran 3 bupati (Pamekasan, Sampang, Bangkalan), belum merespon percepatan seperti yang disampaikan bupati Sumenep.

Jika benar 3 bupati  tadi berpendapat seperti itu, itulah kecerdasan sesungguhnya alias Rakyat Belum Butuh.

”Saya jadi bupati Sumenep itu bukan karena kurang kerjaan ataupun sekedar gaya-gayaan. Saya ini dipilih oleh rakyat atau masyarakat. Jadi, siapapun yang memiliki tambak tapi merugikan masyarakat, saya tidak akan main-main pasti saya tutup dan ijinnya dicabut,” ujar bupati Sumenep Achmad Fauzi, SH., MH., dengan nada tegas seperti menahan emosi, Minggu 4 April 2021 silam, sebagaimana dikutip dari Maduraexpose.com.

Namun toh faktanya tambak-tambak pada lahan pertanian produktif sampai detik ini masih  jalan melaju.

Mengingat jaman kolonial tentang kegunaan utama kereta, bukan mustahil percepatan dimaksudkan bupati Sumenep bakal ada VOC gaya baru yang manfaatkan kereta sebagai pengangkut hasil “kerukan ” tambang, mineral di tanah Sumenep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *