foto: membuat rokok secara manual/ist
TROL,- Tingwe merupakan akronim “linting dewe” ( melinting sendiri) batangan rokok dengan tembakau iris kering sebagai bahan utama dicampur dengan bahan penolong.Bahan penolong biasanya cengkih,Klembag,Menyan,atau bahan penolong dalam saset yang sudah jadi.Bahan itu selanjutnya di linting /digulung secara manual (menggunakan tangan).
Tingwe kini bisa dijumpai di banyak tempat dan sudut -sudut kota ,termasuk kaum muda pun kini memiliki kreatifitas tersendiri dalam menikmati candunya rokok.
Tingwe bukan sekadar alternatif dari naiknya harga rokok. Lebih dari itu, tingwe bahkan menjadi pilihan politik dan simbol perlawanan.
Sejak Lama Ada
Rokok tingwe sudah ada jauh sebelum munculnya rokok pabrikan. Konon sejak zaman Kerajaan Mataram, masyarakat sudah mengenal rokok lintingan. Maka bisa dikatakan melinting tembakau sudah menjadi budaya masyarakat kita.
Seiring berkembangnya zaman, tingwe mulai digantikan oleh rokok pabrikan yang siap pakai. Bahkan saat ini, tingwe dikonotasikan dengan orang tua dan hal-hal kuno. Aktivitasnya yang rumit dianggap sebagai kegiatan orang kelas bawah yang tidak mampu membeli rokok pabrikan.
Cukai rokok yang terus membumbung tinggi membuat rokok tingwe sebagai alternatif untuk menikmati tembakau. Naiknya harga rokok juga berimbas pada petani tembakau yang mana produk tembakau dari petani tidak seluruhnya diserap oleh industri rokok sehingga tembakau dipasarkan langsung ke konsumen.
Tingwe kini sudah merasuk di kalangan muda. Anak muda tak lagi malu melinting tembakau untuk sekadar menikmatinya. Terlebih lagi, anak kost yang memilih rokok tingwe karena keterbatasan dana untuk menikmati rokok pabrikan tetapi masih merasakan nikmatnya tembakau.
Dukungan Bahan Baku
Era kini varian tembakau sangat beragam jenisnya. Tembakau yang dicampuri rasa seperti leci, mangga, vanilla, dan sebagainya pun ditujukan untuk pasar kalangan muda. Tembakau petani lokal berbagai daerah juga memiliki kekhasan rasanya masing-masing.
Bukan sekadar tren, tingwe merupakan pilihan politik. Cukai rokok yang semakin tinggi tentunya berimbas pada petani tembakau dan konsumen akhir. Di samping itu, dengan tingwe setidaknya kita memaknai dan menghargai jerih payah petani tembakau untuk bertahan hidup.
Simbol Perlawanan
Tingwe adalah simbol perlawanan. Panglima Besar Jenderal Soedirman sangat gemar merokok tingwe ,sangat jelas panglima merupakan penentang keras kolonialisme Belanda. Tingwe adalah perlawanan terhadap industri besar rokok yang sewenang-wenang terhadap petani tembakau.
Dengan tingwe, bukan serta merta kita menjadi orang yang progresif dan menentang segala bentuk penindasan. Tingwe hanyalah suatu budaya yang melekat dalam masyarakat kita.
Penikmat rokok pabrikan pun bukan berarti pro terhadap kapitalisasi tembakau. Bukan juga menjadi orang-orang borjuis kolot yang menentang perubahan. Sebagai penikmat tembakau, kita juga perlu sadar akan segala konsekuensi dari pilihan kita.
Fenomena tingwe akan selalu ada dan dinikmati oleh para penikmatnya. Kaum muda hingga tua memiliki caranya masing-masing dalam menikmati mahakarya petani tembakau. Bijak dalam setiap pilihan pun dapat dijadikan sebagai bumbu pelengkap dalam menikmatinya.
Pabrik Jungkir Balik
Melansir cnnindonesia,Industri rokok di Tanah Air tengah menghadapi tantangan.Jumlah penjualan turun drastis.
Contoh teranyar menimpa perusahaan rokok ternama PT Gudang Garam. Mereka tercatat hanya menorehkan laba 980,80 miliar pada 2024 kemarin.Laba itu anjlok parah bila dibandingkan 2023 yang masih bisa mencapai 5,32 triliun.
Tercatat pendapatan Gudang Garam memang turun dari 118,95 triliun menjadi 98,65 triliun pada 2024 kemarin.
Penjualan perusahaan dari ekspor pun turun dari 1,49 triliun menjadi 1,31 triliun, lalu penjualan lokal turun dari 117,45 triliun menjadi 97,338 triliun per akhir 2024.
Penjualan yang turun paling banyak adalah sigaret kretek mesin dari 96,02 triliun pada 2023 menjadi 86,62 triliun hingga akhir tahun lalu.
Wismilak Inti Makmur pun longsor, Mengutip laporan keuangan perusahaan, pada 2024 kemarin mereka juga hanya mampu menorehkan laba 298,7 miliar, turun 39,58 persen jika dibandingkan 2023 yang 494,7 miliar.
Perusahaan hanya mampu membukukan penjualan neto 4,7 triliun pada 2024, turun jika dibandingkan 2023 yang masih bisa mencapai 4,8 triliun.
Lalu apa sebetulnya yang menjadi penyebab memblenya kinerja itu?
Masih menurut cnnindonesia,Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan ada empat faktor yang mendorong anjloknya penjualan rokok di Tanah Air.
Rony memastikan ,penurunan itu bukan karena keberhasilan pemerintah dalam membasmi rokok ilegal.
Pertama, daya beli kelas menengah dan bawah masih lesu ,menyebabkan mereka beralih membeli produk yang harganya lebih murah,atau malah rokok ilegal.
Kedua,ada pergeseran selera dari generasi muda kelas menengah yaitu rokok elektrik yang saat ini lebih mudah dibawa dan ‘lebih’ diterima di berbagai tempat.
Ketiga, kenaikan cukai membuat harga rokok semakin terbang.
Keempat, kampanye antirokok yang berhasil.(nanak dp- anggota tim dewan ahli transindonesia.online)











