Opini  

Kenapa Negara Tidak Boleh Mencetak Uang Sebanyak-Banyaknya

foto: ilustrasi/istoc

TROL,Negara memang punya wewenang untuk mencetak uang, tapi ada aturan dan keseimbangan yang harus dijaga. Kalau hal itu dilanggar, dampaknya bisa sangat serius.

Bank Indonesia sebagai bank sentral bertanggung jawab atas penerbitan uang Rupiah. Setiap lembar uang yang beredar sudah melalui perhitungan ketat. Jadi, meskipun negara bisa mencetak uang, bukan berarti boleh dilakukan sembarangan.

Tiga alasan kenapa negara tidak boleh mencetak uang banyak tanpa batas menurut buku berjudul ‘Keuangan Negara’ karya Pandapotan Ritonga, S.E., M.Si. yang dirangkum oleh detik Finance!

Nilai Uang Akan Turun

Karena banyak orang bisa membeli, tapi jumlah barangnya terbatas. Akhirnya, nilai uang jadi turun.

Ini disebut inflationary devaluation, yaitu penurunan nilai uang akibat jumlah uang yang beredar melebihi ketersediaan barang. Akibatnya, harga-harga melambung, dan uang yang tadinya cukup buat belanja seminggu, mungkin cuma cukup buat dua hari. Jadi, kalau negara mencetak uang banyak tanpa dasar ekonomi yang kuat, uang itu justru kehilangan nilainya.

Menyebabkan Inflasi yang Tak Terkendali

Inflasi bisa jadi sangat parah kalau uang beredar terlalu banyak? Ketika pemerintah terus mencetak uang, harga barang dan jasa otomatis ikut melonjak. Karena, semakin banyak uang beredar, semakin rendah daya belinya.

Inflasi ekstrem bahkan bisa menghancurkan perekonomian suatu negara. Contohnya, pernah terjadi di Zimbabwe pada tahun 2008, ketika pemerintahnya mencetak uang berlebihan. Hasilnya, harga barang naik ribuan kali lipat! Bayangkan, selembar roti bisa seharga jutaan dolar Zimbabwe.

Memperbesar Utang Negara

Kalau uang dicetak tanpa ada cadangan komoditas atau aset yang mendukung, nilainya tidak punya dasar kuat. Akibatnya, investor asing bisa kehilangan kepercayaan. Nilai tukar mata uang bisa anjlok dan negara malah terjebak utang baru.

Selain itu, mencetak uang tidak menambah kekayaan negara secara nyata. Karena uang hanyalah alat tukar, bukan sumber kekayaan. Tanpa produksi barang, jasa, atau aset nyata, uang yang beredar hanya angka di kertas. Jadi, semakin banyak uang dicetak, semakin besar pula risiko negara terperangkap dalam siklus utang dan inflasi.

Kalau diringkas, mencetak uang banyak memang terlihat seperti solusi cepat, tapi sebenarnya itu jalan pintas yang berbahaya. Uang harus diimbangi dengan kekuatan ekonomi nyata, seperti produksi, perdagangan, dan ekspor. Tanpa itu, uang yang beredar cuma jadi kertas tanpa nilai.(*)

 

*beauties

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *