Sejarah Hari Radio Nasional, Tahun ini Genap 80 Tahun

foto : ilustrasi radio

 

TROL, Tulungagung – Setiap tahun, pada tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio Nasional. Peringatan ini juga sekaligus dirayakan sebagai hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI).

Berdasarkan laman Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) peringatan itu berawal dari peristiwa bersejarah usai berhentinya siaran radio Hoso Kyoku pada 19 Agustus 1945. Sejak itu, masyarakat Indonesia kehilangan sumber informasi penting.

Di saat bersamaan, radio-radio luar negeri justru menyiarkan kabar jika pasukan Inggris atas nama Sekutu akan menguasai Jawa dan Sumatera. Kondisi tersebut mendorong para tokoh yang pernah aktif pada masa pendudukan Jepang mendirikan lembaga radio nasional.

Pada tanggal 11 September 1945 pukul 17.00, delapan orang perwakilan bekas Hoso Kyoku mengadakan pertemuan dengan pemerintah di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon. Kedelapan tokoh itu adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi.

Pada pertemuan tersebut, para tokoh menuntut supaya pemerintah segera membentuk radio sebagai sarana komunikasi bagi rakyat. Hal itu dinilai mendesak mengingat pasukan Sekutu akan segera mendarat di Jakarta.

Tuntutan itu bahkan sempat ditolak oleh pemerintah dengan alasan peralatan radio telah tercatat sebagai inventaris Sekutu. Abdulrahman Saleh lantas mengusulkan pembentukan Persatuan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai solusi.

Walau tidak sepenuhnya setuju, pemerintah akhirnya menyepakati usulan itu. Selanjutnya, pada pukul 00.00 delegasi dari 8 stasiun radio di Jawa mengadakan rapat kedua di rumah Adang Kadarusman.

Dari rapat itulah, Abdulrahman ditetapkan sebagai pemimpin RRI pertama. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Radio Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) RRI.

Peran Tokoh Dalam Penyiaran

Semua tokoh memiliki peran penting dalam penyiaran dan perjuangan bangsa. Beberapa dikenal praktisi radio, sementara lainnya berperan mendukung pengembangan radio Indonesia.

Sarsito Mangunkusumo, tangan kanan Mangkunagoro VII di bidang penyiaran, mengenal radio sejak akhir 1920-an. Ia membina radio Ketimuran di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya.

Sutarjo Kartohadikusumo, politisi dan anggota Volksraad, memperjuangkan hak Radio Ketimuran. Ia menjembatani konflik antara PPRK dengan NIROM agar stasiun radio pribumi tetap beroperasi.

Haji Agus Salim, politisi ulung dan mubaligh, menggunakan radio untuk dakwah. Ia memanfaatkan VORO dan NIROM agar pesan agama sampai ke masyarakat luas.

Gusti Nurul, putri Mangkunagoro VII, mewakili ayahandanya dalam penyiaran sejak remaja. Ia memimpin sejumlah seremoni dan siaran penting atas nama Mangkunagoro VII.

Abdulrahman Saleh menjabat Ketua VORO pada 1936-1939. Ia kemudian menjadi ketua Radio Republik Indonesia saat berdiri 11 September 1945.

Maladi, sebelumnya aktif di SRV Solo, menjadi pengurus SRV sebelum menggantikan Abdulrahman Saleh sebagai Kepala RRI Pusat. Ia dikenal sebagai praktisi penyiaran olahraga.

Jusuf Ronodipuro mulai bekerja di radio pada masa pendudukan Jepang. Namanya melambung setelah membacakan naskah Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 malam hari.

Bung Tomo, Kepala Seksi Penerangan Pemuda Republik Indonesia, mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia pada 12 Oktober 1945. Ia memanfaatkan Radio Pemberontakan untuk menggerakkan arek-arek Surabaya melawan Sekutu.

Radio Pemberontakan menjadi alat strategis Bung Tomo. Saat stasiun belum selesai, siaran dibuat seolah direlay RRI dari Radio Pemberontakan Rakyat miliknya. (*)

 

#rri.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *