Ianfu, Budak Seks Militer Jepang di Indonesia Yang Terlupakan

foto: mardiyem diperdaya dengan iming-iming akan dijadikan pemain sandiwara, bagian dari kelompok sandiwara keliling pantja soerja/bbcindonesia

TROL,- Ratusan ribu perempuan dijadikan penghibur atau “ianfu” pada masa pendudukan Jepang selama perang Asia Pasifik, bagian dari Perang Dunia II yang terjadi di wilayah Asia dan Samudra Pasifik antara 1941-1945.

Direkrut dengan janji palsu atau diculik secara paksa dari rumah, para perempuan remaja yang dikenal sebagai “ianfu” atau perempuan penghibur ini mengalami kengerian tak terperi di balik dinding tersembunyi.

“Mbah saya, mbah Tugirah, pernah waktu zaman penjajahan Jepang ‘disenangi’ sama Jepang,” tutur Anik Sukaningsih, salah satu generasi ketiga penyintas ianfu di Indonesia.

Sebagian mereka masih anak-anak. Salah satunya, Sri Sukanti. “Saya masih kecil, jadi tidak berani. Kalau tidak (menurut), mati”, ucapnya.

Banyak penyintas ianfu di negara lain telah berani menceritakan kesaksian mereka, tapi kisah ianfu di Indonesia justru terpendam, terkubur di balik keheningan.

Kekalahan Jepang pada 14 Agustus (atau 15 Agustus sesuai kalender Jepang) mengakhiri Perang Dunia II dan memicu proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, 80 tahun lalu.

Kini, momen kekalahan Jepang diperingati sebagai Hari Ianfu Internasional untuk mengenang korban perbudakan seksual militer Jepang.

BBC News Indonesia mengungkap kisah para perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual tentara Jepang dalam Perang Dunia II dan generasi sesudahnya, serta upaya-upaya untuk melawan lupa sejarah ianfu yang perlahan memudar dari ingatan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *