Bupati Trenggalek Dukung Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah

TROL, Trenggalek – Bupati Mochamad Nur Arifin menyatakan dukungannya terhadap Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah saat mendampingi kunjungan Yayasan Swatantra Pangan Nusantara dalam kegiatan pembagian bibit dan pupuk di sejumlah sekolah di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Rabu (22/4).

Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu menegaskan pentingnya menanamkan tanggung jawab kepada generasi muda sejak dini melalui kegiatan bercocok tanam. Menurutnya, siswa perlu dilibatkan langsung agar memahami proses produksi pangan sekaligus menghargai hasilnya.

“Gerakan swasembada sangat penting. Sejak kecil harus diajari bagaimana punya tanggung jawab menanam dan merawat, sehingga nantinya bisa mengonsumsi apa yang mereka tanam,” ucapnya.

Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah merupakan inisiatif edukatif yang memanfaatkan lahan sekolah untuk kegiatan produktif. Melalui program ini, siswa dilibatkan dalam budidaya sayuran dan hortikultura menggunakan media polibag serta praktik pertanian organik guna mendorong kemandirian pangan.

Pemkab Trenggalek bersama Yayasan Swatantra Pangan Nusantara berkomitmen mengembangkan program tersebut secara berkelanjutan. Mas Ipin menilai, paradigma yang selama ini berkembang, bahwa pendidikan bertujuan menjauhkan generasi muda dari sektor pertanian perlu diubah.

“Selama ini kita seolah menjauh dari identitas sebagai bangsa agraris. Ke depan, kita ingin menanamkan bahwa pangan adalah masa depan dan menjadi bagian dari harga diri bangsa,” katanya.

Ia menambahkan, swasembada pangan harus dipandang sebagai gerakan bersama, bukan sekadar program. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dinilai penting untuk memperluas dampak, termasuk pengembangan sumber protein seperti kolam ikan skala sekolah.

Selain itu, Mas Ipin juga menyoroti tantangan ketersediaan air yang memengaruhi keberhasilan pertanian. Menurutnya, berkurangnya tutupan hutan berdampak pada siklus air, sehingga diperlukan inovasi teknologi sebagai solusi.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan sistem kondensasi sederhana untuk menghasilkan air dari uap. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dinas Pertanian setempat bersama para inovator lokal.

Langkah ini dinilai relevan menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan meningkat tahun ini, sebagaimana peringatan dari BMKG. Selama musim kemarau ekstrem, sekitar 90 hingga 100 desa di Trenggalek kerap mengalami kekurangan air, sehingga distribusi oleh BPBD sering kali terkendala.

“Ke depan, anggaran akan diarahkan lebih bijak untuk solusi jangka panjang, agar masyarakat dapat memproduksi air secara mandiri,” pungkasnya. (*)

 

#prokopimtrenggalek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *