TROL, Pacitan – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLBN Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, berlangsung lancar dengan mengusung tema Ramah dan Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Tema tersebut dinilai sebagai langkah visioner dalam membangun karakter peserta didik sekaligus menanamkan kesadaran terhadap pentingnya ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan sejak dini.
Pengawas PKLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Kabupaten Pacitan, Indah Uly Wardati, berpendapat tentang relevansi dan dampak positif dari tema tersebut adalah:
● Pertama Transformasi Budaya Sekolah melalui Ramah
Mengangkat tema Ramah dalam MPLS memberikan pesan kuat bahwa sekolah adalah lingkungan yang aman secara psikologis. Anti perundungan: fokus pada keramahan menciptakan fondasi bagi siswa baru untuk merasa diterima, sehingga menurunkan tingkat kecemasan saat masa transisi.
Kolaborasi, bukan kompetisi: keramahan mendorong kolaborasi antar siswa. Ini adalah soft skill krusial yang dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat di masa depan.
● Kedua Inovasi SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan)
Ini adalah inti dari nilai tambah MPLS tahun ini. Mengintegrasikan isu ketahanan pangan ke dalam pendidikan dasar adalah langkah cerdas untuk membangun kesadaran lingkungan.
“Edukasi Berbasis Aksi, daripada hanya teori di kelas, siswa baru diajak melihat langsung atau mempraktikkan inovasi pangan. Ini membuat pembelajaran menjadi kontekstual dan bermakna. Pendidikan karakter: ketahanan pangan mengajarkan tentang kesabaran, kerja keras, dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang sangat konkret. Penyelesaian masalah: dengan menantang siswa berpikir inovatif mengenai pangan, sekolah sebenarnya sedang melatih pola pikir kritis (critical thinking) sejak hari pertama mereka masuk sekolah,” papar Indah Uly Wardati.

Sementara itu, Kepala SLBN Ngadirojo Pacitan, Rini Susilawati berpandangan bahwa MPLS Berbasis Kesadaran Lingkungan yang berkolaborasi dengan Trash Hero dalam sosialisasi memilah sampah adalah sebuah terobosan edukasi yang inklusif dan praktis.
“Bagi siswa berkebutuhan khusus di SLBN Ngadirojo, pembelajaran visual dan taktil jauh lebih bermakna daripada sekadar teori di dalam kelas. Kolaborasi ini mengubah konsep abstrak “kebersihan” menjadi aksi nyata: membedakan jenis sampah, memahami nilai gunanya, dan melihat langsung dampak positif bagi lingkungan sekitar. Kami tidak hanya mengajarkan siswa untuk menjadi pribadi yang mandiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang peduli pada bumi. Ini menanamkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat, meski dengan keterbatasan yang mereka miliki,” ungkapnya.
SLBN Ngadirojo berkolaborasi dengan Trash Hero yaitu sebuah gerakan global, yang dikelola oleh relawan dengan misi mengajak masyarakat untuk secara bersama-sama membersihkan dan menghindari produksi sampah dan terutama menciptakan bumi yang bebas sampah. Kolaborasi ini sangat krusial sebagai fondasi program sekolah inovatif ketahanan pangan. Berikut alasannya:
● Pemanfaatan Limbah Organik sebagai Pupuk (Circular Economy)
Ketahanan pangan membutuhkan media tanam yang subur. Trash Hero dapat membimbing sekolah dalam mengelola sampah organik dari lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar untuk diolah menjadi kompos. Ini menciptakan siklus pangan mandiri yang berkelanjutan dan hemat biaya.
● Membangun Ekosistem Kebun Sekolah yang Sehat
Edukasi memilah sampah memastikan bahwa lahan ketahanan pangan kita bebas dari kontaminasi plastik. Lingkungan yang bersih adalah syarat utama bagi pertumbuhan tanaman pangan yang sehat dan layak konsumsi.

● Transfer Pengetahuan dan Jejaring Komunitas
Trash Hero membawa metodologi yang sudah teruji di lapangan. Kolaborasi ini memberikan akses bagi siswa dan guru untuk mendapatkan pendampingan ahli dalam mengelola lingkungan, yang nantinya akan meningkatkan standar operasional kebun pangan sekolah.
● Pelatihan Life Skills untuk Kemandirian Siswa
Program ketahanan pangan di SLBN Ngadirojo bukan hanya soal hasil panen, tetapi tentang membekali siswa dengan keterampilan kerja. Memahami cara mengolah sampah sekaligus menanam pangan adalah kombinasi keterampilan hidup (life skills) yang sangat berharga bagi masa depan kemandirian mereka.
“Dengan menyinergikan kesadaran lingkungan dan produksi pangan, kita sedang menyiapkan SLBN Ngadirojo untuk menjadi sekolah yang tidak hanya inovatif dalam kurikulum, tetapi juga berdampak langsung bagi kemandirian siswa dan kesejahteraan lingkungan Pacitan,” pungkas Rini Susilowati. (can finews)











