Budaya  

Tradisi Jelang Hari Jadi, Bupati Trenggalek Ziarah ke Makam Bupati Pendahulu

TROL, Trenggalek – Menjelang Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) berziarah ke sejumlah makam tokoh dan bupati pendahulu, Jumat (28/8).

Tradisi ziarah makam leluhur tersebut rutin dilakukan setiap menjelang peringatan Hari Jadi Trenggalek. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengenang jasa dan perjuangan tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kabupaten Trenggalek.

Rangkaian ziarah diawali dari Makam Setono Galek di Kelurahan Ngantru. Di kompleks pemakaman tersebut terdapat makam Mbah Kawak, salah satu tokoh yang dikenal memiliki peran dalam penyebaran agama Islam di Trenggalek.

Dari Setono Galek, rombongan kemudian menuju Kompleks Makam Setono Gedong yang masih berada di Kelurahan Ngantru. Sejumlah tokoh besar Trenggalek dimakamkan di tempat tersebut, termasuk Raden Doemotaroeno, Bupati Trenggalek pertama.

Ziarah kemudian dilanjutkan ke Kompleks Makam Bagongan untuk berziarah ke makam Menak Sopal. Sosok tersebut dikenal memiliki jasa besar dalam bidang pertanian Trenggalek, terutama melalui pembangunan Dam Bagong.

Keberadaan Dam Bagong menjadi bagian penting dalam sejarah pertanian Trenggalek. Bendungan tersebut mengalirkan air ke sejumlah wilayah yang sebelumnya dikenal tandus, sehingga mampu mengubahnya menjadi lahan pertanian yang subur.

Jasa Menak Sopal hingga kini masih dikenang masyarakat. Sebagai wujud syukur atas manfaat pengairan Dam Bagong, masyarakat petani secara turun-temurun melaksanakan tradisi Nyadran Dam Bagong setiap Bulan Selo dalam penanggalan Jawa.

Di sela ziarah, Bupati Mochamad Nur Arifin mengatakan kegiatan tersebut merupakan tradisi yang terus dipertahankan setiap menjelang Hari Jadi Trenggalek.

“Rutin menjelang hari jadi, kita menghormati jasa para pendahulu. Semua bupati-bupati sebelum kita, semuanya punya jasa dan semoga hal-hal baik yang sudah dikerjakan bisa kita teruskan,” ujar Mas Ipin.

Menurutnya, pembangunan Trenggalek saat ini tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para pendahulu. Karena itu, penghormatan terhadap mereka sekaligus menjadi pengingat bagi generasi saat ini untuk meneruskan berbagai kebaikan yang telah diwariskan.

Usai dari Kompleks Makam Bagongan, rombongan melanjutkan ziarah ke Makam Kanjeng Jimat (Mangun Negoro) di Kompleks Makam Margo Ayu, Desa Ngulan Kulon, Kecamatan Pogalan.

Perjalanan kemudian diteruskan ke Makam Girilaya Kamulyan di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan. Rangkaian ziarah ditutup di Kompleks Makam Girimulyo, Desa Sumber, Kecamatan Karangan.

Di Kompleks Makam Girimulyo dimakamkan Adipati Widjoyo Kusumo, Bupati Trenggalek yang menjabat pada 1894-1904. Sebelum menjadi Bupati Trenggalek, Adipati Widjoyo Kusumo tercatat pernah menjabat sebagai Bupati Probolinggo.

Selain itu, di kompleks tersebut juga dimakamkan Adipati Ario Poerbonegoro yang menjabat sebagai Bupati Trenggalek pada 1904-1932.

Ziarah makam para leluhur tahun ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek yang mengusung tema “Hambeging Bumi”.

Bupati Mochamad Nur Arifin menjelaskan, tema tersebut memiliki makna yang dalam, terutama terkait semangat pengabdian aparatur pemerintah kepada masyarakat.

“Tema Hari Jadi itu bermakna dua hal. Yang pertama, dari sisi kita harus berlaku selayaknya bumi. Bumi itu kan diinjak, tapi itu kan menumbuhkan,” jelasnya.

Menurut Mas Ipin, filosofi tersebut relevan dengan semangat aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas. Seorang aparatur dituntut tetap mampu memberikan manfaat dan menumbuhkan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat dalam kondisi apapun.

“Bagi aparatur itu sebenarnya itu ciri bagaimana kita ikhlas bekerja. Apapun kondisinya kita tetap bisa menumbuhkan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat,” imbuhnya.

Di sisi lain, tema “Hambeging Bumi” juga menjadi pesan agar masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam.

“Tetapi di satu sisi lain kita tetap mengupayakan memberikan penyadaran kepada masyarakat, terkait pentingnya kita harmoni dengan alam,” pungkasnya. (*)

 

*sumber: prokopimtrenggalek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *