TROL, Tulungagung – Suasana meriah mewarnai tasyakuran dan tirakatan Suran di Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, Rabu (8/7) malam. Dalam momentum tersebut, masyarakat disuguhkan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Gathutkaca Winisuda” yang dibawakan oleh dua dalang cilik, yakni Ki Flamboyant Jingga Lukmandaka dan Ki Banyu Biru Lukmandaka.
Pagelaran yang digelar di kediaman Lukmandaka itu berlangsung meriah. Sejak malam hari, warga dari Desa Bulus maupun sejumlah desa sekitar mulai berdatangan untuk menyaksikan pertunjukan. Mereka tampak antusias menikmati jalannya pementasan yang sarat akan nilai budaya, filosofi kehidupan, sekaligus menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa dalam memperingati malam Suro.
Meski masih berusia belia, Ki Flamboyant Jingga Lukmandaka dan Ki Banyu Biru Lukmandaka mampu membawakan cerita dengan penuh percaya diri. Keduanya terlihat piawai memainkan wayang, mengolah dialog antartokoh, hingga menyampaikan pesan moral yang terkandung dalam lakon “Gathutkaca Winisuda”. Penampilan keduanya beberapa kali mendapat tepuk tangan dari para penonton yang mengapresiasi kemampuan mereka dalam melestarikan seni pedalangan.
Kedua dalang cilik tersebut merupakan putra dari Lukmandaka, seorang pegiat seni wayang yang selama ini turut membimbing dan mengenalkan dunia pedalangan kepada anak-anaknya sejak usia dini. Berkat ketekunan dalam berlatih, keduanya kini mulai berani tampil di hadapan masyarakat dalam berbagai kesempatan.
Lukman, sapaan akrab Lukmandaka, mengatakan bahwa penyelenggaraan pagelaran wayang kulit ini bukanlah kegiatan yang dipersiapkan secara mendadak. Rencana tersebut telah disusun sejak jauh hari sebagai bagian dari tasyakuran keluarga sekaligus tirakatan menyambut bulan Suro.
Menurutnya, keinginan menggelar pertunjukan justru datang dari kedua putranya yang ingin mementaskan kemampuan mereka di hadapan masyarakat. Sebagai orang tua, ia memberikan dukungan penuh karena menilai kegiatan tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar sekaligus ikut menjaga kelestarian budaya bangsa.
“Ini permintaan dari kedua anak saya. Alhamdulillah hari ini dapat terwujud dan bisa menghibur masyarakat sekitar,” ujar Lukman.
Ia berharap, melalui pagelaran tersebut semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari seni wayang kulit. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab para seniman, tetapi juga seluruh elemen masyarakat agar warisan budaya leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Desa Bulus, pagelaran wayang kulit pada malam tirakatan Suran bukan sekadar hiburan. Pertunjukan ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat kebersamaan warga, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Melalui penampilan dua dalang cilik tersebut, semangat pelestarian budaya kembali ditunjukkan bahwa seni wayang kulit tetap memiliki tempat di hati generasi muda. Kehadiran Ki Flamboyant Jingga Lukmandaka dan Ki Banyu Biru Lukmandaka menjadi bukti bahwa estafet seni pedalangan terus berlanjut, memberikan harapan bagi keberlangsungan salah satu warisan budaya adiluhung Indonesia di masa mendatang. (jk)











