Ekbis  

Minyak Goreng Dan Peradaban

Oleh : Winarto

TROL – Minyak goreng (migor)berbahan sawit, menjadi bagian pemenuhan pangan masyarakat di asia tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan saking pentingnya, migor di Indonesia dimasukan ke dalam sembilan bahan pokok (sembako).

Melansir samade.or.id (3/7/2021)Hendrik Hutabarat merilis,Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), dalam sebuah webinar beberapa waktu lalu menyebutkan migor di Indonesia awalnya berbahan baku minyak kelapa.

Masa-masa penggunaan minyak kelapa sebagai bahan baku migor meredup atau berakhir di dekade 1990-an. Saat itu minyak kelapa semakin hilang di pasaran.
Salah satunya disebabkan karena perang dagang dengan negara-negara barat sebagai produsen minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak kanola.

Pihak kompetitor menggunakan trik menyebarkan isu negatif bahwa minyak kelapa menjadi sumber dari segala penyakit. Ahli gizi di Indonesia maupun negara produsen minyak kelapa lainnya tidak mampu membantah isu tersebut sehingga minyak kelapa dijauhi dan ditakuti oleh konsumen.

Selain karena black campaign, migor kelapa juga dianggap kurang kompetitif harganya atau kurang ekonomis. Harga jual bahan baku yaitu kelapa mentah relatif tinggi sehingga lebih menguntungkan menjual kelapa mentah dibandingkan mengolah dan menjual migor kelapa.

Sebelum tahun 1978, migor yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan orang asia tenggara adalah minyak kelapa.Minyak sawit muncul sebagai salah satu alternatif bahan baku minyak goreng khususnya di kawasan asia tenggara seperti Indonesia dan Malaysia (sahat sinaga)

Catatan sejarah De Oliepalm dan Investigations on Oilpalms menyebutkan introduksi kelapa sawit ke Indonesia untuk pertama kali terjadi tahun 1848 hingga dikembangkan perkebunan komersial di Pulo Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh) tahun 1911.

Tujuan awal dari pengembangan perkebunan sawit di Indonesia adalah untuk menghasilkan minyak sawit yang kemudian diekspor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku eropa di masa revolusi industri.

Namun, seiring dengan ditemukannya teknologi pemisahaan minyak sawit pada tahun 1974 dan mulai diterapkan di Indonesia tahun teknologi pemisahaan minyak sawit menghasilkan liquid fraction atau palm olein dan solid fraction atau palm stearine.

Fase cair pada palm olein merupakan bahan baku pembuatan migor sawit. Minyak goreng sawit memiliki beberapa keunggulan seperti stabilitas pada suhu tinggi selama penggorengan (tahan panas), baik terhadap oksidasi atau proses degradasi lainnya sehingga menjadi migor sawit mempunyai umur pakai yang lebih lama.

Selain itu, minyak goreng sawit juga tidak berbau, tidak ada rasanya dan dapat menghasilkan makanan lebih enak dan lebih crispy (jika digoreng dengan teknik deep frying).

Dengan keunggulan dan karakteristik demikian, minyak goreng sawit dapat digunakan pada praktik memasak dari mulai menumis (shallow frying), menggoreng (frying) dan menggoreng pada suhu tinggi (deep frying).

Sedangkan minyak goreng kelapa tidak dapat dipakai pada suhu tinggi atau hanya bisa dipakai pada api sedang sekitar 185 derajat celcius karena akan menyala.

Kandungan vitamin A (beta carotene) yang sangat tinggi pada minyak sawit juga membuat minyak goreng sawit sangat digemari.

Disisi lain melalui SNI Minyak Goreng (SNI7709:2019), pemerintah Indonesia mewajibkan industri untuk melakukan fortifikasi vitamin A dan atau pro-vitamin A pada migor sawit. Vitamin A merupakan vitamin sintesis yang sebagian besar bersumber dari impor.

Kedua hal ini sangatlah kontradiksi. Satu sisi menghilangkan beta carotene sebagai prekusor vitamin A karena masalah preferensi konsumen. Disisi lain ada kebijakan mandatori untuk menambahkan (fortifikasi) vitamin A pada migor.

Dilain pihak, stakeholder sawit juga sudah mulai mengampanyekan konsumsi minyak sawit merah sehingga diharapkan meningkatkan awareness konsumen Indonesia untuk mengkonsumsi produk pangan olahan (migor maupun lainnya) yang bernutrisi sehingga dapat bermanfaat bagi tubuh.

Melansir kompas.com (24/2/2022) dari ensiklopedia Britannica, minyak kelapa sawit telah lama menjadi bahan kebutuhan pokok di wilayah yang terbentang dari Senegal hingga Angola di sepanjang pantai barat Afrika.

Minyak kelapa sawit memasuki lanskap ekonomi global sekitar tahun 1500-an, karena marak dipakai oleh kapal perdagangan budak transatlantik.

Eksportir membuatnya lebih murah dengan metode hemat tenaga kerja yang memungkinkan buah sawit berfermentasi dan melunak, meski hasilnya tengik.Pembeli Eropa kemudian menggunakan proses kimia mutakhir untuk menghilangkan bau dan warna busuk.

Hasilnya, minyak kelapa sawit bisa menjadi zat hambar yang dapat menggantikan fungsi lemak konsumsi atau minyak lain yang lebih mahal.

Namun menurut The Guardian, 19 Februari 2019, organisasi keuangan internasional melihat komoditas ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Pada 1960-an, para ilmuwan mulai memperingatkan bahwa kandungan lemak jenuh yang tinggi dari mentega dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Namun, pada awal 1990-an, ditemukan bahwa proses pembuatan minyak dalam margarin, yang dikenal sebagai hidrogenasi parsial.

Minyak kelapa sawit pertama kali digunakan untuk mewarnai margarin sehingga menjadi kuning, tetapi ternyata menjadi bahan utama karena tetap kokoh pada suhu kamar dan meleleh di mulut, seperti mentega.

Pengusaha margarin dan sabun seperti William Lever dari Inggris menghadapi kenyataan bahwa masyarakat Afrika seringkali menolak menyediakan lahan untuk perusahaan asing untuk industri sawit.

Pembuat minyak dengan tangan masih menguntungkan bagi mereka. Sementara, produsen minyak kolonial menggunakan paksaan pemerintah dan kekerasan untuk mencari tenaga kerja.

Bisnis minyak kelapa sawit lebih lancar di asia tenggara.Penguasa kolonial di asia tenggara memberi izin hampir tak terbatas atas tanah kepada perusahaan.Saat ini, 3 miliar orang di 150 negara menggunakan produk yang mengandung minyak sawit. Secara global, setiap manusia mengkonsumsi rata-rata 8 kg minyak sawit per tahun.

Dari jumlah tersebut, 85 persen sawitnya berasal dari Malaysia dan Indonesia.

Fakta ini menjadi kekhawatiran pemerhati lingkungan, karena pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit adalah sumber utama emisi gas rumah kaca.

Belum lagi habitat satwa di sekitarnya yang terancam punah, seperti harimau Sumatera, badak Sumatera, dan Orangutan.

(penulis adalah pimpinan redaksi media ini, aktif sebagai relawan kemanusiaan, tinggal di Jawa Timur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *