Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97, Pemuda Pemudi Bergerak Indonesia Bersatu

TROL, Tulungagung- Sumpah Pemuda merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa ini menandai lahirnya semangat persatuan dan kesatuan di antara para pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang. Tahun ini kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-97 dengan tema “Pemuda Pemudi Bergerak Indonesia Bersatu”.

Melalui Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia menyatakan tekad untuk bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Peristiwa ini menjadi tonggak utama lahirnya nasionalisme Indonesia yang kelak menjadi landasan perjuangan menuju kemerdekaan pada tahun 1945.

Latar Belakang Terjadinya Sumpah Pemuda

Pada awal abad ke-20, Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Rakyat Indonesia hidup dalam penderitaan dan keterbelakangan akibat politik kolonial yang menindas. Perlawanan terhadap penjajah memang sudah ada sejak lama, tetapi sebagian besar bersifat kedaerahan, seperti perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa, Sultan Hasanuddin di Sulawesi, atau Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Perlawanan-perlawanan ini umumnya belum didasari oleh rasa kebangsaan Indonesia, melainkan oleh semangat kedaerahan dan perjuangan pribadi.

Namun, memasuki awal abad ke-20, kesadaran nasional mulai tumbuh. Hal ini dipengaruhi oleh munculnya golongan terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat dan mulai berpikir secara modern. Mereka menyadari bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak akan berhasil jika dilakukan secara terpisah. Kesadaran inilah yang melahirkan berbagai organisasi pergerakan nasional seperti:

● Budi Utomo (1908) – organisasi modern pertama di Indonesia yang menumbuhkan kesadaran nasional.
● Sarekat Islam (1911) – organisasi ekonomi yang berkembang menjadi gerakan sosial dan politik.
● Indische Partij (1912) – organisasi yang secara terbuka menuntut kemerdekaan Hindia Belanda.
● Perhimpunan Indonesia (1920-an) – organisasi pelajar Indonesia di Belanda yang menanamkan semangat nasionalisme dan kemandirian bangsa.

Selain organisasi-organisasi tersebut, muncul pula berbagai perkumpulan pemuda daerah, seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, dan lain-lain. Meski awalnya berorientasi pada kebudayaan daerah masing-masing, lama-kelamaan mereka menyadari pentingnya persatuan nasional untuk mencapai kemerdekaan.

Kongres Pemuda I (1926)

Kesadaran akan pentingnya persatuan mulai terlihat jelas dengan diselenggarakannya Kongres Pemuda I pada 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres ini diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah.

Kongres ini dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda, antara lain:

Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Batak Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi.

Tujuan kongres ini adalah untuk mempererat hubungan antarorganisasi pemuda dan menumbuhkan semangat persatuan bangsa Indonesia. Namun, kongres pertama ini belum menghasilkan keputusan yang konkret. Para peserta baru sampai pada kesimpulan bahwa persatuan pemuda Indonesia adalah hal yang penting, meski belum merumuskan bentuk nyata dari persatuan tersebut.

Kongres Pemuda II (1928)

Dua tahun kemudian, semangat untuk bersatu semakin kuat. Maka diselenggarakanlah Kongres Pemuda II di Jakarta pada 27–28 Oktober 1928. Kongres ini kembali dipelopori oleh PPPI dengan dukungan dari berbagai organisasi pemuda lainnya.

Kongres ini diadakan di tiga tempat berbeda:

1. 27 Oktober 1928 (siang) – di Gedung Katholieke Jongelingen Bond (Jl. Lapangan Banteng).

2. 27 Oktober 1928 (malam) – di Gedung Oost-Java Bioscoop.

3. 28 Oktober 1928 (siang) – di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat (Jl. Kramat Raya No. 106, Jakarta).

Kongres ini dihadiri oleh tokoh-tokoh muda penting seperti:

● Soegondo Djojopuspito (Ketua Kongres)
● Mohammad Yamin (Tokoh dari Jong Sumatranen Bond)
● Djoko Marsaid (Wakil Ketua)
● Amir Sjarifuddin
● Sarmidi Mangunsarkoro
● W.R. Supratman (Pencipta lagu Indonesia Raya)
● R. Djokosoetono, R. Satiman Wirjosandjojo, dan lain-lain.

Selama kongres berlangsung, para pemuda membahas berbagai hal penting, seperti pendidikan nasional, pentingnya bahasa persatuan, serta upaya memperkuat rasa kebangsaan di kalangan generasi muda.

Mohammad Yamin menyampaikan pidato yang sangat berpengaruh tentang tiga hal penting: persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Pandangan inilah yang kemudian menjadi dasar rumusan Sumpah Pemuda.

Peristiwa Bersejarah Pembacaan Sumpah Pemuda

Pada hari terakhir kongres, yaitu 28 Oktober 1928, para peserta mencapai kesepakatan yang monumental. Soegondo Djojopuspito membacakan rumusan hasil kongres yang kemudian dikenal sebagai “Sumpah Pemuda”, dan seluruh peserta menyatakannya dengan penuh semangat.

Isi teks Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut:

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Setelah pembacaan Sumpah Pemuda, Wage Rudolf Supratman (W.R. Supratman) memperdengarkan lagu ciptaannya, “Indonesia Raya”, dengan iringan biola. Lagu tersebut kemudian menjadi simbol semangat kebangsaan dan akhirnya ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Makna dan Dampak Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda memiliki makna yang sangat mendalam bagi perjalanan bangsa Indonesia. Beberapa makna pentingnya antara lain:

1. Persatuan Nasional
Untuk pertama kalinya, para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara menyatakan tekad untuk bersatu sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa.

2. Tumbuhnya Semangat Nasionalisme
Sumpah Pemuda menumbuhkan semangat cinta tanah air dan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. Dasar Perjuangan Kemerdekaan
Peristiwa ini menjadi landasan moral dan ideologis bagi perjuangan bangsa Indonesia menuju proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

4. Lahirnya Bahasa Persatuan: Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa pergaulan di Nusantara diangkat sebagai bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia, yang kini menjadi bahasa resmi negara.

5. Inspirasi bagi Generasi Muda
Sumpah Pemuda mengingatkan generasi muda untuk terus menjaga semangat persatuan, nasionalisme, dan kebinekaan bangsa Indonesia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda untuk mengenang jasa dan semangat para pemuda tahun 1928.

Berbagai kegiatan dilakukan untuk memperingatinya, seperti upacara bendera, lomba pidato, seminar kepemudaan, serta kegiatan sosial yang mengusung tema persatuan dan kebangsaan.

Peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga sebagai pengingat bahwa masa depan bangsa ada di tangan pemuda.
Sebagaimana semboyan yang terkenal dari Bung Karno:

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”

Sumpah Pemuda adalah bukti nyata bahwa kekuatan pemuda mampu mengubah arah sejarah bangsa. Dari semangat persatuan yang lahir pada tahun 1928 itulah, bangsa Indonesia melangkah menuju kemerdekaan dan terus membangun persatuan hingga hari ini.

Peristiwa ini bukan hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi abadi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga keutuhan, kerukunan, dan kebanggaan terhadap Tanah Air. (jk)

#dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *