Kolaborasi Bersama Pemdes Tenggur, Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung Gelar Pagelaran Wayang Kulit Kolosal

TROL, Tulungagung – Dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional, Hari Sumpah Pemuda, Hari Santri 2025, Hari Pahlawan, sekaligus menyongsong Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-820, Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung (Pakudhatu) bekerja sama dengan Pemerintah Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, menggelar pagelaran wayang kulit kolosal spektakuler pada Jumat (7/10) malam di Lapangan Desa Tenggur.

Acara yang berlangsung semalam suntuk tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Tenggur Zaenal Fanani beserta perangkat desa, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Guntur Wahono, Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Choirurrohim, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung Bagus Kuncoro, serta jajaran Forkopimcam Rejotangan yang terdiri dari Camat, Kapolsek, Danramil, dan Sekretaris Kecamatan. Turut hadir pula Ketua AKD Rejotangan bersama beberapa kepala desa, penasehat Pakudhatu Ki Minto Darsono, dan para tamu undangan lainnya.

Dalam laporannya Yoga, ketua panitia pelaksana kegiatan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tahunan tersebut.

“Dalam pagelaran ini kami menampilkan 20 dalang dan 10 sindhen. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan Pakudhatu yang telah memasuki tahun ketiga. Untuk Kecamatan Rejotangan sendiri, ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya digelar di Desa Karangsari,” jelas Yoga.

Pemuda asal Desa Jeli, Karangrejo, itu juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud semangat berkarya dan patriotisme generasi muda melalui kesenian tradisional.

“Wayang bukan sekadar pertunjukan, tetapi cerminan nilai-nilai luhur bangsa. Sebagai warisan adiluhung yang diakui UNESCO, wayang menjadi wadah bagi pemuda untuk berkarya dan mencintai tanah air. Melalui seni tradisi, kita turut membela negara tanpa harus memikul senjata,” ucapnya.

zaenal fanani kepala desa tenggur saat memberikan sambutan

Yoga berharap seni tradisional seperti wayang kulit tidak akan pernah punah.

“Melalui berkesenian, kita bisa mempersatukan bangsa. Pesan saya untuk generasi muda, cintai dan kembangkan kesenian asli negeri sendiri. Jangan sampai kita justru harus belajar kesenian kita ke negeri orang,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tenggur Zaenal Fanani mengungkapkan bahwa Desa Tenggur menjadi tuan rumah pagelaran kali ini atas inisiatif dan dukungan penuh dari pemerintah desa.

“Tahun lalu kegiatan ini digelar di Desa Karangsari. Tahun ini kami fasilitasi di Tenggur, sekaligus untuk memperingati Hari Santri, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan menyongsong Hari Jadi Tulungagung ke-820,” jelasnya.

Zaenal Fanani juga memberikan apresiasi tinggi kepada Pakudhatu dan komunitas seni lainnya seperti Pasinta atas semangat mereka melestarikan seni tradisional.

“Jika pemuda sudah bersemangat seperti ini, kasihan kalau tidak didukung. Saya pribadi sudah berkomitmen membantu kegiatan ini dengan dana 20 juta rupiah. Jadi lurah itu memang harus siap menjadi ujung tombak dan ujung tombok,” ujarnya sambil tersenyum.

Pagelaran wayang kulit kolosal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berkesenian dan gotong royong masyarakat Tulungagung tetap terjaga, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan budaya bangsa. (jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *