foto: lahatpost
TROL,Jakarta – Hampir setara dengan pulau Jawa,sungai Kapuas dijuluki sungai terpanjang di Indonesia.
Membentang sejauh 1.143 kilometer dan mengiris 7 kabupaten di Kalimantan Barat,yaitu :
Kabupaten Sintang
Kabupaten Melawi
Kabupaten Sekadau
Kabupaten Sanggau
Kabupaten Landak
Kabupaten Kubu Raya
Kabupaten Mempawah
Sekilas tentang Sungai Kapuas
Dikutip dari ebook 71 Keajaiban Indonesia yang Wajib Diketahui oleh Sugeng H. R., Sungai Kapuas disebut juga dengan Sungai Batang Lawai. Hulu sungainya berada di Pegunungan Muller, dan muaranya berada di Selat Karimata.
Dilansir dari situs Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, panjang Sungai Kapuas yang mencapai 1.123 km tersebut sama dengan 68,39 persen dari keseluruhan luas Provinsi Kalbar (146.807 km²).
M. Zamakh Syarifani dalam bukunya bertajuk Apakah Kamu Tahu? Serba-Serbi Pengetahuan Umum, menuliskan bahwa Sungai Kapuas menduduki urutan ke 5 sebagai sungai terpanjang di Asia Tenggara. Di Asia, sungai ini menjadi sungai ke-48 terpanjang dan urutan ke 132 di dunia.
Keberadaan Sungai Kapuas memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya. Sehingga, masyarakat sangat bergantung pada sungai ini.
Sejarah
Dikutip dari laman kapuaskab.go.id, sejarah Sungai Kapuas mencatat
Nama Kapuas diambil dari daerah Kapuas Hulu, tempat sungai ini berawal, sementara Kesultanan Banjar menyebutnya Batang Lawai, mengacu pada daerah Lawie atau Lawai yang kini dikenal sebagai Kabupaten Melawi.
Dengan begitu, sungai ini memiliki dua sebutan yang berbeda, yaitu Sungai Kapuas di hulu dan Sungai/Batang Lawai di hilir.
Sungai Kapuas kaya akan keanekaragaman hayati, dengan lebih dari 700 jenis ikan, termasuk beberapa spesies langka dan terancam punah. Potensi perikanan air tawar di sungai ini mencapai dua juta ton, menjadikannya salah satu sumber daya alam yang penting.
Meskipun beberapa bagian sungai kini tercemar akibat penambangan emas dan perak, Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat yang mengandalkan sungai ini untuk transportasi dan mata pencaharian, seperti menjadi nelayan.
Selain itu, sungai ini juga berperan penting dalam menghubungkan berbagai wilayah di Kalimantan Barat, dari pesisir hingga ke pedalaman Putussibau
Mistis
Namun, di balik kemegahannya, Sungai Kapuas juga menyimpan berbagai cerita misteri yang sampai saat ini banyak dipercaya orang.
Salah satu yang paling terkenal adalah sosok penunggu Sungai Kapuas yang banyak disebut sebagai Puake.
Dilansir dari berbagai sumber, Puake atau juga disebut Puaka merupakan sosok raksasa yang menunggu kawasan perairan Indonesia
Di Kalimantan Barat, sosok ini sering dikaitkan dengan tragedi kecelakaan kapal. Misalnya, karamnya kapal dari pelabuhan Senghie menuju Ketapang beberapa tahun lalu.
Konon, karamnya kapal tersebut disebabkan oleh Puake yang mendiami Sungai Kapuas.
Para sejarawan dan budayawan mengungkapkan sebenarnya Puake berasal dari bahasa Melayu yang artinya besar atau raksasa.
Keberadaan Puake sebagai penunggu Sungai Kapuas telah dipercaya sejak dahulu.
Ada sumber mengatakan Puake sebenarnya tidak mengganggu, tetapi sumber lain menyebutkan bahwa Puake sering kali meminta tumbal.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Kapuas percaya ada beberapa jenis Puake, salah satunya adalah Puake buaya putih yang disebut sebagai sarassa.
Masyarakat Bansir di Pontianak mengaku percaya dengan Puake jenis ini. Mereka menyebut buaya penjaga tersebut sebagai kembaran Mak Tua yang telah meninggal.
Bahkan, beberapa orang pecaya bahwa puake sering muncul pada saat orang-orang yang tinggal di sekitar Sungai Kapuas mengadakan acara pernikahan dan meriam karbit saat takbiran.
Konon, kemunculannya ini dikaitkan dengan peringatan kepada masyarakat untuk mengadakan ritual ‘buang-buang’, yakni ritual yang melepaskan beberapa benda ke sungai, seperti minyak, telur ayam kampung, benang, paku dan beras kuning.
Namun, sebagian masyarakat Pontianak juga meyakini bahwa Puake bukan berwujud buaya, tetapi ular besar dengan kepala di muara sungai dan ekor di hulu sungai.
Sumber lain mengatakan bahwa sebagian masyarakat juga ada yang memercayai Puake berbentuk kura-kura yang disebut sebagai Puake Biukur.
Ada sebuah cerita tentang Puake yang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Konon, pada tahun 1994, ada segerombolan anak yang bermain air di kawasaran Sungai Kapuas.
Mereka bermain dengan menghanyutkan diri dari hulu ke hilir menggunakan ban.
Namun, pada satu waktu, tiba-tiba datang gelombang yang besar sampai membuat mereka terpelanting ke tepi sungai.
Sang tetua desa pun mengatakan bahwa gelombang tersebut berasal dari Puake yang marah karena anak-anak tersebut berlaku kurang sopan. Ia pun memperingatkan anak-anak untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi dan berlaku sopan.
Hingga saat ini, sosok Puake yang sebenarnya masih belum ada yang mengetahui. Sebab, setiap masyarakat memiliki gambaran dan kepercayaan sendiri-sendiri mengenai makhluk tersebut.(*)
*dari berbagai sumber











