Waspada Penyakit Paru, dr. Achmad Syamsufandi Rozi Imbau Masyarakat Kenali Gejalanya Sejak Dini

foto: dr. Achmad Syamsufandi Rozi, Sp.P

TROL, Magetan – Penyakit paru-paru masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian masyarakat. Selain disebabkan oleh infeksi, gangguan pada organ pernapasan juga dipicu kebiasaan merokok, paparan polusi udara, hingga lingkungan kerja yang penuh debu dan bahan kimia.

Dokter Spesialis Paru RSUD dr. Sayidiman Magetan, dr. Achmad Syamsufandi Rozi, Sp.P, mengatakan paru-paru merupakan organ vital yang berfungsi memasok oksigen ke seluruh tubuh. Karena itu, menjaga kesehatan paru menjadi langkah penting untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup.

“Masih banyak masyarakat yang datang berobat ketika penyakit sudah berada pada tahap lanjut. Padahal, sebagian besar penyakit paru memiliki peluang penanganan yang lebih baik apabila terdeteksi sejak dini,” tutur dr. Achmad, Senin (13/7) di ruang kerjanya.

Menurut dr. Achmad, terdapat sejumlah penyakit paru yang paling sering ditemui di fasilitas pelayanan kesehatan. Di antaranya adalah tuberkulosis (TB), pneumonia, asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga kanker paru.

TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Sementara pneumonia terjadi akibat infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru. Adapun PPOK umumnya berkembang akibat paparan asap rokok dalam jangka panjang, sedangkan kanker paru memiliki hubungan erat dengan kebiasaan merokok maupun paparan zat karsinogen.

Selain faktor infeksi, kata dia, gaya hidup dan kondisi lingkungan turut memengaruhi meningkatnya risiko penyakit paru. Kebiasaan merokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, menjadi penyebab utama kerusakan paru. Risiko juga meningkat pada masyarakat yang sering terpapar polusi udara, asap kendaraan, pembakaran sampah, maupun debu di lingkungan kerja.

“Rokok masih menjadi faktor risiko terbesar berbagai penyakit paru kronis. Karena itu, berhenti merokok adalah investasi terbaik untuk menjaga kesehatan paru,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan yang berlangsung lama. Batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, nyeri dada, batuk berdarah, demam berkepanjangan, serta penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas perlu segera diperiksakan ke dokter.

Deteksi dini, lanjut dr. Achmad, dapat mempercepat diagnosis sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan. Pemeriksaan medis juga penting untuk membedakan apakah keluhan disebabkan infeksi, alergi, penyakit kronis, atau keganasan.

Untuk mencegah penyakit paru, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan tidak merokok, menghindari paparan asap rokok, menggunakan alat pelindung diri saat bekerja di lingkungan berdebu, memakai masker ketika kualitas udara buruk, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, kurangi begadang malam hari serta menjaga daya tahan tubuh.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan etika batuk, dan melengkapi imunisasi sesuai anjuran tenaga kesehatan guna menekan risiko infeksi saluran pernapasan.

“Jangan menunggu sampai sesak napas berat atau batuk berdarah baru datang ke rumah sakit. Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang penyakit dapat ditangani dengan baik,” pungkasnya.

Melalui edukasi kepada masyarakat, diharapkan kesadaran untuk menjaga kesehatan paru terus meningkat sehingga angka kejadian penyakit paru dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat semakin baik. (Totok finews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *