TROL, Trenggalek – Upaya menanamkan budaya menabung sejak dini di Kabupaten Trenggalek dilakukan dengan cara yang berbeda. Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri memadukan gerakan menabung dengan edukasi pengelolaan sampah melalui Program Sangu Sampah.
Program tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Indonesia Menabung yang digelar di GOR Gajah Putih Trenggalek, Kamis (20/8). Sebanyak 853 pelajar dari berbagai sekolah menerima rekening tabungan baru sebagai bagian dari gerakan Satu Pelajar Satu Rekening.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, perluasan kepemilikan rekening bagi pelajar menjadi salah satu upaya untuk membangun kebiasaan menabung sejak usia dini.
“Hari ini kami beserta OJK Kediri memperingati Hari Indonesia Menabung. Dan salah satu target yang ingin kita capai, satu rekening satu pelajar,” kata Mas Bupati.
Namun, menabung bagi pelajar tidak selalu mudah. Keterbatasan uang saku membuat sebagian siswa kesulitan menyisihkan uang untuk ditabung.
Pemkab Trenggalek kemudian mengembangkan Program Sangu Sampah sebagai salah satu alternatif. Melalui program ini, pelajar diajak memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Sampah yang telah dipilah dikumpulkan di sekolah untuk kemudian dikonversikan menjadi nilai ekonomi. Hasil penjualan sampah tersebut menjadi “sangu sampah” yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pelajar maupun disisihkan sebagai tabungan.
Menurut Mochamad Nur Arifin, pendekatan tersebut membuat edukasi menabung berjalan beriringan dengan pembentukan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kebetulan di Trenggalek itu kita stimulasi dengan program sangu sampah. Trenggalek ingin net zero karbon di 2045. Kita ingin kelola sampah kita yang bisa mendorong siswa-siswa punya rekening,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Sampah yang memiliki nilai ekonomi harus dipisahkan agar tidak tercampur dengan sampah lain sehingga tetap memiliki nilai jual.
Setelah memiliki nilai ekonomi, hasil pengelolaan sampah tersebut dapat dikembalikan kepada pelajar. Dengan mekanisme itu, sampah tidak sekadar dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai ekonomi.
Program Sangu Sampah sekaligus menjadi sarana mengenalkan literasi keuangan kepada pelajar. Mereka tidak hanya diajarkan untuk memilah sampah, tetapi juga diarahkan memahami manfaat mengelola hasilnya dan menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Pemkab Trenggalek berharap kolaborasi dengan OJK Kediri tersebut dapat memperkuat budaya menabung di kalangan pelajar. Di sisi lain, kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak sekolah diharapkan turut mendukung target Trenggalek menuju net zero carbon 2045.
Dengan pendekatan tersebut, gerakan satu pelajar satu rekening tidak hanya berbicara tentang kepemilikan rekening, tetapi juga bagaimana pelajar memiliki sumber dana, kebiasaan menabung, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. (*)
*sumber: prokopimtrenggalek











