Menapak Jejak Leluhur di Gunung Bancak, Kisah Cinta dan Perjuangan Maduretno-Raden Rangga Prawiradirdja III

foto: ist/kominfo magetan

TROL, Magetan – Langkah demi langkah menyusuri anak tangga menuju puncak Gunung Bancak, Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kamis (8/10), mengantarkan rombongan ziarah pada sebuah perjalanan yang bukan sekadar menapaki ketinggian, tetapi juga menyusuri lorong panjang sejarah Magetan.

Udara sejuk khas perbukitan menyambut kedatangan Bupati Magetan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan rombongan. Di tengah suasana yang teduh dan khidmat, mereka mengikuti ziarah Tujuh Makam Leluhur sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Magetan.

Diantara situs-situs bersejarah yang dikunjungi, Kompleks Makam Maduretno dan suaminya, Raden Rangga Prawiradirdja III, menyimpan kisah yang melampaui batas waktu. Di tempat ini, sejarah tak hanya berbicara tentang kekuasaan dan perjuangan, tetapi juga tentang cinta, kesetiaan, dan ikatan batin yang tetap dikenang lintas generasi.

Jejak Perjuangan di Balik Kisah Kesetiaan

Nama Raden Rangga Prawiradirdja III tercatat dalam sejarah sebagai salah satu bangsawan yang memiliki peran penting di wilayah Madiun dan sekitarnya. Sebagai Wedana Bupati Mancanegara Timur Kesultanan Yogyakarta yang berkedudukan di Madiun, ia memimpin wilayah luas yang mencakup kawasan Magetan.

Pada masanya, Raden Rangga dikenal berani menentang campur tangan kolonial Belanda, terutama di bawah kepemimpinan Herman Willem Daendels pada tahun 1810. Sikap perlawanan tersebut menjadikannya bagian dari kisah perjuangan para bangsawan Jawa dalam mempertahankan kewibawaan dan kedaulatan wilayahnya.

Dibalik sosok pejuang itu ada Maduretno, perempuan yang namanya tak terpisahkan dari perjalanan hidup sang suami. Ia dikenang sebagai pendamping yang setia, menghadirkan sisi lain dari sebuah perjuangan: keteguhan hati, pengabdian, dan kekuatan cinta di tengah pergolakan zaman.

Kisah keduanya seolah menemukan keabadian di puncak Gunung Bancak. Maduretno dimakamkan di perbukitan tersebut. Sementara itu, Raden Rangga Prawiradirdja III, yang semula dimakamkan di Sekar, Bojonegoro, kemudian dipindahkan agar dapat beristirahat kembali di sisi permaisurinya.

Berada ditempat peristirahatan terakhir itu, keduanya seakan menyisakan pesan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh keberanian menghadapi kekuasaan, tetapi juga oleh kesetiaan yang bertahan melewati waktu.

Ziarah, Merawat Ingatan dan Jati Diri Magetan

Bagi rombongan yang hadir, ziarah ke makam leluhur bukan semata-mata agenda rutin dalam kalender peringatan hari jadi daerah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menengok kembali akar sejarah dan mengenali nilai-nilai yang membentuk jati diri Magetan.

Tradisi nurut lacak menjadi pengingat akan pentingnya menelusuri jejak para pendahulu, memahami perjuangan mereka, sekaligus merawat kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam suasana hening di kompleks makam, doa bersama dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur. Kehadiran jajaran pimpinan daerah dalam kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan antara masa lalu, kehidupan hari ini, dan cita-cita Magetan di masa mendatang.

Sebab, sebuah daerah tidak tumbuh hanya dari pembangunan fisik, jalan yang semakin terbuka, atau gedung-gedung yang berdiri megah. Ada ingatan kolektif, nilai perjuangan, dan keteladanan para pendahulu yang turut menjadi fondasi bagi perjalanan sebuah daerah.

Berawal Dari Gunung Bancak Untuk Generasi Mendatang

Ketika rombongan mulai meninggalkan puncak Gunung Bancak, perjalanan itu menyisakan lebih dari sekadar kenangan tentang sebuah prosesi ziarah. Ada pelajaran yang dapat dibawa pulang: keberanian untuk mempertahankan prinsip, keteguhan dalam menghadapi tantangan, serta kesetiaan yang tidak lekang oleh perubahan zaman.

Kisah Maduretno dan Raden Rangga Prawiradirdja III menjadi bagian dari warisan sejarah yang patut terus dikenalkan kepada generasi muda. Bukan hanya agar nama mereka tetap diingat, melainkan agar nilai-nilai yang menyertai perjalanan hidup mereka dapat dipahami dan diteladani.

Puncak Gunung Bancak, sejarah seolah berbisik bahwa masa depan yang kuat selalu berakar pada masa lalu yang dihormati. Bagi Magetan, merawat jejak leluhur berarti menjaga jati diri sekaligus meneguhkan langkah menuju masa depan yang lebih baik.(Totok Swa)

 

*sumber: kominfo magetan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *