foto : Siswa SMKN 1 demo di depan sekolah menolah iuran Sekolah, Senin (5/9)
TROL, Tulungagung – Ribuan siswa SMKN 1 Boyolangu, kabupaten Tulungagung menggelar aksi unjuk rasa memprotes pihak sekolah.
Mereka menolak besaran sumbangan yang ditetapkan oleh pihak sekolah melalui rapat komite. Menurut para siswa sumbangan ini dianggap memberatkan bagi orang tua. Setiap tahun mereka diminta menyumbang dengan nominal yang telah ditetapkan.
Siswa juga keberatan karena selama 3 tahun terakhir tidak ada pembangunan fasilitas seperti yang dijanjikan oleh pihak sekolah.
1. Tidak Diimbangi Dengan Pembangunan Fasilitas
Salah seorang siswa inisial NAmengatakan besaran sumbangan yang dibebankan berbeda setiap kelasnya. Sesuai hasil rapat terakhir untuk kelas X besaran sumbangan mencapai 2,7 juta, kelas XI sebesar 1,2 juta dan kelas XII sebesar 1,6 juta. Tarikan sumbangan ini tidak diikuti oleh pembangunan fasilitas untuk siswa. Seperti fasilitas parkir dan ruang kelas.
Beberapa siswa belajar di luar ruang. “Dulu saat kita kelas X dijanjikan akan dibangunkan tempat parkir dua lantai tapi sampai sekarang kelas XII tidak ada wujudnya, sumbangan kok ada besarannya seharusnya menyumbang itu sukarela,” ujarnya, Senin (5/9).
2. Sekolah Batalkan Hasil Rapat
Akibatnya sekolah membatalkan hasil keputusan rapat dengan wali murid dan komite terkait sumbangan ini.
Selain itu bagi yang sudah membayar sumbangan selama tiga tahun terakhir akan mendapatkan rincian penggunaan uang tersebut. Jika dalam laporan rincian tidak sesuai dengan rencana pembangungan sekolah maka uang akan dikembalikan.
Menanggapi hasil audiensi ini, AP salah seorang perwakilan siswa mengaku kurang puas. Menurutnya hasil audiensi ini hanya dibuat agar siswa tidak emosi. “Audiensi hanya untuk meredam emosi kami, yang jelas kami kurang puas,” Kata AP.
3. Sekolah Segera Gelar Rapat
Kepala SMKN 1 Boyolangu, Arik Eko Lestari di depan siswa yang demo menerangkan sebenarnya tidak ada keharusan dalam membayar sumbangan tersebut. Sesuai hasil rapat hanya wali murid yang mampu saja untuk membayar besaran sumbangan ini.
Pasca kejadian aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh siswa, pihak sekolah akan segera melakukan rapat lagi bersama wali murid dan komite guna membahas permasalah tersebut. “Kami menduga ada kesalahan persepsi yang terjadi saat rapar, tidak ada keharusan dalam membayar sumbangan,” katanya.(bambang)











