Ekbis  

Curah Hujan Tinggi Picu Harga Cabai di Kota Blitar Melonjak Tajam

foto: salah satu petani cabai di kota blitar/blitarkota.go.id

TROL, Kota Blitar – Harga cabai di Kota Blitar melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu tingginya curah hujan yang berdampak pada turunnya produksi petani.

Berdasarkan pemantauan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, hasil panen cabai menurun akibat faktor cuaca serta meningkatnya serangan penyakit tanaman. Pada Februari ini, produksi cabai besar di Kota Blitar tercatat sekitar 44 kuintal, sedangkan cabai rawit mencapai 374 kuintal.

Kepala DKPP Kota Blitar, Dewi Masitoh, mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi di Kota Blitar, tetapi juga melanda sejumlah daerah di Jawa Timur.

“Kenaikan ini bukan hanya di Kota Blitar. Hampir di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur juga mengalami kondisi yang sama,” ucap Dewi.

Ia menjelaskan, curah hujan yang masih tinggi membuat tanaman cabai tidak dapat berproduksi secara maksimal. Tanaman cabai, lanjutnya, bukan komoditas yang membutuhkan banyak air.

“Dengan curah hujan yang tinggi, beberapa penyakit yang berasal dari jamur, parasit, dan virus mudah masuk ke tanaman cabai. Jadi memang untuk saat ini hasilnya tidak bisa optimal, sementara kebutuhan tinggi tetapi produksi kurang,” ujarnya.

Menurut Dewi, kondisi lembap saat musim hujan menjadi faktor utama berkembangnya penyakit tanaman.

“Cabai itu tidak membutuhkan terlalu banyak air. Kalau terlalu lembap, justru rentan terserang penyakit,” tuturnya.

Salah satu penyakit yang dominan menyerang saat musim hujan adalah patek atau antraknosa yang disebabkan jamur genus Colletotrichum. Penyakit ini tergolong merugikan karena menyerang langsung buah cabai, terutama menjelang panen.

“Patek ini menyerang buah. Kalau sudah parah, cabai menjadi busuk dan tidak bisa dijual. Ini yang cukup merugikan petani,” kata Dewi.

Gejala serangan patek ditandai munculnya bercak kecil berwarna cokelat kehitaman pada buah. Bercak tersebut kemudian menjadi cekung, meluas membentuk lingkaran, dan muncul titik-titik hitam berupa spora jamur. Pada tahap lanjut, buah mengalami busuk kering, menghitam, serta rontok sebelum masa panen.

Data Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat harga cabai pada Februari 2026 mencapai Rp66.231 per kilogram. Angka ini naik 88,85 persen dibandingkan Januari yang berada di harga Rp35.130 per kilogram. (*)

#blitarkota.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *