MPLS SLB Negeri Ngadirojo Pacitan Integrasikan SPAB

foto: penyampaian materi kesiapsiagaan bencana oleh samsul arifin

TROL, Pacitan – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLB Negeri Ngadirojo Pacitan tidak hanya menjadi ajang bagi murid untuk mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang sangat penting, yaitu kesiapsiagaan menghadapi bencana. Melalui kegiatan Materi Siap Siaga Bencana yang dilaksanakan pada Kamis (16/7) di Aula SLB Negeri Ngadirojo Pacitan, sekolah mengintegrasikan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebagai bagian dari upaya membangun budaya aman, tangguh, dan inklusif sejak hari pertama murid memasuki lingkungan sekolah.

Materi disampaikan oleh Pendamping SPAB, Dimy Mullyana, kepada 60 peserta yang terdiri atas murid jenjang TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB, serta pendidik, tenaga kependidikan, dan staf sekolah. Murid yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai ragam disabilitas, meliputi disabilitas sensorik (tunanetra dan tunarungu), disabilitas intelektual, tunagrahita, Down syndrome, dan ADHD.

Dalam penyampaiannya, Dimy Mullyana mengenalkan berbagai jenis bencana yang berpotensi terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan kekeringan. Murid juga diajak memahami dampak bencana terhadap kehidupan, mengenali jenis-jenis gempa bumi, serta mempelajari langkah-langkah kesiapsiagaan, mulai dari mengenali rambu dan jalur evakuasi, mengetahui lokasi titik kumpul (assembly point), hingga pentingnya menyiapkan Tas Siaga Bencana (SISAGA) yang berisi perlengkapan penting untuk menghadapi kondisi darurat. Seluruh materi dikemas secara komunikatif dan aksesibel melalui media visual, demonstrasi, diskusi, serta praktik yang disesuaikan dengan karakteristik murid berkebutuhan khusus.

dimy mullyana, pendamping spab menyampaikan materi siap siaga bencana

Tidak hanya menerima materi, para murid juga mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi melalui metode Drop, Cover, and Hold On. Mereka berlatih melindungi kepala, berlindung pada tempat yang aman, kemudian melakukan evakuasi menuju titik kumpul dengan tertib mengikuti arahan guru. Kegiatan praktik tersebut memberikan pengalaman belajar secara langsung sehingga murid tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan dasar untuk merespons situasi darurat dengan tenang dan tepat.

Kepala SLB Negeri Ngadirojo Pacitan, Rini Susilawati, mengatakan bahwa pembelajaran kesiapsiagaan bencana perlu dikenalkan sejak awal murid memasuki lingkungan sekolah.

“Melalui kegiatan MPLS ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan keterampilan hidup yang harus dimiliki setiap murid. Sebagai sekolah yang mengimplementasikan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), kami berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan tangguh. Harapannya, seluruh murid memahami cara melindungi diri dan dapat bertindak dengan tepat apabila terjadi keadaan darurat,” ujarnya.

Menurut Ketua Panitia MPLS, Efi Yosniar, materi kesiapsiagaan bencana sengaja ditempatkan sebagai salah satu materi pokok dalam rangkaian MPLS agar murid memperoleh bekal keselamatan sejak hari pertama berada di lingkungan sekolah. Selain mengenalkan budaya sekolah, MPLS juga menjadi momentum membangun karakter murid yang peduli terhadap keselamatan diri, sesama, dan lingkungan.

praktik drop, cover, and hold on bersama murid

“Kami mengintegrasikan materi Siap Siaga Bencana ke dalam rangkaian MPLS sebagai bentuk pengimbasan Program SPAB kepada seluruh warga sekolah. Penyampaian materi disesuaikan dengan karakteristik murid di SLB sehingga mudah dipahami, menarik, dan dapat dipraktikkan. Kami berharap budaya siaga bencana menjadi kebiasaan yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah,” jelasnya.

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif tersebut mendapat sambutan antusias dari para murid. Mereka aktif menjawab pertanyaan, berdiskusi, membongkar isi Tas Siaga Bencana, hingga mempraktikkan gerakan penyelamatan diri saat gempa. Pendekatan belajar yang menggabungkan teori dan praktik membuat materi lebih mudah dipahami oleh murid dengan berbagai karakteristik kebutuhan belajar.

Salah seorang murid, Nurkholis, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena memperoleh pengalaman baru yang bermanfaat.

“Saya senang ikut kegiatan ini. Saya jadi tahu kalau ada gempa harus tetap tenang, berlindung, lalu mengikuti guru ke tempat kumpul. Bu Dimy menjelaskan materinya dengan jelas sehingga saya mudah memahami. Saya juga bisa praktik cara melindungi diri saat terjadi gempa. Semoga nanti kami bisa latihan lagi supaya lebih hafal dan tidak panik kalau ada bencana,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, SLB Negeri Ngadirojo Pacitan menegaskan komitmennya untuk terus mengimplementasikan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) secara berkelanjutan. Dengan membekali seluruh warga sekolah pengetahuan, keterampilan, dan sikap siaga bencana sejak MPLS, sekolah berharap dapat mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan tangguh, sehingga setiap murid memiliki kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. (can finews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *