Atasi Kendala Budidaya Cabai, DKPP Kota Blitar Dampingi KWT Terapkan Teknologi IoT

TROL, Kota Blitar – Serangan hama dan penyakit saat musim hujan menjadi salah satu tantangan dalam budidaya cabai. Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kota Blitar mengenalkan teknologi smart greenhouse dan hidroponik berbasis Internet of Things (IoT) kepada kelompok wanita tani (KWT).

Pendampingan bertajuk Smart Urban Hidroponik Cabai ini berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di tiga KWT, masing-masing di Kelurahan Klampok, Tlumpu, dan Tanggung. Program yang didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tersebut diawali di KWT Dewi Sri, Kelurahan Klampok, Selasa (13/10).

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Penyuluhan DKPP Kota Blitar, Dian Lukitasari, mengatakan sebanyak 20 anggota KWT akan mendapatkan pendampingan selama dua bulan, mulai Oktober hingga November 2026.

“Kita memperkenalkan teknologi ini untuk mengatasi kendala-kendala budidaya cabai selama ini. Kalau di lapangan kendala menanam cabai itu jika di musim hujan, itu banyak sekali tantangannya di hama dan penyakit,” kata Dian.

Dalam program ini, anggota KWT mendapatkan materi budidaya cabai modern dari tim DKPP Kota Blitar bersama narasumber Balai Pelatihan Pertanian Ketindan, Malang. Materi mencakup penggunaan smart greenhouse, sistem hidroponik, serta pemanfaatan IoT untuk memantau kondisi tanaman melalui perangkat yang terhubung dengan internet.

DKPP menjadikan tiga KWT tersebut sebagai lokasi percontohan untuk mengukur efektivitas teknologi dalam budidaya cabai. Penerapannya akan dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana teknologi tersebut dapat membantu mengatasi kendala penanaman sekaligus mendukung peningkatan produktivitas.

Setiap KWT juga akan menerima paket bantuan berupa smart mini greenhouse, instalasi hidroponik, perangkat IoT beserta smartphone atau tablet, nutrisi tanaman cabai, serta praktik pengemasan hasil panen.

Bagi anggota KWT, pendampingan ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan keterampilan budidaya, tetapi juga peluang memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.

Tatik Mujiatiningsih, anggota KWT Dewi Sri yang bertugas di bagian pemasaran, mengatakan pelatihan tersebut menambah pengetahuan anggota dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Ia berharap anggota KWT dapat mengembangkan kemampuan budidaya, tidak hanya berfokus pada pemasaran hasil panen.

“Jadi dalam kegiatan ini kita jadi bisa membedakan panen cabai yang di lahan sawah, sama lahan cabai yang kita tanam di green house yang kita dapatkan hari ini. Hasilnya bagaimana kita masih belum tahu, semoga ada perbandingan yang lebih banyak,” ungkap Tatik.

Menurut Tatik, hasil penerapan teknologi tersebut masih perlu dilihat melalui proses budidaya hingga panen. Perbandingan hasil antara penanaman di lahan terbuka dan greenhouse diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai manfaat teknologi yang diperkenalkan.

DKPP Kota Blitar berharap pendampingan ini memberi kesempatan kepada anggota KWT untuk mempraktikkan langsung teknologi pertanian modern. Hasil penerapannya diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk mengembangkan budidaya cabai yang lebih adaptif terhadap kendala di lapangan, sekaligus mendukung produktivitas dan ketahanan pangan keluarga. (*)

*sumber: blitarkota.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *