Dukun Beranak Tumpuan Hidup Ibu Melahirkan

foto: ilustrasi

 

TROL,- Salah satu jenis dukun yang punya peran lebih krusial di masyarakat dan kemudian dikerdilkan oleh pemerintah kolonial adalah dukun beranak.

Pandangan negatif pemerintah kolonial itu kemudian membuat dukun tak lagi dilihat dari segi keahliannya tapi dari aspek mistisnya semata. Hal ini terlihat dari kamus Inggris-Melayu Bowrey pada 1701 yang mendeskripsikan dukun sebagai ahli pengobatan dan sains. Setelah pemerintah kolonial masuk, dalam kamus Nederlandsch van Indie (1917), kata dukun hanya dideskripsikan sebagai orang yang punya kekuatan magis, bukan ahli kesehatan.

Asal-usul kata dukun sendiri pernah ditulis oleh peneliti Inggris Jennifer Nourse, yang menemukan bahwa kata itu berasal dari bahasa Persia děhqn atau dukkan, yang memiliki kemampuan untuk mengobati

Sejarawan dari Institut Agama Islam Negeri Surakarta, Martina Safitry mengatakan, dukun beranak punya kedekatan emosional yang dalam dengan masyarakat karena tidak hanya membantu persalinan, tapi juga membantu ibu saat hamil serta merawat anaknya. Selain itu, dukun beranak juga tidak mematok tarif yang mahal sehingga bisa diakses semua kalangan.

Ilmu yang didapat oleh para dukun beranak tersebut berasal dari pengetahuan turun-temurun. Perlu waktu bertahun-tahun bagi mereka untuk belajar tentang proses melahirkan, sehingga sebagian besar dukun beranak sudah berusia lanjut. Pengalaman mereka yang sudah puluhan tahun membantu persalinan membuat banyak pihak tidak meragukan kapasitas mereka.

“Dulu memang dokter masih terbatas, dan enggak semua orang Belanda di nusantara itu kaya. Jadinya, banyak juga yang pakai jasa dukun beranak, termasuk perempuan Eropa dan Indo,” ujar Martina

Kecaman Dokter Belanda

Persepsi negatif pemerintah kolonial terhadap praktik dukun beranak terlihat dari salah satu catatan dokter Belanda bernama Van Buuren, yang meneliti praktik dukun beranak di Kediri, Jawa Timur, pada akhir abad 19.

Buuren menulis bahwa semua proses persalinan yang dilakukan oleh dukun beranak sebagai sesuatu yang sangat berbahaya karena tidak didukung dengan alat-alat yang steril. Buuren bahkan meyebut para dukun beranak sebagai malaikat kematian yang tidak kompeten. Ia mengkritik kepercayaan dukun beranak yang menyebut bahwa saat melahirkan, sang ibu dilarang menjerit karena hamil adalah hasil dari berhubungan seksual yang dilakukan diam-diam.

“Hasil penelitian Buuren ini sangat lekat dengan kacamata kolonial. Perspektifnya Barat banget yang memandang kalau pribumi itu jauh dari ilmu pengetahuan. Padahal, pengalaman dukun beranak itu sudah banyak sekali dan secara emosional membantu masyarakat,” ujar Martina.

Sosialisasi KB Masa Orde Baru

Saat Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKAI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) didirikan pada tahun 1950-an, masih banyak orang yang masih menggunakan jasa dukun beranak.

Sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta, Eka Ningtyas dalam artikel jurnal berjudul “Rationalization of Health in Java: A Historical Portrait of Dukun Bayi in Java to the Present” (2020), menulis bahwa kedekatan dukun beranak dengan masyarakat kelas bawah membuat mereka direkrut menjadi agen pemerintah untuk membantu program Keluarga Berencana (KB) pada masa Orde Baru.

Pelibatan mereka dalam program tersebut diharapkan akan membuat masyarakat lebih mudah mengerti dan mau menjadi akseptor KB. Tapi di sisi lain, banyak dukun beranak yang sadar bahwa KB akan memengaruhi pendapatan mereka karena menurunnya angka kelahiran.

Meski demikian, jumlah dukun beranak semakin banyak, menurut catatan Eka. Pada 1973, ada 62.570 dukun beranak di Indonesia. Puncaknya, pada 1979, hampir 80 persen kelahiran dibantu oleh dukun beranak. Jumlah dukun beranak terus bertambah sampai ke angka 200 ribu pada 1989, tulisnya.

Angka itu kemudian merosot setelah era Reformasi, seiring dengan makin pesatnya ilmu pengetahuan dan sekolah dokter serta adanya klinik bidan di mana-mana.

Dokter umum dari layanan telekonsultasi Good Doctor, Sandra Suryadana mengatakan, keberadaan dukun beranak tetap penting, terutama bagi perempuan di daerah yang tidak bisa dijangkau oleh pemerintah.

“Kalau ada anggapan dukun beranak ini berbahaya, saya rasa itu tidak benar, karena obat-obat herbal yang mereka buat itu juga bisa diuji secara ilmiah. Mereka juga bisa membantu ibu secara psikologis atau spiritual,” ujar Sandra, yang juga penggagas kolektif Dokter Tanpa Stigma.

“Sekarang ini obat-obatan dan dokter itu mahal dan hanya bisa diakses oleh orang menengah ke atas. Kalau dukun beranak itu penduduk asli, misalnya, mereka punya perspektif kearifan lokal,” ia menambahkan.

Sandra merekomendasikan adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan daerah seperti puskesmas dan dukun beranak di tingkat daerah, agar mereka punya relasi yang erat dan tidak seolah sedang berkompetisi antara tradisional dan ilmiah.

“Sayang kalau peran mereka mau disingkirkan karena dianggap ketinggalan zaman atau apa. Mereka itu sangat dihormati di masyarakatnya sendiri, terutama di daerah terpencil. Mereka bisa menjadi senjata untuk memberi informasi kepada masyarakat yang tidak terjangkau arus informasi utama seperti berita dan sosial media,” ujar Sandra.(*)

 

*magdalene.co/siti parhani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *