Opini  

Temperamental, karena Gen atau Lingkungan?

foto: ilustrasi/istimewa

TROL,-Faktor gen dan lingkungan membentuk sifat temperamental.Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang mudah tersulut emosi, reaktif terhadap hal-hal kecil, atau bahkan terlihat meledak-ledak. Sifat ini dikenal sebagai temperamental—yakni kecenderungan seseorang untuk bereaksi secara emosional berlebihan terhadap situasi tertentu.

Namun, apa yang membuat seseorang menjadi temperamental? Apakah ini semata bawaan sejak lahir, atau ada peran lingkungan?

Faktor Genetik

Penelitian menunjukkan bahwa sifat temperamental sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Zuckerman dan Glicksohn (2016) menyatakan bahwa sekitar 30–60 persen variasi temperamen seseorang ditentukan oleh faktor genetik, yang berarti bahwa jika orang tua memiliki sifat emosional yang kuat, besar kemungkinan anak mereka akan mewarisi kecenderungan yang sama.

Studi oleh Saudino (2005) dalam Developmental Psychobiology juga mendukung temuan ini, menjelaskan bahwa komponen genetik memengaruhi kestabilan temperamen sejak bayi hingga masa kanak-kanak awal.

Lingkungan: Pengalaman dan Pola Asuh

Meski genetik memainkan peran besar, lingkungan sosial juga sangat berpengaruh. Menurut Martel (2013) dalam Clinical Psychology Review, pengalaman traumatis masa kecil atau pola asuh yang keras dapat membentuk seseorang menjadi lebih temperamental.

Rahayu dan Fitriana (2022) dalam jurnal Psikologi Ulayat menegaskan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi buruk atau kontrol emosional lemah lebih berisiko mengalami ledakan emosi.

Perkembangan Individu: Remaja Hingga Dewasa

Sifat temperamental tidak hanya muncul sejak kecil. Menurut Gross dan Thompson (2007), perubahan hormon dan tekanan psikososial selama masa remaja dan dewasa juga dapat memunculkan reaktivitas emosional yang tinggi. Masa seperti pernikahan, kehamilan, atau kehilangan pekerjaan menjadi pemicu baru munculnya sifat ini.

Yunita (2021) dalam Jurnal Psikologi Insight menambahkan bahwa kondisi stres jangka panjang dapat meningkatkan sensitivitas emosional individu terhadap lingkungan sosialnya.

Cara Mengelola Sifat Temperamental

Menumbuhkan Kesadaran Diri

Langkah awal adalah mengenali dan menerima sifat temperamen yang dimiliki. Gross & Thompson (2007) menyarankan bahwa kesadaran terhadap reaksi emosional sendiri adalah dasar dalam emotion regulation atau pengelolaan emosi.

Mengelola Emosi secara Aktif

Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, hingga olahraga dapat membantu menurunkan intensitas emosi. Martel (2013) menyatakan bahwa regulasi emosi yang dipelajari sejak dini dapat mencegah perilaku agresif saat dewasa.

 Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Sifat temperamental sering menyebabkan konflik sosial. Dengan belajar berkomunikasi secara asertif dan memahami sudut pandang orang lain, konflik dapat diminimalkan. Yunita (2021) menunjukkan bahwa pelatihan komunikasi interpersonal efektif membantu individu temperamental membentuk hubungan yang lebih sehat.

Mencari Dukungan Sosial dan Profesional

Rahayu & Fitriana (2022) menyarankan agar individu dengan emosi yang sulit dikendalikan mencari bantuan profesional seperti psikolog, karena pendekatan terapeutik dapat membantu membentuk strategi pengelolaan yang lebih tepat.

Menyesuaikan Lingkungan

Jika memungkinkan, pilih lingkungan kerja atau sosial yang tidak memicu stres berlebihan. Gross dan Thompson (2007) menekankan bahwa lingkungan berperan sebagai pemicu atau penenang bagi respons emosional seseorang.

Kabar Baik: Sifat ini Bisa Dikelola

Sifat temperamental memang bisa diturunkan dari orang tua, seperti disampaikan oleh Zuckerman dan Glicksohn (2016), namun faktor lingkungan (Martel, 2013) dan perkembangan psikososial (Gross & Thompson, 2007) juga memainkan peran penting dalam membentuknya.

Namun, kabar baiknya: sifat ini bisa dikelola. Melalui kesadaran diri, regulasi emosi, komunikasi yang baik, dan dukungan yang tepat, seseorang dapat menghindari dampak negatif dari temperamen berlebih, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dengan diri sendiri maupun orang lain.(*)

 

*gonews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *