Opini: Oleh. Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I., M.A,Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
TROL,- Guru tidak lagi dianggap hanya sebagai orang yang memberi tahu ilmu pengetahuan saja. Lebih dari itu, guru adalah orang yang mampu mengubah karakter, cara berpikir, dan masa depan anak-anak bangsa. Ini adalah intinya: meningkatkan kemampuan guru bukan hanya sekadar program tahunan atau tuntutan administrasi, tapi sebuah investasi strategis jangka panjang. Investasi ini menjadi dasar penting untuk mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan, yang mampu menghadapi tantangan zaman sekarang tanpa melupakan nilai-nilai dasar yang ada. Bahkan dari sudut pandang Islam, menginvestasikan pada sumber daya manusia, terutama para pendidik, adalah gambaran dari visi risalah kenabian, sekaligus menjadi fondasi peradaban yang kuat.
Data nasional hingga akhir menyebutkan tahun 2025 menunjukkan bahwa para pendidik di Indonesia memiliki tugas strategis yang besar. Kementerian Agama mencatat bahwa terdapat 262.971 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang melayani minimal 41,8 juta siswa Muslim di 317.520 sekolah umum. Angka ini belum mencakup jutaan guru mata pelajaran umum di berbagai tingkat pendidikan. Skala besar ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan nasional sangat bergantung pada kualitas para guru. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, guru yang berkualitas akan memberikan pembelajaran yang berkualitas, yang selanjutnya akan menghasilkan siswa yang berkualitas. Namun, pernyataan normatif tersebut perlu diubah menjadi kebijakan nyata yang mendukung peningkatan kemampuan guru secara terus-menerus.
Investasi dalam kemampuan guru mencakup berbagai aspek, seperti menguasai metode mengajar, memperkuat materi pelajaran, memahami teknologi digital, hingga membangun karakter dan etika dalam profesi mengajar. Penelitian menunjukkan bahwa guru yang terus mengembangkan kemampuan profesional mereka cenderung merasa lebih bahagia dan puas dalam kerja, serta hal ini membawa dampak positif pada semangat belajar siswa. Guru yang terus belajar akan tidak merasa bosan dalam pekerjaannya dan bisa memberikan cara mengajar yang baru serta sesuai dengan kebutuhan. Di SMP Islam Bani Hasyim Malang, misalnya, diterapkan pendekatan pengembangan guru yang menyeluruh, seperti memberikan materi gratis untuk memperluas pengetahuan, pelatihan bertahap, serta membentuk rasa tanggung jawab dalam berprofesi. Model seperti ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas guru harus dilakukan dengan cara yang terencana, teratur, dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Sayangnya, kesadaran tentang pentingnya investasi untuk guru masih sering bertentangan dengan kenyataan yang ada. Gita Wirjawan, pendiri Ancora Foundation, menunjukkan bahwa 88 persen dari para kepala rumah tangga di Indonesia belum memiliki kesempatan kuliah, serta 93 persen dari pemilih tidak bisa mengakses pendidikan tinggi. Kondisi ini langsung berdampak pada kualitas demokrasi dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Lebih lanjut, Gita menegaskan bahwa harapan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik berada di sekolah. Seorang guru yang berkompeten dan mengajar di sekolah bisa mengajarkan materi kepada 20 hingga 200 siswa setiap tahunnya hasil yang jauh lebih cepat berkembang dibandingkan pendidikan yang diberikan orang tua di rumah, yang biasanya hanya menjangkau dua hingga tiga anak saja. Pernyataan ini menekankan bahwa investasi dalam satu orang guru akan memberikan dampak yang luas dan berkelanjutan hingga puluhan bahkan ratusan generasi berikutnya. Mengabaikan peningkatan kemampuan guru sama saja menghambat masa depan bangsa.
Pendidikan berkelanjutan atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-4 yang berbicara tentang pendidikan berkualitas, peran guru sangat penting dan menjadi pusat perhatian. Pendidikan berkelanjutan bukan hanya tentang memperluas akses, tetapi juga tentang ke relevanan dan kemampuan sistem pendidikan untuk mengikuti perubahan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai penting yang mendasarinya. Penelitian yang dilakukan di Jordania menunjukkan bahwa para guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki pemahaman yang baik tentang konsep SDGs, khususnya dalam bidang sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Islam seperti keadilan dan rasa peduli. Namun, studi yang sama menyarankan perlunya pelatihan yang lebih spesifik, terutama dalam aspek lingkungan, agar para guru dapat menggabungkan isu-isu keberlanjutan ke dalam kegiatan pembelajaran. Inilah peran investasi pada kompetensi: memberikan pemahaman global dan kemampuan mengajar yang baik kepada guru, sehingga mereka bisa mengubah isu-isu penting di dunia, seperti perubahan iklim dan kesenjangan sosial, menjadi materi pembelajaran yang sesuai dengan konteks dan mudah dipahami oleh siswa.
Jika dilihat dari sudut pandang pendidikan Islam, pengembangan kemampuan guru memiliki dasar teologis dan filosofis yang sangat mantap. Dalam Islam, pendidik atau guru (mu’allim) memiliki posisi yang sangat tinggi karena mereka dianggap sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya’). Nabi Muhammad Saw. diutus ke dunia untuk menjadi guru yang memperbaiki sifat dan perilaku manusia. Karena itu, mendidik adalah misi profetik. Ketika seorang guru memperbaiki kemampuannya, ia sebenarnya sedang menjaga amanah kenabian yang dipercayakannya. Proses peningkatan kapasitas ini bukan hanya tugas administratif biasa, tetapi juga bagian dari ibadah dan cara untuk bertanggung jawab kepada Allah Swt. atas ilmu yang diberikan-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman artinya, “Allah akan meningkatkan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.” (QS. Al-Mujadalah: 11). Ayat ini memberi semangat spiritual bahwa seorang guru yang terus belajar dan meningkatkan kemampuannya sedang mendaki jalan menuju keagungan derajat di sisi-Nya.
Kemampuan seorang guru tidak hanya meliputi aspek kognitif dan pedagogis saja, tetapi juga mencakup integritas moral serta spiritual. Konsep ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru-guru di madrasah. Penelitian itu menyebutkan bahwa Capaian Pendidikan seharusnya meliputi keterampilan dalam menggunakan teknologi digital, nilai-nilai etika dan profesional, serta penerapan prinsip-prinsip syariah dan sikap baik (akhlak mulia) dalam mengajar kepada siswa. Seorang guru yang beragama Islam diharapkan menjadi contoh yang baik (uswah hasanah), sehingga meningkatkan kemampuannya harus diiringi dengan meningkatkan kualitas diri secara menyeluruh. Guru yang terus memperbaiki ilmunya dan sikapnya sebenarnya sedang membantu membangun sebuah peradaban yang lebih baik. Ia merupakan awal dari deretan kebaikan yang tidak pernah putus.
Pembinaan guru juga perlu ditingkatkan agar dapat menghadapi tantangan tertentu, misalnya kemampuan membaca Al-Qur’an yang masih rendah. Gerakan untuk meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an di sekolah yang diinisiasi Kementerian Agama, dimulai dengan penilaian keseluruhan kemampuan baca Al-Qur’an (TBQ) untuk guru PAI. Program ini adalah bentuk keberanian untuk menggambarkan masalah secara jujur dan melakukan langkah-langkah peningkatan. Ini adalah contoh nyata bagaimana investasi dalam kemampuan dilakukan secara terukur dan langsung memengaruhi kualitas proses belajar. Guru yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik akan memberikan kemampuan tersebut kepada murid-muridnya, sehingga tercipta dampak yang sangat positif dan berkelanjutan.
Jelas bahwa investasi pada kemampuan guru adalah strategi yang paling logis dan penting untuk mencapai pendidikan yang berkelanjutan. Dari sudut pandang Islam, investasi ini merupakan bagian dari terus berlanjutnya ajaran kenabian yang mulia. Guru yang memiliki kemampuan profesional yang baik dan perkembangan spiritual yang matang adalah harta karun peradaban yang tidak bisa diukur nilainya. Mereka adalah titik balik yang menentukan apakah sebuah generasi akan berkembang menjadi generasi yang pintar, baik hati, dan mampu menghadapi tantangan zaman mereka. Negara, melalui pemerintah, telah menunjukkan komitmennya dengan menerapkan kebijakan afirmatif dan meningkatkan alokasi anggaran. Sekolah, melalui para pemimpinnya, sudah mengambil langkah awal dengan mengadakan berbagai program pengembangan di dalam sekolah itu sendiri. Sekarang, yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kerja sama yang baik dari semua pihak.











