TROL, Aceh Utara – Dugaan praktik “potongan liar” terhadap Jaminan Hidup (Jadup) warga miskin mencuat di gampong Teungoh, kecamatan Sawang, Aceh Utara. Alih-alih mendapatkan klarifikasi dari otoritas desa, upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan justru berujung pada makian bernada kasar dari ketua Tuha Peuet desa setempat.
Informasi yang dihimpun awak media dari masyarakat menyebutkan adanya pemotongan dana Jadup sebesar 1 juta per penerima. Berdasarkan keterangan narsasumber, dana tersebut yang 300 ribu untuk biaya administrasi, sementara 700 ribu sisanya dialokasikan untuk warga lain yang tidak menerima bantuan.
Lempar Bola Panas
Upaya verifikasi dilakukan dengan menghubungi geuchik gampong Teungoh pada Jumat, 3 Juli 2026. Dalam sambungan telepon, sang Geuchik mengaku tengah menjalani pengobatan intensif akibat penyakit stroke di Bireuen.
Ia membantah keterlibatannya dalam pemotongan dana tersebut. “Saya tidak pernah memberikan izin kutipan itu. Mereka (perangkat desa dan Tuha Peuet) meminta (izin) di Meunasah untuk mengelar rapat umum,” ujar Geuchik.
Ia menegaskan bahwa praktik tersebut dilakukan oleh pihak Tuha Peuet dan Sekretaris Desa (Sekdes), seraya memberikan nomor kontak Ketua Tuha Peuet kepada media.
Konfirmasi Berujung Makian
Keesokan harinya, Sabtu, (4/7/2026), wartawan menghubungi ketua Tuha Peuet melalui sambungan telepon WhatsApp pribadinya. Awalnya, percakapan berlangsung datar. Ketua Tuha Peuet sempat menyerahkan ponselnya kepada Sekdes untuk menjelaskan duduk perkara.
Namun, suasana berubah drastis ketika ponsel tiba tiba diambil kembali oleh diduga Ketua Tuha Peuet. Tanpa, ia melontarkan kalimat makian dalam bahasa daerah (Aceh) kepada wartawan.
”Hay bang bek jaiy netemanyoeng inan. Nejak oex ma neuh! Hebat that peugot dro ke wartawan. Wate banjir medeuh muka keuh tan, wate kaleuh banjir neuyak peugot ma neuh mandum!”
(Terjemahan: “Jangan banyak kali kalian tanya. Pergi ngett mama kalian sana! Hebat sekali kalian jadi wartawan. Waktu banjir muka kalian tidak nampak, usai banjir kalian buat gaduh semua!”).
Namun sejatinya wartawan berada digaris depan saat banjir mengepung beberapa wilayah kalai itu.
Kini, bola panas ada di tangan aparat pengawasan daerah. Apakah tuduhan pemotongan ini akan berakhir menjadi sekadar catatan di atas meja, atau akan diusut hingga ke akar-akarnya? Publik Gampong Teungoh kini menanti jawaban. (Rizal)











