TROL, Tulungagung – Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah di tengah masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, tenteram, dan kondusif.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Sinergi Jogo Tulungagung bertema “Ketentraman dan Ketertiban Umum” di Kantor Kecamatan Pagerwojo, Minggu (20/9).
Kegiatan tersebut turut melibatkan Jogo Desa sebagai upaya memperkuat sinergi pemerintah dengan masyarakat hingga tingkat desa. Para tokoh masyarakat dari berbagai desa juga dilibatkan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memperkuat koordinasi dalam menjaga ketentraman dan ketertiban umum.
Ahmad Baharudin mengatakan, pemerintah harus mampu hadir dan memberikan pelayanan secara adil kepada seluruh masyarakat dalam situasi apa pun.
“Sebagai pemerintah harus adil di masyarakat dalam keadaan apapun, harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah di sini diistilahkan sebagai sosok yang mengabdi kepada masyarakat, mengayomi, dan membantu kegiatan di masyarakat supaya lancar,” ucapnya.
Menurutnya, keberadaan pemerintah dan aturan bukan untuk mempersulit masyarakat. Sebaliknya, aturan diperlukan untuk memberikan kepastian sekaligus memudahkan berbagai kegiatan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya keteladanan dari para pemimpin. Setiap pemimpin, kata Ahmad, harus mampu memberikan contoh dalam menjalankan aturan serta aktif menyosialisasikan ketentuan agama maupun aturan negara kepada masyarakat.
“Supaya terciptalah Tulungagung yang damai dan kondusif,” tegasnya.
Ahmad menilai lingkungan yang kondusif menjadi salah satu fondasi penting bagi terciptanya rasa aman, tenteram, dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ia juga mendorong pemerintah untuk terus mendukung berbagai kegiatan gotong royong dan kerja bakti yang dilakukan warga.
Menurutnya, budaya gotong royong tidak hanya menyelesaikan persoalan di lingkungan masyarakat, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Baharudin juga menyampaikan arah program pembangunan yang akan dijalankan. Salah satunya dengan mengakomodasi satu program pembangunan di setiap desa.
Namun, ia menegaskan setiap pembangunan tetap harus mengacu pada aturan dan regulasi yang berlaku, terutama terkait penggunaan keuangan daerah, keuangan desa, maupun keuangan negara.
“Saya punya program pembangunan serta tata cara penggunaan keuangan daerah, keuangan desa, keuangan negara, itu ada aturan dan regulasinya supaya tidak ada miskom antara warga dan para pejabat atau masyarakat,” jelasnya.
Ia meminta para pejabat di tingkat daerah hingga desa untuk lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat. Aspirasi warga, menurutnya, harus menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan program pembangunan.
Pemerintah juga diminta membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan usulan melalui kepala desa maupun camat.
“Saya siap mengakomodir seluruh pembangunan di Tulungagung tetapi juga melewati regulasi,” tegas Ahmad Baharudin.
Sementara itu, Camat Pagerwojo Wahyu Yuniarko mengatakan wilayahnya memiliki posisi strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya air di Kabupaten Tulungagung.
Pagerwojo merupakan salah satu wilayah penyangga sumber oksigen dan air. Sejumlah mata air di kawasan tersebut memiliki keterkaitan dengan aliran sumber air menuju Waduk Wonorejo.
“Karena itu, pentingnya menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Potensi alam yang dimiliki Pagerwojo tidak hanya dimanfaatkan, tetapi dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang,” tuturnya.
Menurut Wahyu, kegiatan Jogo Tulungagung menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab masyarakat terhadap wilayah tempat tinggalnya.
Pagerwojo, kata dia, memiliki beragam potensi yang masih dapat dikembangkan, mulai dari sektor lingkungan, sosial hingga berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Semangat menjaga wilayah tersebut telah ditunjukkan masyarakat melalui sejumlah kegiatan gotong royong. Salah satunya dalam penanganan kerusakan jalan di wilayah Kecamatan Pagerwojo.
Wahyu mengungkapkan, masyarakat secara swadaya telah mengumpulkan sekitar 21 ton material yang kemudian digunakan untuk membantu menambal sejumlah ruas jalan yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, gerakan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat dapat menjadi kekuatan nyata ketika pemerintah dan warga bergerak bersama.
“Gerakan ini semacam laboratorium swadaya masyarakat, karena masyarakat terlibat aktif secara langsung mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan yang ada di lingkungannya,” paparnya.
Sejumlah ruas jalan memang telah mulai mendapatkan penanganan. Namun, masih terdapat beberapa titik yang kondisinya belum sepenuhnya tertangani.
Salah satunya adalah ruas jalan Segawe menuju Gambiran yang masih ditemukan mengalami kerusakan.
Wahyu menyebut kondisi tersebut membutuhkan sinergi lintas sektor agar penanganannya dapat dilakukan secara bertahap.
“Kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan sinergi lintas sektor. Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, masyarakat dan perangkat daerah terkait,” pungkasnya. (jk)











