Bupati Trenggalek: Ketahanan Pangan Harus Sejalan Dengan Ketahanan Iklim

TROL, Trenggalek – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin meminta pembangunan ketahanan pangan di daerah tidak dilakukan dengan mengorbankan keberlangsungan ekosistem. Menurutnya, ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan ketahanan iklim.

Pesan itu disampaikan Mas Ipin, sapaan akrab Mochamad Nur Arifin, saat membuka kegiatan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (PGBPSDL), Selasa (22/9).

Kegiatan yang digelar di Aula Kantor Dinas PUPR Trenggalek tersebut diikuti Koalisi Pangan Lestari bersama sejumlah stakeholder terkait.

Dalam rapat koordinasi itu, Bupati Trenggalek yang juga dipercaya sebagai Wakil Ketua APKASI tersebut mendorong perubahan paradigma dalam membangun ketahanan pangan daerah.

Ia menilai pemenuhan kebutuhan pangan tidak boleh hanya dihitung dari seberapa banyak produksi yang mampu dihasilkan. Aspek keberlanjutan lingkungan harus menjadi bagian penting dalam setiap kebijakan pangan.

“Jangan lagi berpikir bagaimana cara memperkuat ketahanan pangan dengan tidak memikirkan keberlangsungan ekosistem lingkungan yang kita miliki. Paradigma yang kita inginkan adalah bagaimana ketahanan pangan yang dibangun nanti tidak merusak ekosistem yang ada,” tutur Mas Ipin.

Menurut dia, ancaman perubahan iklim dan bencana alam kerap mendorong pemerintah maupun masyarakat mencari cara cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, langkah tersebut jangan sampai justru menciptakan persoalan baru yang lebih besar di kemudian hari.

Mas Ipin mencontohkan pengelolaan kawasan karst di Trenggalek. Kawasan karst, kata dia, merupakan “spons raksasa” yang berfungsi menyimpan cadangan air.

“Sudah tahu Trenggalek itu merupakan kawasan karst, kantong atau spons raksasa penyimpan cadangan air. Daerah-daerah yang seharusnya menjadi resapan air dibuka untuk ditanami jagung,” katanya.

Langkah tersebut, lanjut dia, memang dapat meningkatkan produksi pangan. Namun, apabila fungsi kawasan sebagai daerah resapan air hilang, masyarakat justru akan menghadapi persoalan lain berupa kekurangan air.

“Memang ketahanan pangannya terpenuhi, tetapi untuk memenuhi kebutuhan air kita harus beli karena airnya habis. Daerah yang seharusnya menjadi resapan air kering, tidak mampu menjadi kantung-kantung air,” imbuhnya.

Persoalan serupa, menurut Mas Ipin, juga bisa terjadi di kawasan pesisir. Ia menyoroti pentingnya menjaga ekosistem mangrove di tengah ancaman bencana dan abrasi pantai.

“Kita tahu bahwasannya kita memiliki ancaman megathrust, tapi di tepi pantai kita justru membuat tambak udang seluas-luasnya dan membabat habis hutan mangrove,” ucapnya.

Padahal, mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai pelindung alami kawasan pesisir. Keberadaannya juga berkaitan dengan upaya mengurangi dampak abrasi dan ancaman bencana di wilayah pantai.

“Memang sumber proteinnya terpenuhi, keberlangsungan alamnya yang rusak,” lanjut Mas Ipin.

Karena itu, ia menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan harus tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

“Boleh produksi pangan sebanyak-banyaknya, tapi tidak boleh menjadikan ancaman keberlangsungan alam ke depan,” tegasnya.

Bupati Trenggalek juga mendorong adanya inovasi dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang sekaligus mempertahankan fungsi ekologis.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah mengintegrasikan ekosistem mangrove dengan budidaya perikanan. Menurutnya, kebutuhan protein masyarakat tetap dapat dipenuhi tanpa harus menghilangkan fungsi lingkungan.

“Untuk memenuhi kebutuhan protein, kita bisa menanam mangrove dalam kolam, kemudian memelihara ikan, udang atau kepiting di dalamnya,” jelasnya.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, pemerintah dan stakeholder terkait didorong memilih tanaman pangan yang mampu tumbuh di bawah tegakan pohon.

“Memilih tanaman-tanaman pangan yang bisa tumbuh dan hidup di bawah tegakan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat,” imbuhnya.

Berbagai gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya Bupati Trenggalek menyatukan pemahaman seluruh stakeholder dalam penyusunan RAD PGBPSDL.

Menurut Mas Ipin, rencana aksi daerah di bidang pangan dan gizi harus dibangun dengan paradigma yang sama, yakni memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan alam.

Dengan pendekatan tersebut, ketahanan pangan Trenggalek diharapkan tidak berhenti pada persoalan produksi dan ketersediaan pangan, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan daerah dalam menghadapi perubahan iklim dan ancaman bencana.

Intinya, pangan harus cukup untuk hari ini tanpa mengorbankan alam yang menjadi penopang kehidupan untuk masa depan. (*)

 

*sumber: prokopimkabtrenggalek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *