foto: sungai Brantas/wikipedia
TROL,- Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60 persen produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini.
Penyedia bahan baku air bersih, pertanian dan keperluan energi listrik.
Dulunya sungai Brantas juga berfungsi sebagai sarana transportasi,namun pendangkalan terus terjadi dan kerusakan lainya mengikuti. Pendangkalan tak terelakan sebab beberapa gunung berapi aktif pada hulu sungai sering menumpahkan material vulkaniknya. Gunung Semeru, gunung Kelut diantaranya.
Titik Mula Sungai Brantas
Sungai Brantas bermata air di desa Sumber Brantas. Hulu Sungai Brantas ini berada di kaki gunung Arjuno di Kota Batu. Lokasi persisnya di Arboretum Sumber Brantas, Cangar, kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang Raya, berasal dari simpanan air gunung Arjuno.
Di kawasan konservasi yang berjarak 18 kilometer di sebelah utara Kota Batu, di lereng bukit sebelah timur gunung Anjasmara itulah “Titik Nol” Sungai Brantas berada. Dikelilingi 3.200 pohon dari 37 jenis berbeda hidup di sekitar mata air sumber Brantas itu.
Air dari sumber tersebut kemudian mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua menjadi kali Mas bermuara di wilayah Surabaya dan kali Porong ke arah Porong, kabupaten Sidoarjo.
Sungai Brantas mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 11.800 kilometer atau seperempat dari luas provinsi Jawa Timur. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu gunung Kelud.
Sejarah Sungai Brantas
Sejak abad ke-8, di DAS Brantas telah berdiri kerajaan agraris, yaitu Kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan candi Badut dan prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M sebagai bukti keberadaannya. Wilayah hulu DAS Brantas dimana kerajaan ini berpusat memang cocok untuk pengembangan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur sehingga tidak mengherankan daerah itu menjadi salah satu pusat kekuasaan di Jawa Timur (Tanudirdjo, 1997).
Sungai Brantas maupun anak-anak sungainya menjadi sumber air yang penting. Bukti terkuat tentang adanya budaya pertanian yang ditunjang oleh pengembangan prasarana pengairan (irigasi) yang intensif ditemukan di DAS Brantas, lewat Prasasti Harinjing di Pare yang berangka tahun 726 S atau 804 M dan yang termuda bertarikh 849 S atau 927 M. Dalam prasasti ini, disebutkan pembangunan sistem irigasi (yang terdiri atas saluran dan bendung atau tanggul) yang disebut Dawuhan pada anak sungai Konto, yakni sungai Harinjing (Lombard, 2000).
Dikutip dari Sungai sebagai pusat peradaban: prosiding seminar perubahan DAS Brantas dalam perspektif sejarah, ditemukan kehidupan Homo Wajakensis wilayah Wajak, suatu lembah di Brantas Hulu yang sangat subur yang letaknya di dekat Tulungagung. Hal itu menunjukkan bahwa Sungai Brantas memiliki sejarah yang sangat panjang baik secara sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan militer.
Bahkan sungai Brantas menjadi saksi era kerajaan yang muncul silih berganti, mulai dari kerajaan Mataram Mpu Sindok (akhir abad ke-9 Masehi) hingga masa akhir kerajaan Majapahit di abad ke-16 Masehi.
Era kerajaan Majapahit, Raja Hayam Wuruk mengeluarkan Prasasti Canggu (1358 Masehi). Prasasti tersebut menyebutkan hak-hak istimewa pada penjaga tempat penyeberangan di sungai Brantas. Canggu berada di kecamatan Jetis, kabupaten Mojokerto yang terletak di sepanjang aliran sungai Kali Mas (cabang dari sungai Brantas).
Di masa lalu, desa-desa di pinggir sungai (nitipradesa) yang menjadi lokasi panambangan adalah daerah perdikan sebagai imbalan atas kewajiban menyeberangkan penduduk dan pedagang secara cuma-cuma. Dalam prasasti tersebut tercatat ada 34 desa panambangan di sungai Brantas dan 44 desa panambangan di Bengawan Solo.
Legenda Sungai Brantas
Bagi masyarakat Jawa Timur, Sungai Brantas adalah berkah. Dari kaki gunung Arjuno di Malang, sungai besar (bengawan) Brantas bersama 39 anak sungainya melewati 15 kabupaten di Jawa Timur. Legenda Sungai Brantas tak bisa dilepaskan dari Kediri. Yaitu bersinggungan dengan kerajaan Medang yang saat itu dipimpin oleh Prabu Airlangga.
Prabu Airlangga dikenal sebagai sosok yang religius. Saat usianya sudah senja, ia memilih menjadi seorang pertapa. Ia pun menyerahkan tahta kerajaan kepada putri permaisuri yang bernama Dyah Sanggramawijaya. Namun Dyah menolak karena juga memilih menjadi pertapa seperti ayahnya.
Prabu Airlangga akhirnya memberikan tahta kepada putra dari selirnya. Dari selirnya, ia memiliki dua putra yaitu Raden Jayanegara dan Raden Jayengrana. Prabu minta bantuan Mpu Bharada untuk membagi kerajaan Medang menjadi dua bagian untuk kedua putranya. Dengan kesaktiannya Mpu Bharada pun terbang dengan membawa kendi yang berisi air. Ia kemudian menumpahkan air kendi itu dari angkasa persis di tengah-tengah kerajaan Medang. Ajaibnya, tanah yang terkena air dari kendi tersebut berubah menjadi sungai yang kini dikenal dengan Sungai Brantas.
Brantas Kini
Brantas juga menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang turut menyuplai pasokan listrik pada sistem pembangkitan Jawa-Bali. Ada belasan PLTA dan PLTMH di sepanjang daerah aliran, antara lain PLTA Lodoyo, PLTA Karangkates, PLTA Kesamben, dan PLTA Jatimlerek. Sedangkan di wilayah hilir, sejak dulu Brantas diandalkan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat baik yang dikelola oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) maupun secara swakelola. Di daerah hilir, penggunanya antara lain PDAM Surya Sembada Surabaya, PDAM Delta Tirta Sidoarjo, PDAM Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, dan Gresik. Daerah-daerah tersebut memang tidak memiliki sumber air pegunungan untuk menyuplai kebutuhan rumah tangga dan dunia usaha termasuk industri.
Kerajaan Ratu Buaya Putih
Banyak film-film lama bergenre horor yang mengangkat tema tentang misteri buaya putih. Tak banyak yang tahu, ternyata kisah ngeri tersebut diangkat dari cerita rakyat di sungai Brantas. Sejak lama banyak korban nyawa yang terpaksa harus ditumbalkan untuk meredam amarah dari sang Ratu Buaya Putih. Pada tahun 1009, Mpu Baradah berulang kali tercatat menumbalkan manusia saat memecah kerajaan Kahuripan menjadi kerajaan Panjalu dan kerajaan Jenggala.
Cerita tentang keberadaan buaya putih juga ditemukan dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada rentang waktu 1836-1876. Saat itu, pembangunan jembatan lama yang membelah sungai Brantas di Kediri mengalami kendala. Namun setelah tumbal dijatuhkan pembangunan akhirnya dapat diteruskan dan selesai.
Terdapat cerita tentang sosok buaya putih bernama Badug Seketi di kecamatan Kras Kediri. Awalnya dahulu Badung Seketi berhubungan baik dengan penduduk. Setiap kali ada hajatan, penduduk selalu meminta keperluanya dipenuhi oleh sang Badung Seketi. Konon hubungan baik masih terus terjadi hingga tahun 1970an.
Harta Karun Tersembunyi
Sejak berabad-abad lalu, sungai Brantas menjadi jalur tranportasi untuk lalu lintas kapal-kapal perdagangan dan peperangan. Banyak pelabuhan berdiri di sepanjang aliran sungainya untuk mengakomodir kapal-kapal saudagar dari luar pulau Jawa. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, Mataram dan VOC pernah sekali menyerang Istana Trunojoyo di Kediri melalui jalur air yang berakibat pada karamnya salah satu kapal di sungai Brantas.
Tak sedikit kapal-kapal besar lainnya yang karam di Sungai Brantas dan menenggelamkan semua harta benda yang dibawanya. Kejadian-kejadian tragis di masa lalu kemudian menjadi berkah pagi para penambang emas. Tak jarang mereka menemukan berbagai koin emas dan barang berharga lainnya yang diprediksi berasal dari kapal yang karam.(*)











