Hadiri Labuh Massal di Desa Dukuh, Plt Bupati Tulungagung: Tradisi Syukur yang Perkuat Ketahanan Pangan

foto: plt bupati tulungagung, ahmad baharudin (baju putih, tengah) hadiri labuh massal di desa dukuh

TROL, Tulungagung – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin didampingi Kepala Dinas Pertanian Tulungagung, Suyanto menghadiri tradisi Labuh Massal yang digelar Kelompok Tani Angker di Desa Dukuh, Kecamatan Gondang, Senin (1/6) pagi. Kegiatan panen raya tersebut menjadi wujud rasa syukur petani atas hasil panen padi yang melimpah sekaligus upaya melestarikan tradisi agraris yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Turut hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung, Camat Gondang, Kapolsek Gondang, Danramil Gondang, Kepala Desa Dukuh, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Plt Bupati Ahmad Baharudin mengatakan, Labuh Massal tidak hanya menjadi penanda keberhasilan panen para petani, tetapi juga memiliki makna spiritual dan budaya yang perlu terus dijaga.

“Labuh Massal ini bukan sekadar kegiatan panen raya, tetapi juga bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil yang diperoleh para petani. Tradisi seperti ini perlu terus kita lestarikan sebagai bagian dari budaya dan identitas masyarakat pedesaan,” katanya.

Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan kepada petani yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah maupun nasional.

“Pemerintah hadir untuk memberikan dukungan kepada para petani agar tetap semangat bercocok tanam. Harapan kita bersama, sektor pertanian terus berkembang sehingga mampu mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Ahmad Baharudin memaparkan capaian sektor pertanian Kabupaten Tulungagung yang hingga kini masih menjadi salah satu lumbung pangan di Jawa Timur.

Berdasarkan data tahun 2025, produksi padi Kabupaten Tulungagung mencapai 319.969,33 ton gabah kering panen (GKP) dari luas panen 45.966 hektare. Produksi tersebut menghasilkan 185.582,21 ton beras.

plt bupati tulungagung, ahmad baharudin berikan sambutan

Dengan jumlah penduduk sekitar 1.119.588 jiwa dan kebutuhan konsumsi beras sebesar 90.944 ton per tahun, Tulungagung mencatat surplus beras mencapai 94.638,08 ton.

“Hal ini menjadikan Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu daerah penyuplai kebutuhan beras di Jawa Timur,” ungkapnya.

Sementara hingga April 2026, luas panen padi tercatat mencapai 19.841 hektare dengan produksi sebesar 138.688,59 ton GKP. Dari capaian tersebut, Kabupaten Tulungagung kembali mencatat surplus beras sekitar 49.985,50 ton dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Tulungagung juga merupakan salah satu penyuplai kebutuhan beras, baik tingkat provinsi maupun nasional,” jelasnya.

Meski mencatat surplus produksi, Ahmad Baharudin mengakui sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari alih fungsi lahan, penurunan kualitas lahan, dampak perubahan iklim, hingga kebutuhan peningkatan infrastruktur pertanian.

Selain itu, petani juga dihadapkan pada ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT), dampak bencana alam, keterbatasan sarana produksi, serta masih rendahnya pemanfaatan teknologi pertanian.

“Masalah yang saat ini sangat urgen adalah ketersediaan air untuk usaha pertanian. Apalagi berdasarkan prakiraan BMKG tahun 2026, kita akan menghadapi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino,” katanya.

Ia mengingatkan para petani untuk memanfaatkan sumber daya air secara efektif dan efisien guna menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan.

“Kondisi ini berdampak pada kegiatan usaha tani, khususnya tanaman padi. Petani harus bisa memanfaatkan ketersediaan air secara maksimal dan efisien agar berhasil panen dan hasilnya sesuai harapan,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Ahmad Baharudin berharap tradisi Labuh Massal tidak hanya menjadi ajang tasyakuran, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat petani untuk terus meningkatkan produksi pangan.

“Atas hasil panen padi yang melimpah, kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara Labuh Massal di Desa Dukuh hari ini adalah wujud nyata rasa syukur tersebut. Karena itu, tradisi ini perlu kita rawat dan lestarikan di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya. (jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *