Plt Bupati Tulungagung Hadiri Wilujengan Satu Suro di Pantai Popoh

TROL, Tulungagung – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, menghadiri prosesi wilujengan menyambut Tahun Baru Jawa sekaligus 1 Muharram 1448 Hijriah yang digelar masyarakat nelayan di Pantai Indah Popoh, kecamatan Besuki, Senin (15/6).

Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun itu ditandai dengan penanaman kepala kambing kendit di kawasan Pantai Popoh. Ritual tersebut menjadi simbol doa keselamatan bagi para nelayan, perlindungan dari berbagai marabahaya, serta harapan agar hasil tangkapan laut semakin melimpah dan membawa keberkahan.

Kehadiran Ahmad Baharudin dalam kegiatan tersebut menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi dan budaya lokal yang masih dijaga oleh masyarakat pesisir Tulungagung.

Dalam sambutannya, Plt Bupati Ahmad Baharudin mengatakan bahwa malam Satu Suro bukan hanya menjadi bagian dari tradisi budaya masyarakat Jawa, tetapi juga momentum untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.

“Tradisi wilujengan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa bersama agar masyarakat, khususnya para nelayan, senantiasa diberikan keselamatan dan keberkahan dalam menjalankan aktivitasnya,” ucap Ahmad Baharudin.

Ia menilai, pelestarian tradisi lokal memiliki peran penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat nilai-nilai sosial yang diwariskan para leluhur.

“Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, kita patut bersyukur karena masyarakat pesisir masih menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur. Ini merupakan kekayaan budaya yang harus terus kita rawat bersama,” katanya.

Lebih lanjut, Ahmad Baharudin berharap tradisi wilujengan mampu menjadi sarana mempererat persaudaraan antarwarga serta meningkatkan semangat gotong royong di lingkungan masyarakat nelayan.

“Semoga dengan wilujengan ini, para nelayan diberi keselamatan, dijauhkan dari musibah, dan rezekinya dilancarkan. Hasil laut melimpah, berkah untuk keluarga dan masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, keberadaan tradisi seperti wilujengan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat hubungan sosial serta menjaga harmoni antara masyarakat dengan lingkungan sekitarnya.

Prosesi wilujengan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat Kecamatan Besuki, kelompok nelayan, serta warga sekitar. Acara berlangsung khidmat dan ditutup dengan doa bersama serta kenduri sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan akan keselamatan, kesejahteraan, dan hasil tangkapan laut yang melimpah pada tahun mendatang. (jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *