Semangat Kepanduan: Pramuka Berkebutuhan Khusus Pacitan Belajar Menjadi Tanggap, Tangkas, dan Tangguh

peletakan tunas kelapa sebagai simbolis pembukaan perkemahan pramuka berkebutuhan khusus oleh Dr. samsito pribadi, S.Pd., M.Pd., kepala cabang dinas pendidikan wilayah kabupaten pacitan

TROL, Pacitan – Suara peluit, gelak tawa, dan semangat persaudaraan memenuhi halaman SLB Negeri Ngadirojo Pacitan. Sebanyak 65 anggota Pramuka berkebutuhan khusus bersama 65 pembina dan pendamping dari seluruh SLB se-Kabupaten Pacitan berkumpul mengikuti Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus Kabupaten Pacitan Tahun 2026, Kamis–Jumat (6–7 Agustus 2026).

Mengusung semangat “Tanggap, Tangkas, Tangguh”, kegiatan selama dua hari tersebut menjadi ruang belajar bagi peserta untuk mengembangkan kemandirian, kedisiplinan, keberanian, kepedulian, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan melalui pengalaman langsung di alam terbuka.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pendirian tenda. Aktivitas sederhana tersebut menjadi sarana bagi peserta untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan bergotong royong. Dengan penuh antusias, peserta bersama pembina saling membantu mendirikan tenda yang tidak hanya menjadi tempat bermalam, tetapi juga ruang belajar dan membangun kebersamaan.

Semangat kebersamaan semakin terasa pada upacara pembukaan yang menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan. Ketua Penyelenggara, Samsul Arifin, S.Pd., Gr., mengatakan bahwa perkemahan ini dirancang sebagai ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Melalui pengalaman langsung, peserta diharapkan mampu menumbuhkan karakter mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

gugus depan slbn ngadirojo sebagai regu termandiri

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Dr. Sasmito Pribadi, S.Pd., M.Pd. Dalam arahannya, ia mengapresiasi terselenggaranya perkemahan berkebutuhan khusus. Kegiatan kepanduan untuk meningkatkan karakter melalui kegiatan kepanduan.

Salah satu kegiatan utama pada hari pertama adalah materi Mitigasi Bencana, Simulasi Gempa, dan Penyelamatan dari Ketinggian yang dipandu oleh tim BPBD Kabupaten Pacitan, yaitu Mohammad Arif Setiyadi, A.Md. (Staf Administrasi Perkantoran Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan), Panji Sukarno (Staf Administrasi Perkantoran Bidang Kedaruratan dan Logistik), serta Joko Sungkono (Anggota Bidang Kedaruratan dan Logistik). Melalui penyampaian yang interaktif, peserta diajak mengenali potensi bencana, memahami langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa, hingga mempraktikkan tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.

Pengalaman belajar semakin lengkap ketika peserta mengikuti praktik penyelamatan dari ketinggian melalui wahana Flying Fox. Dengan perlengkapan keselamatan yang lengkap dan pendampingan langsung dari petugas BPBD, satu per satu peserta memberanikan diri meluncur dari ketinggian. Aktivitas tersebut tidak hanya melatih keberanian dan kepercayaan diri, tetapi juga memperkenalkan teknik dasar penyelamatan yang membutuhkan kesiapan mental, fokus, dan ketenangan.

Memasuki malam hari, suasana bumi perkemahan berubah menjadi panggung kreativitas melalui Pentas Seni (PENSI) yang menampilkan berbagai bakat peserta dari SLB se-Kabupaten Pacitan. Acara dibuka dengan Tari Kencono Wingko yang dibawakan oleh Metha Almayra Saniaya Putri dan Nabilla Kinasih Oktaviani dari SLB Negeri Ngadirojo Pacitan.

Sorotan utama malam itu hadir melalui penampilan drama musikal “Tandhang Gumregah” yang dibawakan oleh anggota Pramuka SLB Negeri Ngadirojo Pacitan. Mengangkat kisah “Jelajah Malam: Satu Peluit Penyelamatan”, drama tersebut menggambarkan sekelompok Pramuka yang sedang melaksanakan jelajah malam dan melintasi sebuah kampung nelayan. Suasana yang awalnya tenang mendadak berubah ketika terjadi gempa bumi yang disusul gelombang tinggi. Dengan sigap, pemimpin regu meniup peluit sebagai tanda darurat, kemudian seluruh anggota Pramuka bergerak membagi tugas untuk mengevakuasi warga, memberikan pertolongan pertama, mengarahkan masyarakat menuju titik kumpul, serta menyelamatkan kelompok rentan hingga seluruh warga berhasil diselamatkan. Pementasan ditutup dengan seruan penuh semangat, “Tanggap! Tangkas! Tangguh!”, sebagai pengingat bahwa keberanian, kepedulian, dan kerja sama merupakan bekal utama dalam menghadapi bencana.

berbagai kegiatan perkemahan pramuka berkebutuhan khusus kabupaten pacitan tahun 2026

Drama tersebut mendapat apresiasi dari peserta dan para pembina karena mampu mengangkat pesan mitigasi bencana melalui pertunjukan yang menarik dan mudah dipahami. Penampilan ini sekaligus menjadi penguatan terhadap materi kebencanaan yang telah diberikan oleh tim BPBD pada siang harinya, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep kesiapsiagaan melalui teori dan simulasi, tetapi juga melalui media seni yang inspiratif.

Selain drama musikal, panggung pentas seni turut dimeriahkan oleh berbagai penampilan dari kontingen SLB se-Kabupaten Pacitan, di antaranya sajian lagu, puisi, tari kreasi, Semaphore Dance, hingga Tari Kecak Bali. Seluruh penampilan menjadi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan bakat, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus mempererat persaudaraan antarsesama anggota Pramuka berkebutuhan khusus.

Hari kedua diisi dengan kegiatan Jelajah Pramuka, sebuah petualangan edukatif yang menguji kekompakan, ketelitian, dan kemampuan memecahkan masalah. Berbekal peta perjalanan, setiap regu menyelesaikan tantangan di Pos P3K, Pos Ketangkasan Memanah, Pos Penjernihan Air, dan Pos Ketahanan Pangan. Seluruh pos dirancang untuk mengembangkan keterampilan hidup sekaligus menguatkan karakter peserta melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan aplikatif.

Sebagai penutup, panitia memberikan Apresiasi Perkemahan kepada kontingen terbaik dalam lima kategori, yaitu Terkompak, Mandiri, Disiplin, Tanggung Jawab, serta Gigih dan Pantang Menyerah. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas semangat, kerja sama, kedisiplinan, dan karakter positif yang ditunjukkan peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus Kabupaten Pacitan Tahun 2026 menjadi bukti bahwa pendidikan kepramukaan mampu menjadi ruang belajar yang inklusif, menyenangkan, dan bermakna bagi setiap peserta didik. Melalui perpaduan pendidikan karakter, keterampilan kepramukaan, edukasi kebencanaan, hingga seni dan budaya, peserta memperoleh pengalaman yang utuh untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, peduli, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Dari satu tenda yang berdiri di bumi perkemahan, tumbuh seribu semangat untuk melahirkan Pramuka berkebutuhan khusus yang tanggap menghadapi situasi, tangkas dalam bertindak, dan tangguh dalam menjalani kehidupan. (Can finews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *