TROL, Tulungagung – Perpaduan wayang kulit, wayang sandosa, dan wayang orang tersaji dalam satu panggung melalui Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung di titik 0 Km, Jumat (6/11) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Wayang Nasional sekaligus rangkaian Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung.
Mengusung tema “BERDIKARI, Apakah Aku Adalah Aku?”, pagelaran yang dipersembahkan oleh Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung (Pakudhatu) ini menghadirkan konsep pertunjukan lintas genre sebagai upaya memperkenalkan sekaligus mengembangkan seni pewayangan kepada masyarakat.
Lakon Bima Suci menjadi sajian utama dalam pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Opera Flamboyant Jingga Kastasarassin Lukmandaka dari Pakudhatu. Suasana pagelaran semakin semarak dengan kehadiran bintang tamu Jo Klitik dan Jo Klutuk.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, Tri Hariadi, yang hadir mewakili Plt Bupati Tulungagung, mengatakan pertunjukan wayang tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga mengandung pesan moral dan pendidikan karakter yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Melalui pertunjukan seni budaya seperti ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga edukasi dan wawasan mengenai nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita pewayangan,” ungkap Tri Hariadi.
Ia juga menyoroti filosofi kepahlawanan dan perjalanan pencarian jati diri yang tercermin dalam kisah Bima Suci. Menurutnya, cerita tersebut mengajarkan pentingnya mengenali hakikat diri serta memahami nilai-nilai kehidupan.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah pewayangan, termasuk filosofi Bima Suci, hendaknya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Harapannya, kegiatan ini memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Kabupaten Tulungagung, baik yang hadir secara langsung maupun yang menyaksikan melalui layar,” tambahnya.

Tema “BERDIKARI, Apakah Aku Adalah Aku?” turut memberikan ruang refleksi mengenai makna kemandirian dan identitas diri. Melalui pendekatan kolaboratif, seni pewayangan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan tradisi, tetapi juga dihadirkan dalam bentuk pertunjukan yang lebih variatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pagelaran tersebut menjadi salah satu agenda dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung yang berlangsung mulai Oktober hingga Desember. Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan untuk memeriahkan momentum hari jadi daerah.
Kegiatan ini turut dihadiri Sekda Tulungagung Tri Hariadi, Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung Marsono beserta istri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Johanes Bagus Kuncoro beserta jajaran, Ketua Panitia Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung Mulyanto, Kapolres Tulungagung, serta Dandim Tulungagung.
Melalui pagelaran ini, Disbudpar Tulungagung berupaya memperkuat eksistensi seni pewayangan sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Kolaborasi wayang kulit, wayang sandosa, dan wayang orang diharapkan menjadi alternatif penyajian seni tradisi yang mampu menarik minat generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. (jk)











