Opini  

Menilik matinya Kritisisme Aktivis di Kota Keris

Oleh: Siswadi

Ketua Jong Sumekar

TROL, – Sumenep yang dikenal sebagai Kota Keris, selama ini bukan hanya kaya dengan warisan budaya dan tradisinya, tetapi juga memiliki sejarah panjang dengan geliat gerakan aktivis dan suara kritis yang lantang terhadap ketidakadilan. Namun, akhir-akhir ini, denyut kritisisme itu seakan melemah, bahkan perlahan menuju kematian.

Aktivis yang dulu menjadi garda depan dalam mengawal isu rakyat mulai dari ketidakadilan sosial, kebijakan pemerintah daerah yang bermasalah, hingga penyalahgunaan kewenangan birokrat kini seperti kehilangan taring. Suara yang dahulu bergema di jalanan, forum diskusi, maupun media massa, kini lebih sering tenggelam dalam keheningan.

Ada beberapa faktor yang patut dicermati. Pertama, adanya kooptasi terhadap sebagian aktivis oleh kepentingan politik praktis.

Banyak di antara mereka yang dulunya idealis, kini terseret arus pragmatisme, menjadikan gerakan hanya sekadar formalitas tanpa arah perubahan nyata.

Kedua, munculnya budaya apatis di kalangan generasi muda yang lebih nyaman dengan dunia digital hiburan ketimbang memperjuangkan isu-isu sosial di lingkungannya. Ketiga, lemahnya solidaritas antar kelompok aktivis yang seharusnya saling menopang, malah terjebak dalam perpecahan dan ego sektoral.

Akibatnya, ruang publik Sumenep kini seperti sepi dari kritik yang murni dan tajam. Pemerintah daerah berjalan tanpa tekanan berarti dari rakyatnya, sementara kebijakan yang merugikan masyarakat miskin atau tidak berpihak pada keadilan sosial kerap lolos tanpa perlawanan serius.

Padahal, sebuah kota akan hidup bila ada suara-suara kritis yang berani menggugat dan mengingatkan. Tanpa itu, Sumenep hanya akan menjadi kota yang diam, di mana kebijakan berjalan searah tanpa kontrol, dan rakyat semakin jauh dari ruang partisipasi.

Maka, perlu ada kebangkitan kembali jiwa kritis itu. Aktivis Sumenep harus berani merebut kembali ruang publik, menyuarakan kepentingan rakyat, dan menolak kompromi dengan kekuasaan yang merugikan. Jika tidak, maka benar adanya: suara kritisisme di Kota Keris bukan sekadar melemah, melainkan telah mati terkubur oleh apatisme dan pragmatisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *