Opini: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I., M.A,Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
TROL,- Pendidikan selalu dianggap sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa; itu bukan hanya pertukaran informasi, tetapi juga tempat di mana suatu generasi membangun karakter, nilai, dan jalan ke depan. Namun, sebuah ironi yang sulit diabaikan muncul ketika melihat kondisi pendidikan saat ini, harapan terhadap pendidikan meningkat, tetapi banyak masalah mendasar masih belum diselesaikan. Pendidikan modern penuh dengan hasrat untuk transformasi, tetapi masih dibayangi oleh berbagai masalah struktural dan kultural.
Ketimpangan kualitas pendidikan adalah salah satu masalah paling nyata. Sekolah-sekolah di daerah perkotaan dan terpencil masih sangat berbeda. Di daerah terpencil, banyak sekolah yang masih kekurangan fasilitas dasar, seperti ruang kelas yang layak, buku pelajaran, bahkan tenaga guru yang cukup. Sebaliknya, sekolah di kota besar biasanya memiliki fasilitas yang memadai, akses teknologi yang luas, dan tenaga pendidik yang relatif lebih berpengalaman. Kesimpangan ini mempengaruhi masa depan anak-anak, yang seharusnya memiliki hak yang sama untuk pendidikan berkualitas. Jika kualitas pendidikan tidak merata, tidak ada kesempatan untuk maju. Dalam dunia pendidikan, literasi dan numerasi masih menjadi masalah besar. Banyak siswa yang mampu membaca dan menulis secara formal, tetapi mereka kurang mampu memahami informasi secara menyeluruh. Mereka cenderung menghafal tanpa benar-benar memahami apa yang mereka lakukan. Kemampuan berpikir logis dan analitis juga kurang dalam numerasi. Ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum mencapai tingkat kemampuan berpikir tingkat tinggi sepenuhnya. Seringkali, pendidikan terfokus pada ujian dan nilai daripada pemahaman yang signifikan.
Selain masalah tersebut, dunia pendidikan sedang menghadapi transformasi digital yang tidak dapat dihindari. Cara manusia belajar dan mendapatkan pengetahuan telah diubah oleh kemajuan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan. Dunia pendidikan belum siap untuk mengatasi perubahan ini, bagaimanapun. Sekolah-sekolah tertentu telah memanfaatkan teknologi sepenuhnya, tetapi beberapa masih ragu untuk menggunakannya dalam pembelajaran. Meskipun guru memainkan peran penting dalam proses ini, tidak semua guru memiliki kemampuan digital yang diperlukan. Akibatnya, teknologi yang seharusnya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran belum digunakan sepenuhnya.
Kesenjangan digital muncul, yang semakin memperburuk ketimpangan pendidikan. Siswa yang memiliki koneksi internet dan perangkat digital tentu memiliki lebih banyak peluang untuk belajar. Dalam situasi seperti ini, digitalisasi pendidikan berpotensi menjadi pedang bermata dua. Ini dapat menawarkan banyak peluang, tetapi jika tidak dilakukan dengan benar, dapat memperluas jurang. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan digital harus disertai dengan kebijakan yang memastikan akses yang sama.
Kualitas dan kesejahteraan guru adalah masalah lain yang tidak kalah penting. Meskipun guru adalah pusat pendidikan, banyak guru yang menghadapi berbagai kesulitan. Beban administrasi yang tinggi seringkali menyebabkan mereka tidak fokus dalam mengajar. Selain itu, distribusi guru yang tidak merata menyebabkan kekurangan guru di beberapa tempat, sementara kelebihan guru di tempat lain. Karena kesejahteraan guru berkorelasi langsung dengan motivasi dan kinerja mereka, kesejahteraan mereka juga harus diperhatikan dengan cermat. Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas guru sangat berpengaruh pada kualitas pendidikan.
Fenomena putus sekolah dan anak tidak sekolah belum sepenuhnya teratasi. Faktor utama yang menyebabkan kebutuhan pendidikan adalah ekonomi, keadaan sosial, dan kurangnya kesadaran. Banyak anak masih belum menikmati hak pendidikan sepenuhnya, meskipun banyak program bantuan telah dibuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan memerlukan kerja sama lintas sektor, termasuk ekonomi dan sosial.
Selain itu, relevansi pendidikan dengan persyaratan dunia kerja menjadi perhatian. Karena tidak memiliki keterampilan yang diperlukan, banyak lulusan yang dinilai tidak siap untuk bekerja. Sementara dunia kerja membutuhkan keterampilan praktis dan kemampuan berpikir kritis, pendidikan masih cenderung berpusat pada teori. Hal ini menimbulkan perbedaan antara dunia bisnis dan pendidikan. Oleh karena itu, upaya harus dilakukan untuk membuat keduanya lebih terkait satu sama lain. Ini akan memastikan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga siswa yang siap untuk berkontribusi dalam dunia kerja.
Perubahan paradigma pembelajaran juga merupakan masalah yang sangat signifikan. Selama ini, pembelajaran biasanya berpusat pada guru (teacher-centered), di mana siswa hanya menjadi penerima informasi. Namun, pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana siswa berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar, merupakan pendekatan yang lebih efektif. Dalam paradigma ini, guru membantu siswa mewujudkan potensi mereka.
Selain itu, penting bagi pendidikan untuk meningkatkan kemampuan kreatif, kritis, dan kolaboratif, yang sangat penting di era modern.
Selain itu, keterlibatan masyarakat dan orang tua dalam pendidikan masih perlu ditingkatkan. Pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat. Namun, banyak orang tua yang menyerahkan semua tanggung jawab pendidikan anak mereka kepada sekolah. Meskipun demikian, peran orang tua sangat penting dalam membentuk kepribadian dan kebiasaan belajar anak. Oleh karena itu, perlu adanya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung proses pendidikan. Sebenarnya, pemerintah telah memberikan anggaran yang sangat besar untuk sektor pendidikan. Namun, anggaran yang besar tidak serta-merta menjamin keberhasilan jika tidak diikuti dengan pengelolaan yang efisien dan terarah. Anggaran tidak transparan dan tidak efisien masih menjadi masalah. Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa setiap uang yang dihabiskan benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, diperlukan sistem pengelolaan yang akuntabel.
Dengan mempertimbangkan berbagai masalah tersebut, dapat dikatakan bahwa pendidikan saat ini berada dalam situasi yang kompleks. Meskipun banyak upaya untuk perbaikan dan inovasi telah dilakukan, banyak masalah penting masih belum diselesaikan. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan pengelolaan pendidikan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Kebijakan jangka pendek tidak cukup; diperlukan visi jangka panjang yang jelas dan konsisten. Pendidikan seharusnya tidak hanya digunakan untuk menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga untuk membentuk individu yang sehat. Pendidikan harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual secara proporsional. Dalam situasi seperti ini, menanamkan prinsip-prinsip moral dan sifat mulia sejak kecil sangat penting. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi hanya dapat berdampak negatif jika tidak ada dasar moral yang kuat. Tidak ada solusi parsial untuk masalah pendidikan yang berbeda. Untuk membuat sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, banyak pihak harus bekerja sama, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat luas. Selain itu, komitmen yang kuat untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan juga diperlukan.
Untuk membangun sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat luas semuanya harus bekerja sama. Dalam kenyataannya, kolaborasi ini sudah terlihat dalam sejumlah program nyata. Misalnya, kebijakan bantuan operasional sekolah (BOS) pemerintah tidak hanya memberikan bantuan finansial tetapi juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dengan melibatkan komite sekolah yang terdiri dari orang tua dan anggota masyarakat. Sebaliknya, banyak sekolah sekarang memulai program “partisipasi orang tua” seperti kelas parenting, pertemuan rutin berbasis perkembangan belajar siswa, dan penggunaan platform digital yang memungkinkan orang tua melihat secara real-time bagaimana anak-anak mereka belajar. Hal ini menunjukkan bahwa peran orang tua sekarang berubah menjadi aktif dan berpartisipasi dalam proses pendidikan.
Selain itu, kolaborasi terbukti meningkatkan kemampuan guru melalui berbagai jenis pelatihan dan komunitas belajar. Banyak guru saat ini bergabung dalam komunitas belajar berbasis daring dan luring untuk berbagi praktik pembelajaran yang baik, seperti penggunaan teknologi, pendekatan diferensiasi, dan strategi untuk meningkatkan literasi dan numerasi. Program pengembangan profesional berkelanjutan ini menunjukkan bahwa perbaikan pendidikan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga upaya pendidik sendiri. Di beberapa tempat, bahkan sekolah dan dunia bisnis mulai bekerja sama, terutama dalam pendidikan vokasi. Ini terlihat melalui kunjungan industri, program magang siswa, dan penyelarasan kurikulum untuk lebih sesuai dengan kebutuhan kerja.
Keterlibatan masyarakat semakin penting, terutama dalam membuat ekosistem pendidikan yang baik. Munculnya berbagai gerakan literasi di lingkungan masyarakat adalah contoh nyata. Gerakan-gerakan ini termasuk taman baca, komunitas belajar gratis, dan program donasi buku yang melibatkan relawan. Program masyarakat ini sangat membantu anak-anak di daerah dengan keterbatasan akses untuk tetap mendapatkan kesempatan belajar. Bahkan di era digital saat ini, kolaborasi juga menjadi lebih umum karena siswa dapat belajar dari berbagai sumber dan tidak terbatas pada ruang kelas.
Tanpa komitmen yang kuat untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan, upaya tersebut tidak akan berhasil dengan baik. Tidak hanya hasil belajar siswa dievaluasi, tetapi juga kebijakan, teknik pembelajaran, dan efektivitas program. Misalnya, asesmen diagnostik kini mulai digunakan di awal pembelajaran untuk memahami kebutuhan siswa dan membantu guru menyesuaikan strategi pengajaran. Selain itu, guru mulai menerapkan refleksi pembelajaran sebagai budaya baru untuk memperbaiki praktik mengajar mereka dari waktu ke waktu. (Rizal)











