Opini  

Lekra, Organisasi Kebudayaan Atau Politik?

TROL,-  Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) berdiri 17 Agustus 1950 di Jakarta. Tepat lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh DN. Aidit, M.S. Ashar, A.S. Dharta, dan Njoto. Lekra organ kesenian dan kebudayaan PKI yang sangat radikal, ekspansionis, dan ekstrim. Bukan sekadar lembaga kebudayaan bahkan menjelma bagai organisasi politik provokatif yang dengan bungkus kebudayaan.

Gagasan- gagasan ekstrimnya sudah ke lingkungan pendidikan masjid-masjid, dan balai-balai desa.

Lagu mars PKI Genjer-Genjer misalnya, menjadi lagu wajib pada setiap upacara politik. Pentas ludruk juga penuh lakon dan adegan untuk menjejalkan paham ateisme.

Massif dan ekstrimnya gerakan Lekra menghancurkan kesadaran relijius bangsa Indonesia dilakukan secara terus menerus dalam berbagai cara dan bentuk. Penyamaran kesucian air wudhu dengan air kencing pada lakon ludruk Gusti Allah Mantu salah satu contohnya.Contoh lainya pada lakon “Patine Gusti Allah”

Lekra menyudutkan ulama dengan fitnah, menyerang sastrawan muslim dan lain – lain. Ulama dan haji, misalnya, oleh Lekra disebut pengisap darah rakyat dan tuan tanah bengis yang harus disingkirkan.

Termasuk tuduhan kepada Buya Hamka sebagai Plagiat pada novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dituduh sebagai karya plagiat oleh sastrawan Lekra, Abdullah Said Patmadji.

Meski akhirnya tuduhan itu disanggah oleh HB Jassin, kritikus sastra Indonesia. “Hamka tidak plagiat. Karya Hamka adalah ungkapan pribadi dan pengalamannya sendiri,” tulis Jassin, paus sastra Indonesia itu

Ajakan PKI-Lekra agar masyarakat menyita tanah-tanah yang dimiliki tuan tanah, yang umumnya adalah para kiai, haji, organisasi Islam, merupakan cara keji yang disuntikan pada masyarakat termasuk menghancurkan kredibilitas para sastrawan dan seniman Islam.

Lakon Patine Gusti Allah, misalnya, menjadi salah satu judul pementasan ludruk dan ketoprak paling favorit dan sering dipertontonkan di masyarakat—meski sangat dibenci umat Islam.

Reaksi Lembaga Kebudayaan Islam

Kegaduhan ulah Lekra-PKI itu umat Islam pun bereaksi. Nahdlatul Ulama (NU) misalnya, melalui Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia) yang didirikan tahun 1950, melawan gerakan budaya PKI dengan membuat film-film religi. Usmar Ismail sutradara kenamaan itu aktif membuat film dan drama di Lesbumi guna mengimbangi kegiatan seni dan budaya dari Lekra.

Selanjutnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mendirikan HSBI (Himpunan Seniman dan Budayawan Islam) dengan tokoh-tokohnya yang sangat terkenal seperti Chairul Umam dan Arifin C Noor.

Sementara Muhammadiyah membuat Ikatan Seniman Budayawan Muhammadiyah (ISBM). Para tokoh ISBM yang terkenal antara lain Mohamad Diponegoro, Azwar AN, dan Yunan Helmi Nasution.

Lekra Bubar

Pada tahun 1962, para penulis Lekra dalam kolom budaya di Harian Rakjat dan Bintang Timur terlibat polemik kebudayaan dengan seniman non-Lekra yang menulis dalam Sastra, yang berpendapat sastra harus bebas dari politik. Polemik berikutnya dengan para penandatangan Manifes Kebudayaan tahun 1963. Setelah Peristiwa 1965, Lekra dibubarkan oleh pemerintahan Orde Baru seturut dengan pelarangan ajaran komunisme dan marxisme.(winarto, pimpinan forum indonesia pers, wakil ketua SWI Jatim, pemerhati kesenian)

 

*sumber : Gloria Truly Estrelita, FISIP UI, 2009 ” Lekra Dalam Politik Indonesia 1959-1966/era muslim.com/wikipedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *