Ketoprak Tirto Budoyo Hidupkan Malam Puncak Ulur-Ulur Campurdarat

TROL, Tulungagung – Ribuan warga dari empat desa di Kecamatan Campurdarat memadati kawasan Sirkuit Praga, Sabtu malam (17/5). Mereka larut dalam kemeriahan puncak upacara adat Ulur-Ulur yang tahun ini dikemas lebih spektakuler melalui pagelaran seni Ketoprak Tirto Budoyo dengan menghadirkan tokoh hiburan rakyat Joklithik dan Jokluthuk.

Sejak petang, masyarakat mulai berdatangan memenuhi area sirkuit. Suasana semakin semarak ketika rombongan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bersama Penjabat Sekretaris Daerah dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tiba di lokasi acara. Kehadiran jajaran pemerintah daerah disambut antusias warga dan para pegiat seni budaya yang telah memadati arena pertunjukan.

Malam puncak Ulur-Ulur dibuka dengan pementasan Ketoprak Tirto Budoyo yang membawakan lakon “Joklithik Mantu Wurung, Jokluthuk Ketiban Pulung”. Penampilan yang sarat humor khas budaya Jawa itu sukses mengundang tawa sekaligus menghibur ribuan penonton yang bertahan hingga larut malam.

Bagi masyarakat Campurdarat, tradisi Ulur-Ulur bukan sekadar agenda tahunan. Ritual warisan leluhur tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada alam dan Sang Pencipta, sekaligus bentuk harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan yang terus dijaga lintas generasi.

Dalam sambutannya, Plt Bupati Ahmad Baharudin menilai penyelenggaraan acara budaya di kawasan Sirkuit Praga menjadi langkah positif dalam membangun sinergi antarsektor di Tulungagung.

“Dengan digelarnya acara di Sirkuit Praga, kita melihat sinergi antara olahraga, pariwisata, dan budaya. Ini adalah modal besar untuk memajukan Tulungagung,” ucapnya.

Menurutnya, kegiatan budaya seperti Ulur-Ulur memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata daerah sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Gelaran yang berlangsung meriah itu pun menjadi bukti bahwa tradisi dan kesenian rakyat masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di tengah modernisasi, Ulur-Ulur tetap hidup sebagai ruang kebersamaan, hiburan, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya leluhur. (jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *