foto: irigasi petani mengering
TROL, Aceh Utara – Banjir hidrometeorologi yang melanda Aceh Utara pada 26 November 2025 meninggalkan kerusakan serius pada infrastruktur publik. Di Kecamatan Geureudong Pase, saluran irigasi Leubok Guha—sumber utama pengairan persawahan warga—hancur total, memicu lumpuhnya aktivitas pertanian dan terhentinya denyut ekonomi masyarakat.
Pantauan media pada Sabtu (31/1) menunjukkan sekitar satu kilometer saluran irigasi di empat desa tertimbun lumpur dan material banjir. Aliran air terputus, menyebabkan sawah-sawah warga mengering dan aktivitas tanam berhenti sepenuhnya.
Ketua Forum Geusyik Geureudong Pase, Muksin, mengatakan irigasi Leubok Guha merupakan satu-satunya sumber air bagi persawahan di wilayah tersebut. Menurut dia, kerusakan irigasi berdampak langsung pada perekonomian masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
“Irigasi ini nadi kehidupan petani Geureudong Pase. Jika tidak segera diperbaiki, masyarakat tidak bisa memulai kembali aktivitas bertani. Dampaknya langsung ke ekonomi warga,” kata Muksin.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, khususnya Dinas Pengairan, untuk segera melakukan penanganan darurat dan perbaikan permanen. “Ini bukan soal fasilitas biasa, tapi soal keberlangsungan hidup masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat setempat, Abdisyah. Ia menilai kerusakan irigasi di tengah kondisi pascabencana menjadi beban berlapis bagi petani. “Ekonomi warga sudah terpukul akibat banjir. Sekarang sawah tidak bisa digarap karena irigasi hancur. Ini pukulan telak bagi petani,” katanya.
Abdisyah meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat memberi perhatian serius terhadap pemulihan infrastruktur pertanian. “Perbaikan irigasi ini adalah upaya menyelamatkan nadi ekonomi masyarakat Geureudong Pase,” ujarnya.
Banjir bandang yang melanda Aceh Utara merusak berbagai infrastruktur, mulai dari jembatan, jalan, fasilitas pendidikan dan kesehatan, hingga rumah ibadah. Ribuan warga kehilangan rumah, lahan pertanian, ternak, dan sumber penghidupan.
Meski air banjir telah surut di Geureudong Pase, krisis belum berakhir. Sawah-sawah masih kering, irigasi tak berfungsi, dan petani menunggu kehadiran pemerintah untuk memulihkan kehidupan ekonomi mereka. (Rizal)











